Mengapa Joker adalah Film Terbaik 2019 Menurut Saya

Per hari ini, yaitu 19 Oktober 2019, nilai Joker di Rotten Tomatoes merosot jauh. Bahkan film ini kehilangan predikat freshnya karena rata-rata nilai dari kritikus hanya 68% saja. Untuk mendapatkan predikat fresh minimal skornya adalah 75%.

Yang menarik adalah, Captain Marvel mendapatkan predikat freshnya itu. Tapi tak apalah, saya sedang tidak ingin menyebar hate speech kepada Marvel hari ini.

Mari kita bahas saja soal Joker. Yang meskipun banyak dikritik oleh kritikus ROtten Tomatoes, tapi tetap saja bagi saya adalah film terbaik tahun ini. Ya, saya begitu percaya dirinya mengklaim hal itu. Padahal tahun ini belum berakhir. Masih ada film akhir tahun.

Tapi saya sudah sangat yakin.

Lalu mengapa film Joker adalah yang terbaik?

1. Film Joker memberikan cara pandang yang baru

Secara teoritis, film adalah sebuah karya sastra. Dan sama seperti karya sastra pada umumnya, film berfungsi sebagai penyampai pesan. Banyak cara penyampaian pesan yang bisa dilakukan oleh sebuah film. Dan penilaian sebuah film baik atau tidak, juga bisa sangat beragam dari pesan yang ingin disampaikan sebuah film.

Misal, film bergenre komedi akan kita anggap baik kalau film itu berhasil membuat kita tertawa terbahak-bahak. Secara kuantitatif, bahkan film komedi bisa dihitung LPM (Laugh Per Minute)nya untuk mengatakan film ini bagus atau tidak.

Atau, film bergenre drama cinta-cintaan, akan saya anggap sebagai sebuah film yang bagus apabila dia bisa membangkitkan rasa cinta saya. Dalam konteks yang lebay, beberapa film cinta yang superior seperti you are apple of my eye, a little thing called love, sassy girl, dll berhasil membuat saya jadi ingin buru-buru memeluk pacar saya dan mengatakan betapa saya mencintainya.

Film memang memainkan perasaan kita saat menontonnya. Kadang kita dibuat benci sekali dengan seseorang sehingga ketika akhirnya si orang itu kena batunya, kita sebagai penonton merasakan kegembiraan yang luar biasa (meskipun akting dari si aktor juga sangat berpengaruh di sini). Atau kadang kita diajak untuk berkenalan dengan orang yang dulunya sama sekali tidak kita kenal dan kemudian berempati kepadanya, hingga ketika dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, kita merasakan kebahagiaannya.

Sampai kita sadar bahwa itu cuma film dan kita harus kembali ke kehidupan nyata kita, dengan nasi warteg lagi, dan kasur kosan yang sempit lagi.

Nah, selain sebagai penyampai pesan yang bersifat hiburan, film dalam tingkatan yang lebih tinggi (menurut saya) juga memberikan efek kepada penontonnya sebuah pengetahuan baru. Film memberikan informasi (dengan dibumbui drama tentunya) yang kemudian menciptakan forum diskusi yang menarik setelah kita melihatnya. Contoh dari film-film seperti ini adalah Interstellar, Memento, Gie, dll

Pada film Interstellar, saya yang dulunya tak tahu menahu soal paradok waktu, soal jagung yang tahan terhadap perubahan iklim, dan soal black hole, menjadi tahu dan tertarik untuk belajar lebih lanjut lagi. Bagi saya itu adalah sesuatu yang menarik dan memberikan ilmu baru. Sangat baru.

Tapi…

Di atas itu, masih ada tingkatan film lagi. Yang menurut saya melebihi 2 jenis yang saya sebutkan sebelumnya. Yaitu film yang mengubah cara pandang penontonnya terhadap sesuatu yang mungkin sebelumnya dia sudah tahu.

Ya, bedanya antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya adalah, untuk yang sebelumnya, penonton benar-benar seperti gelas kosong, tidak tahu apa-apa soal hal tersebut, lalu film muncul dan memberi tahunya. Sedangkan yang terakhir ini, penonton sudah memiliki air fanta di dalam gelasnya. Dan film mencoba mengganti fanta itu dengan sprite. Tugas yang lebih susah, dan bagi saya benar-benar menarik.

Film Joker, menurut pandangan saya, masuk dalam kategori ini.

Sebelum menonton, saya tahu tentang Joker. Saya tahu bahwa dia gila. Saya tidak bisa memahami setiap tindakan jahatnya, tapi saya menyetujuinya karena saya menganggap dia gila. Tapi setelah menonton film…

Cara saya memandang tokoh Joker bisa dibilang berubah.

Kenapa? Karena alasan yang kedua ini:

2. Joker 2019 seolah menjadi Prequel Joker The Dark Knight yang sinting

Bagi saya pribadi, menonton film Joker 2019 ini, tidak bisa tidak, sangat dipengaruhi oleh Joker favorit saya sepanjang masa: Joker Heath Ledger. Selain karena Ledger adalah pemain pria pertama yang saya tonton filmnya di 10 thing i hate about you. (Basically, that movie is the first movie i ever watched from beginning until finish.) Juga karena Joker di situ memang sinting. Edan. Nggak bisa dinalar tindakannya.

Pada Joker versi The Dark Knight, saya benar-benar dibuat jengkel dan marah dengan tindakan Joker. Ketika dia memasuki sarang mafia. Ketika dia nyulik Harvey, ketika dia meledakkan rumah sakit, ketika dia bakar-bakar duit, ketika dia bilang ke Batman: I dont want to kill you, you complete me. Semuanya menurut saya sangat absurd, unpredictable, dan satu-satunya konklusi yang bisa saya dapatkan hanyalah: dia gila. Titik.

