Pertama Kali Ikut Beauty Contest ERP

Beberapa waktu lalu, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti proses tender yang cukup unik: beauty contest secara open presentasi.

Maksudnya apa? Kurang lebih, kita sebagai peserta lelang diadu secara buka-bukaan untuk mengobrolkan produk kita secara teknis (tidak membicarakan harga sama sekali).

Kenapa unik? Karena biasanya presentasi dilakukan secara tertutup. Tapi kali ini, semua serba buka-bukaan.

Dan yang membuatnya jadi semakin menantang adalah karena saingan kami di sini adalah pemain international yang sudah masuk tier 1. Saingan pertama adalah penghuni big 5 di industri kami, dan sedang naik daun di seluruh dunia. Untung yang datang hanya perwakilan di Indonesia saja. Saingan kedua bahkan adalah yang terbesar kedua di dunia. Yap, hanya satu produk saja yang lebih baik dari dia.

Dan sebagai informasi, produk yang saya bawa adalah produk asli Indonesia dari startup yang akan jadi sangat besar (tapi sekarang masih biasa-biasa saja), dan umur produknya juga masih sangat muda dibanding dua yang saya sebutkan di atas tadi.

Jadi secara teknis aplikasi, bisa dibilang, i am pretty fucked up.

Jujur saja, biasanya kami juga sudah pernah beberapa kali bertemu dengan produk-produk itu, dan beberapa kali menang, beberapa kali kalah. Tapi penyebab menangnya selalu sama: harga kami lebih murah, hehe.

Nah, kesempatan kali ini sama sekali tidak membicarakan harga (setidaknya belum). Sehingga saya harus bisa membela harga diri produk kami secara teknis, untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi calon klien.

Dan bagi saya, hal ini sangat menarik.

Karena bagi saya, ini adalah pertama kalinya saya bisa melihat cara orang lain mempresentasikan produk serupa, dan belajar beberapa trik yang dia lakukan. Selain itu juga membuat saya bisa mengetahui dan menengok ke belakang, sudah sejauh apa pencapaian saya. Dari bocah yang dulunya tidak tahu istilah forklift dan stock opname, hingga sekarang bertingkah seolah-olah menjadi orang yang paling paham di ruangan tersebut.

Not easy, but i’ve made it this far.

Jalannya Presentasi

Nah, akhirnya D-Day datang juga. Akhirnya saya datang bersama tim, menuju tempat yang dijanjikan. Dan kita pun mengambil nomor antrian. 3 out of 3. Kita dapat kesempatan presentasi paling akhir.

Presentasi dari produk yang pertama. Seperti yang saya bilang, adalah best 5 di seluruh dunia, (dan mungkin tahun ini masuk best 4, menggeser nomor 4). Produknya sungguh bagus. User Interfacenya sangat kekinian. Teknologinya canggih dan bikin saya geleng-geleng. Serta yang menarik adalah ada produk di dalam produk, memunculkan sistem notifikasi dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. It really hurt just to hear them.

Hanya saja, sebagai seorang professional saya harus mencari celah. Ada banyak poin yang saya tahu akan menjadi war i cannot win jika saya nyalakan api perangnya. Sehingga saya harus melihat dari sisi yang lain. Dan tentu saja ketemu.

Presenternya adalah seorang sales yang sangat mengerti produknya. Tapi saya yakin dia bukan implementer yang menjalankannya secara real di lapangan. Artinya, dia sangat paham fitur produknya, tapi dia tidak terlalu paham proses bisnis di lapangan. Dan mungkin itulah yang ingin saya manfaatkan.

Dan kesempatan presenter pertama untuk presentasi pun selesai. Selanjutnya masuk ke peserta lelang kedua.

Nah, peserta lelang kedua ini menggunakan nama produk terbesar kedua di industri ini, dan saya yakin pasti produknya sangat bagus.

Hanya saja, ternyata saat presentasi diketahui bahwa dia hanya “menggunakan teknologi” dari produk itu saja, sedangkan secara aplikasi dia mengembangkan produknya sendiri. Itulah yang menyebabkan harganya bisa murah. Jauh lebih murah dari produk kami bahkan.

Tapi saat melihat presentasinya, saya rasa saya bisa mencoret peserta lelang kedua dari pesaing utama. Karena selain produknya belum firm, dia juga menjanjikan unlimited custom. Yap, anda tidak salah dengar, unlimited custom. Engineer saya pasti sudah muntah kalau saya menjanjikan hal tersebut ke calon konsumen.

Dan akhirnya tiba kesempatan saya.

Seperti celah yang sudah saya tangkap, saya membalik arah pembicaraan dari sekedar membicarakan produk menjadi sebuah pembicaraan system yang membantu bisnis proses. Saya berbicara dengan bahasa mereka, dan beberapa memang ada yang tertarik. Pertanyaan silih berganti datang, bahkan sampai menyerempet sedikit konsultasi tentang alur bisnis, tentang pencatatan di akunting yang seharusnya seperti apa, dan banyak hal lainnya.

Menarik, tapi sepertinya tidak cukup meyakinkan.

Karena beberapa hari setelah beauty contest itu, saya dapat info bahwa direkturnya tertarik dengan produk saya, tapi manajer di lapangan pada lebih suka dengan produknya peserta yang pertama.

Menarik, tapi melelahkan.

Sepertinya saya memang harus banyak belajar lagi, hehe.

Oke, jadi itu saja cerita yang bisa saya share. Terima kasih sudah membaca sampai sini. Semoga bahagia terus kawan!

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s