Category Archives: outsider

Graveyard Blues Vodkabilly

graveyard blues vodkabilly

One, Two

Langit masih mendung di jalanan sekitar Makamhaji. Desa terkenal yang entah kenapa diidentikan dengan kuburan. Mungkin karena namanya, seakan mengandung frase makam dan haji, makamnya para haji. Ah sudahlah, aku terlalu lelah untuk membahas salah kaprahnya pandangan orang terhadap desaku tercinta ini.

Langit masih mendung di sekitar Solo, dengan guntur sesekali menyambar. Seperinya, hujan tinggal menunggu waktu saja. Seakan-akan, para air di awan kini sedang dalam posisi ‘bersedia’ untuk melesat ke bumi. Aku sudah merasakan hawa dingin mereka di sini, di kamar mungilku yang bercat ungu, bekas kamar pengantin kakakku.

Namun, entah kenapa, hujan belum kunjung turun…

Kusempatkan untuk mengeringkan cucianku yang sempat tertunda. Lalu, kusambung lagi dengan mengisi gelas Tupperwareku dengan air putih, untuk menemaniku menulis di sore abu-abu ini.

Dan sekarang, ijinkanlah aku untuk segera mulai menulis. Sebuah cerita, tentang kebodohan masa lalu…

One,
Two, Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under outsider

Anger INC


Lagu ini sejatinya bukanlah yang termasuk dalam best of ten dalam list saya saat mendengarkan lagu SID. Walaupun sebenarnya musiknya tetap sangat luar biasa dan masih tetap dalam ciri khas SID, namun dalam beberapa hal menurut saya lagu ini tidak sebagus lagu-lagu andalan SID yang terkenal. Walaupun begitu, tetap saja seperti yang saya katakan tadi, this song is awesome!

Dan terlepas dari penilaian saya tadi, tetap saja ada hal menarik yang terkandung dalam lagu ini. Yang paling special di sini adalah lead vocalnya. Yap, that’s right brother, the main singer in this osng is Eka Rock. Padahal, biasanya bassist SID ini hanya menjadi backing vocal dari Bobby Kool. Dan tentu saja, ini membuat saya sebagai pendengar lagu-lagu SID jadi makin tidak bosan. Suara Eka sendiri bisa dibilang sangat khas dan berbeda dengan Bobby dan Jerink, sehingga karakter lagu ini pun menjadi terlihat makin menonjol. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under outsider

All Angels Cry

Lagu ini adalah salah satu lagu dari SID yang berbahasa Inggris namun langsung masuk dalam hati saya. Musiknya yang catchi dan judulnya yang indah membuat saya sangat tertarik dengan lagu ini. Apalagi setelah saya mendalami liriknya di atas. Selain pemilihan kosa kata yang bagus dan mentereng, makna yang terkandung didalamnya pun cukup menarik bagi saya. Secara jujur, saya sangat suka dengan lagu itu. Lalu, apa makna dari lagu ini menurut saya? Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under outsider

Bukan Pahlawan

Sedikit bernostalgia, lagu ini merupakan lagu dari SID yang pertama kali saya dengarkan, dan jujur, saya merasa lagu ini adalah yang terbaik dari SID. Apalagi dalam video klipnya, efek saat intro ditambah sedikit puisi indah dari anak kecil menjadi ornament-ornamen yang semakin memperindah lagu SID. Dan mungkin dari situ, saya merasakan kehebatan SID dan mulai menaruh perhatian lebih terhadap mereka. Thanks to bukan pahlawan!
Ok. Sekarang kita masuk ke intinya, adalah bagaimana pandangan saya tentang pengertian dari lagu bukan pahlawan ini. Sejujurnya, lirik lagu ini cukup berat dan puitis. Dengan kata-kata pemabuk dipelukan pelacur jalanan, bermahkotakan duri tajam, dan kata-kata lainnya, sungguh berat dan filosofis. Baca lebih lanjut

5 Komentar

Filed under outsider

Menyambangi Kuta Rock City

foto-rip-curl-festival

“Terima kasih Rip Curl! Terima kasih WWF! Hentikan makan penyu ya!” kata bassis Eka Rock dari Superman Is Dead.

“Ganti sama babi saja. Babi bisa dimakan. Penyu itu lucu. Lebih baik kita minum Vodkabilly!” lanjut gitaris Eka Rock sambil tertawa.