Tapi Joker 2019 ini seolah menjadi benang merah yang pas untuk menjelaskan kegilaan JOker di THe Dark Knight. Bagi saya, apa yang terjadi di film Joker Todd Philips ini, sangat-sangat bisa menjelaskan kenapa Joker di The Dark Knight menjadi sangat brutal dan sinting.

Dan efeknya, seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, membuat saya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap Joker.

Dulu, ketika Joker di hajar Batman di waktu interogasi dan di akhir film, rasanya sangat memuaskan nafsu saya. “Rasakan!” kata saya dalam hati waktu itu.

Tapi sekarang, saya berpikir sebaliknya. “Stop it Batman. Stop! Your society made it! He don’t deserve that!” kata saya dalam hati sekarang.

Dan alasan terakhir mengapa Joker begitu bagus adalah:

3. Tanpa glorifikasi pesan dan background yang saya sampaikan di atas, filmnya memang bagus kok!

Yap. Katakanlah saya lepas atribut subyektifitas saya pada tokoh Joker di atas. Mari kita bicarakan hal-hal teknisnya saja:

Alur cerita dan karakter developmentnya ditulis secara rapi dan bagus banget.

Scoring lagu-lagunya terasa pas dan cocok. Tidak kalah dengan Alan Silvestri lah.

Setting tempatnya sangat believable. Kita bisa melihat AMerika (Gotham) tahun 80an di film ini dengan sangat perfect.

Aktingnya Joaquin Phoenix…. saya rasa bagian ini sudah tidak perlu dibahas lah ya. Auto Oscar sepertinya.

Bagi saya puncak akting Joaquin adalah caranya dia tertawa. Kalau saya perhatikan lebih lekat, cara tertawanya dia saat disebabkan penyakitnya dan saat dia benar-benar tertawa, itu beda 180 derajat. Dan bagi saya itu gila. Detail kecil yang membuat saya kagum.

So, kalau kamu, gimana menurutmu soal film Joker?

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Pertama Kali Ikut Beauty Contest ERP

Beberapa waktu lalu, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti proses tender yang cukup unik: beauty contest secara open presentasi.

Maksudnya apa? Kurang lebih, kita sebagai peserta lelang diadu secara buka-bukaan untuk mengobrolkan produk kita secara teknis (tidak membicarakan harga sama sekali).

Kenapa unik? Karena biasanya presentasi dilakukan secara tertutup. Tapi kali ini, semua serba buka-bukaan.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

100 Inspirasi Kado Nikah untuk Sahabat

Beberapa waktu lalu teman saya menikah. Lalu karena dia sangat berarti bagi saya, saya ingin sekali memberikan hadiah yang spesial untuknya. Tapi entah kenapa, saat uang sudah terkumpul, saya justru ngeblank mau ngasih hadiah apa. Memang, otak manusia selalu disiapkan untuk tidak bisa digunakan saat dibutuhkan, tapi mendadak menjadi liar saat badan kita sudah di atas kasur dan ingin tidur.

Saya yakin, hal ini tidak terjadi pada saya seorang. Semua orang pasti pernah mengalami kebingungan saat sudah di parkiran, menuju tempat beli hadiah, atau saat diskusi grup tiba-tiba bingung ingin memberikan apa, atau saat akan selingkuh dengan calon pengantin, lalu bingung akan memberikan hadiah apa untuk perpisahan dengannya.

Tenang, tulisan ini saya rancang untuk itu.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Gag jelas

Jika Kamu Punya Waktu Senggang, Jangan Baca Puisi Ini

cute_apple_by_lovesumer-d3863om

Kata-kata tidak pernah menghianati pengucapnya. Begitupun tatapan matamu yang tidak pernah menghianati hatimu.

Melihat matamu, segala kebohongan tidak akan bisa terjadi. Hanya laki-laki bodoh yang berani membuat mata itu berkaca-kaca.

Sayangnya, mungkin saya adalah lelaki bodoh itu.

Lelaki bodohmu.

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis puisi. Sejauh yang saya ingat, tulisan terpanjang saya adalah balasan whatsapp kepada klien yang menjelaskan kenapa dia harus tetap bersabar. Tidak ada kata puitis, tidak ada tulisan sebab akibat yang kususun berdasarkan bacaan berbulan-bulan yang tak kunjung usai.

Yang ada hanyalah perasaan terburu-buru ini.

Perasaan terburu-buru untuk bertemu denganmu.

Sialnya, kamu mungkin tidak seterburu-buru itu. Atau setidaknya, itu yang kupikirkan.

Malam ini saya ingin menyapamu lagi, dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Meskipun pada kenyataannya, kita berdua tahu, bahwa tidak ada yang baik-baik saja.

Tidak ada apa-apa…

Hanya kekosongan.

Jadi, saya mohon, kalau kamu senggang, jangan baca puisi ini, tapi balaslah apa yang menunggu untuk dibalas.

Kalau kamu senggang, jangan baca puisi ini, tapi datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.

Sekali lagi.

Yogyakarta, 4 Agustus 2018

Tinggalkan komentar

Filed under Full fiksi

“Dialog Ini Terus Berputar di Kepala Saya” Dan Puisi Lainnya

IMG_20160816_175538.jpg

Dialog Ini Terus Berputar di Kepala Saya

Oleh: Agfian Muntaha

Versi 1

“Mas, bagaimana kabarmu?”

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Full fiksi