Never Ending Learning

Dunia terus berkembang, dan saya termasuk orang yang tidak pernah percaya 100% pada prediksi orang-orang tentang bagaimana dunia akan bekerja. Bahkan jika prediksi itu diucapkan oleh ahlinya ahli sekalipun.

Di tahun 2008, ketika saya masuk kuliah jurusan komunikasi, semua orang bilang bahwa Media akan menjadi penguasa masa depan. Tapi, tidak ada yang bilang bahwa di masa depan, semua orang akan bisa menjadi media itu sendiri, sehingga pekerja media menjadi tidak sepowerfull zaman tahun 2000-an.

Di tahun 2012, ketika saya belajar dan paham sedikit tentang SEO (Search Engine Optimization), SMO (Social Media Optimization), dan mulai paham pola-pola aneh untuk mendapatkan organic view di web (seperti kalau dulu, cuman main keyword meta, atau mainkan inbound dan outbound link, atau yang paling absurd, kasih aja konten untuk download jadwal Imsak menjelang puasa), saya merasa sudah bisa menggenggam dunia. Ternyata, sekarang, banyak prinsip yang berubah. Entah karena cara main Google yang berubah (google dance), atau ya sesimpel bahwa lingkungan hidup kita memang sudah berubah.

Dulu menguasai Photoshop, Ilustrator, Corel butuh proses yang lama, sekarang orang dapat belajar menggunakan canva dengan waktu yang lebih cepat, dan bisa saja hasilnya lebih baik.

And for god sake, don’t make me start to compare between adobe after effect with Tik Tok. Menyebalkan, tapi harus diakui banyak spektrum teknologi yang disikat dari masa ke masa.

Karena itulah saya juga tidak percaya 100% ketika orang bilang bahwa masa depan akan dikuasai oleh engineer, karena pemahaman terhadap coding. Dunia sudah mengajarkan, bahwa otomatisasi bisa terjadi di mana saja, termasuk di dunia coding. Engineer yang bikin situs web dengan coding mulai dari 0 dengan waktu berhari-hari (atau bulan?) bisa saja kalah dengan orang awam yang belajar mengoperasikan wordpress dan menyiapkan situsnya dalam hitungan jam (atau menit?)

Figma juga mulai menyatukan dua komponen yang bikin orang menangis duluan sebelum belajar: coding dan desain grafis. Dibandingkan cerita tahun 2000an tentang bagaimana orang membuat sebuah aplikasi, apa yang ada di Figma sekarang adalah kegilaan maksimal.

dan begitu seterusnya pada setiap cabang ilmu, pada setiap skill yang berkembang, pada setiap kebiasaan orang-orang. Yang saya percayai, hanya orang-orang yang mau belajar dengan tulus saja yang akan bisa bertahan. Saya mengenal seorang pensiunan direksi BUMN besar yang kemudian bekerja menjadi advisor di BUMN lain, yang meskipun usianya sudah lanjut, tetap tidak mau ketinggalan dengan teknologi yang ada, dengan ilmu yang ada.

Mungkin begitulah seharusnya kita.

Memang akan melelahkan sih. Setiap hari ada saja topik yang menggoda untuk dipelajari, Web 3, Desentralisasi Server, fitur-fitur baru Canva, fitur-fitur baru TikTok, Metaverse, Bank Digital, Neo Bank, Crypto Currency, NFT, Omricon, dan masih banyak lagii.

Untuk itu, mari kita terus belajar.

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s