Dan Superman Is Dead pun membawakan lagu “Vodkabilly.” Angin kencang berhembus di Half Way, Kuta, Bali. Pukul sembilan, Minggu [26/10] malam waktu setempat, area depan panggung yang ada di pinggir pantai itu terlihat padat—pihak media relations melaporkan ada sekira enam ribu orang menjadi penonton. Ini adalah panggung pertunjukkan musik yang digelar sebagai penutup rangkaian Rip Curl Surf and Music Festival. Beberapa orang kulit putih terlihat di area belakang panggung. Pemandangan seperti ini sering terlihat di pertunjukkan SID. Perempuan-perempuan menarik yang berdandan ala rockabilly [tato dengan motif dadu, atau burung, serta dandanan agak menor ala tahun ’50-an] menjadi daya tarik tersendiri dari rombongan duta Rockabali tersebut. Dan malam itu, jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan pertunjukkan mereka di Jakarta misalnya.

Bali sedang padat dengan kegiatan. Selain acara yang digelar Rip Curl, di sana juga sudah digelar Kuta Karnival selama seminggu. Ada juga Asian Beach Games yang menarik minat banyak wisatawan dan jurnalis lokal. Jalan-jalan di sekitar Kuta, Legian, dan Seminyak padat dengan kendaraan. Kemacetan yang biarpun tak sepadat Jakarta tapi tetap mengesalkan terlihat di beberapa tempat. Bukan hanya karena jalan-jalan menjadi sempit oleh kendaraan yang diparkir, tapi karena galian tanah yang terlihat di banyak jalan di sana.

Empat jam sebelumnya, sekira pukul lima sore, WWF mengadakan acara pelepasan anak penyu di pinggir pantai, sesaat setelah pengumuman hasil lomba selancar yang dimenangkan oleh Dede Suryana, peselancar dari Cimaja, Jawa Barat. Sejak siang, WWF memberi kesempatan kepada orang-orang untuk mengadopsi anak penyu dengan menyumbangkan uang sebesar seratus ribu rupiah. Para pengadopsi itu ikut melepaskan anak penyu ke pantai. Kelompok capoiera juga ikut memeriahkan suasana pantai. Melompat. Menjurus. Menari. Menyanyi. Menunjukkan keahlian mereka pada orang-orang yang kebetulan ada di pantai.

Hujan sempat mengguyur Denpasar pukul enam sore. Ketika pertunjukkan musik dimulai sejam kemudian, hujan sudah reda. Band-band lokal yang ikut tampil di antaranya Discotion Pil dan Nymphea. Crowd menyambut dengan cukup antusias penampilan band-band pembuka itu. Walaupun tentu saja, sambutan yang lebih meriah didapat oleh SID dan Netral yang tampil sesudahnya.

“Kami sangat menolak RUU APP. They’re fuckin stupid! Gimana kalo Anda ditangkap gara-gara melirik istri orang?” kata Eka setelah membawakan lagu “Vodkabilly.” Para penonton semakin menggila mendengar orasi Eka. Mereka bertepuk tangan. Ikut berteriak seakan menyetujui pendapat Eka. Beberapa kali, di Bali memang digelar aksi menentang RUU APP. Para personel SID termasuk di antara mereka yang ada di barisan penolak. Ancaman keluar dari Republik Indonesia bahkan sempat dilontarkan para demonstran dari Bali. “Ini lagu ‘Bukan Pahlawan!’” teriak Eka.

Di tengah-tengah set, SID mengajak seorang perempuan kulit putih untuk berkolaborasi. Dandanannya tentu saja khas rockabilly. Mereka berduet membawaka lagu baru SID yang rencananya akan dirilis bulan Desember tahun ini. Menjelang set berakhir, drummer Jerinx seperti biasa tampil ke depan, membawakan “Lady Rose.”

Netral tampil setelah SID. Ribuan orang yang sebelumnya menyanyikan lagu-lagu SID, kini ikut menyanyikan lagu-lagu Netral. Sing along terdengar di hampir setiap lagu. Ini menunjukkan bahwa mereka yang datang cinta benar kepada siapa yang sedang ditontonnya malam itu. Pukul sebelas malam acara berakhir. Tapi kemeriahan belum berhenti di sana. Sepanjang jalan Kuta macet. Bagi sebagian orang, pesta baru saja akan dimulai.

2 Komentar

Filed under outsider