Tag Archives: Indonesia

Mahalnya Pencarian Sebuah Fakta

Fakta di Indonesia itu layaknya tulisan pensil di atas kertas putih. Asalkan memiliki penghapus karet dan pensil lainnya, seseorang sudah bisa mengubah jalan fakta itu sendiri…

***

Tak terasa, dunia sekarang sudah memasuki bulan oktober 2011, waktu seakan berjalan dengan cepat dan luar biasa. Tentunya, tidak ada salahnya jika saya sedikit mengenang kejadian pada bulan september kemarin. Karena kita harus selalu ingat akan masa lalu kita. Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kalau kata Bung Karno. Dengan mengingat sejarah, maka awareness kita akan lebih terjaga. Dan orang yang memiliki kesdaran yang tinggi, akan lebih mudah mensyukuri hidupnya.

Langsung saja, mari kita bercerita tentang hal-hal yang saya alami pada buan september lalu. Dan ternyata, saat menyebut kata bulan lalu, maka yang paling terngiang di telinga saya adalah pengalaman saya meliput untuk Swara Kampus. Sebuah rubrik mingguan KR yang merupakan sebuah wadah apresiasi bagi mahasiswa Yogyakarta untuk berkarya di surat kabar nomor satu di Yogyakarta itu.

Pada kesempatan saya meliput itu, saya tidak akan melupakan salah satu proses terindah yang terlewati, yaitu proses Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Sudahkah Indonesia Memanfaatkan SDMnya yang berkualitas

roysuryo

Hmm… pertanyaan ini langsung muncul di benak saya begitu melihat kasus Ananda Mikola dan Marcella Zalianty. Yang satu adalah pembalap yang bisa dibilang terbaik di Indonesia, dan satunya lagi, artis dengan rapor hijau dalam dunia selebriti Indonesia. Mereka adalah SDM berkualitas yang terdapat di Indonesia dan saya yakin mempunyai “source” yang memadai untuk menjadi teladan bagi para pemuda lainnya di Indonesia. Namun, tampaknya ada yang salah dalam pengembangan mereka, sehingga bisa melakukan hal keji itu, walaupun belum terbukti secara penuh di pengadilan.

Namun, sejujurnya yang menurut saya paling menarik dari kasus besar ini adalah kedatangan pihak dari luar. Dan yang saya khususkan di sini adalah seorang Roy Suryo, bukan pembalap senior yang ikut juga dalam masalah ini, ataupun orang lain.

Mengapa Roy Suryo? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan anda begitu membaca paragraf saya di atas. Dan jawabannya pun cukup mudah, Roy Suryo adalah salah satu SDM paling berkualitas yang ada di Indonesia saat ini. Ya, sejujurnya pun, judul di atas saya maksudkan untuk saudara Roy Suryo. Bukan untuk Ananda maupun Marcella.

KRMT Roy Suryo Notodiprojo atau sering dipanggil Roy Suryo (lahir di Yogyakarta, 18 Juli 1968) adalah seorang pengurus Partai Demokrat di bidang Komunikasi dan Informatika. Roy kerap menjadi narasumber di berbagai media massa Indonesia untuk bidang teknologi informasi, fotografi, dan multimedia. Roy pernah menjadi pembawa acara e-Lifestyle di Metro TV selama lima tahun.

Oleh media massa Indonesia ia sering dijuluki sebagai pakar informatika, multimedia, dan telematika.

Roy Suryo menyelesaikan kuliah pada Jurusan Ilmu Komunikasi UGM (1991-2001), kemudian mengajar di Jurusan Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia tahun 1994-2004. Ia juga pernah tercatat sebagai pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM, mengajar fotografi untuk beberapa semester namun tidak berstatus sebagai dosen tetap UGM.

Roy Suryo sering meraih penghargaan dari lomba fotografi tingkat nasional serta penghargaan dari berbagai pihak, di antaranya dari Kadin bidang Telematika, Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Majalah Trend Digital, Telkomsel, dan Garuda Indonesia. Selain di bidang Telematika, ia juga ikut dalam kepengurusan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia, Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia, juga tercatat sebagai salah satu konsultan teknis di situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Terakhir Ia tercatat sebagai ketua departemen komunikasi dan informasi di Partai Demokrat dan penanggung jawab redaksi di situs resmi Partai Demokrat. (WWW.wikipedia.org)

Sebagai penjelasan dan pengingat, Roy Suryo pada waktu itu tiba-tiba ikut memberi bukti kepada wartawan tentang foto-foto yang diambil oleh penyekap Agung (korban) dengan telepon celullar mereka yang kemudian dirusak. Akan tetapi Roy dapat membukanya kembali dengan kecerdasan dan kemampuan telematikanya. Akan tetapi, respon yang mengalir dari usaha kerasnya itu ternyata malah negatif. Bahkan pengacara dari pihak tersangka pun sempat mengancam akan melaporkan Roy ke pihak berwajib. Dengan alasan, Roy seharusnya tidak memperlihatkan bukti di luar persidangan. Padahal, setahu saya, ada beberapa pengacara juga yang pernah melakukan hal serupa. Entah mana yang benar, saya sebagai bukan orang hukum tidak dapat memvonis masalah ini.

Tapi yang saya amati di sini adalah, SDM luar biasa milik Roy mengapa mendapat terpaan dan hujatan dari bangsa Indonesia sendiri? Karena selama ini saya melihat banyak sekali orang-orang yang “memusuhi” Roy. Bukankah seharusnya kita mendukungnya?

Yang saya paling sesalkan adalah pernyataan dalam salah satu acara berita di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu. Saat itu mereka mengatakan “Apakah perbuatan Roy Suryo tersebut hanya berisi muatan politik semata? Untuk mendongkrak popularitasnya menjelang Pemilu 2009, mengingat dia akan menjadi salah satu caleg di situ.”, mungkin beberapa diantara anda akan setuju dengan pernyataan berita tersebut. Namun, coba kita lihat lagi, bagaimana kalau stasiun televisi swasta itu adalah milik orang yang berkepentingan dalam hal politik? –dan memang begitu adanya-. Bukankah kita dapat mencium hal yang tidak beres di sini. Bagaimana kalau stasiun itu mencoba untuk menyingkirkan saingan politik pemiliknya?

Dan menurut saya, memang itulah salah satu kelamahan bangsa ini. Sebagai bangsa yang tergolong baru dalam hal demokrasi, Indonesia memang belum cukuo dewasa dalam berpolitik. Dan karenanya, seringkali kepentingan politik membuat kepentingan lain terkalahkan.

Kasus Roy Suryo adalah contohnya. Dengan kualitas SDM yang dimilikinya, seharusnya rakyat Indonesia mendukungnya. Namun, kebanyakan orang malah mempertanyakan ke”pakar’annya. Hal yang menurut saya tidak begitu penting. Siapa yang dapat menjamin bahwa segala pertanyaan miring terhadap dirinya itu tidak disopiri oleh pihak politik? Tidak ada.

Indonesia yang sering mengeluh bahwa SDM yang dimilikinya terbatas. Namun ternyata, SDM berkualitas yang terbatas itu justru tidak mendapat dukungan. Apakah ini yang kita inginkan??

Jogja, 20 Des ’08, 16.37 WIB

Ditulis dengan segala kelelahanku di kamarku

Dengan ditemani lagu-lagu Avril lavigne

Mohon maaf apabila ada kesalahan

4 Komentar

Filed under Freedom to speak