“Dialog Ini Terus Berputar di Kepala Saya” Dan Puisi Lainnya

IMG_20160816_175538.jpg

Dialog Ini Terus Berputar di Kepala Saya

Oleh: Agfian Muntaha

Versi 1

“Mas, bagaimana kabarmu?”

“Kabarku baik-baik saja, dek. Tapi tidak akan sebaik dibanding saat kita bersama. Dulu.”

“Memang apanya yang berbeda? Bukankah hidup kita tetap berjalan seperti biasa?”

“Bagimu mungkin iya, tapi tidak bagiku.”

“Kenapa?”

“Aku rasa kamu sudah tahu jawabnya.”

“Aku bukan cenayang yang bisa tahu isi hatimu, mas. Saat ini dan juga dulu, aku tidak pernah tahu. Kamu salah jika mengira aku tahu jawabnya. Aku tidak tahu. Tidak sekarang, tidak juga dulu. Tidak pernah.”

“Kamu tahu, tapi kamu menolak untuk mengetahuinya. Kamu memilih untuk tidak tahu.”

“Ahh, ngobrol denganmu selalu berakhir sama, tidak jelas.”

“Aku sudah berusaha membuat semuanya menjadi jelas, kamulah yang membuatnya jadi tidak jelas.”

“Jadi ini semua salahku?”

“Kamu tidak pernah salah.”

“Lagi-lagi tidak jelas.”

“Apanya?”

“Kata-katamu. Kenapa sih kamu tidak mengatakan semuanya secara langsung saja, kenapa harus berputar-putar seperti itu. Kamu ingin terdengar seperti pujangga?”

“Oh, jadi menurutmu kata-kataku romantis?”

“Kamu sudah tahu jawabnya.”

“Aku merasa tahu, iya. Tapi apakah aku benar-benar tahu?”

“Sudahlah, mas.”

“Dulu aku benar-benar merasa tahu segalanya tentang dirimu, tapi seiring berjalannya waktu, aku justru sadar bahwa aku tidak tahu apapun tentang dirimu. Semua yang terlihat di depanku adalah fana.”

“Sudah, cukup. Kamu membuatku menyesal menanyakan kabarmu.”

“…”

“Selamat tinggal!”

Versi 2

“Mas, bagaimana kabarmu?”

“Baik. Baik sekali malah. Semenjak tidak bersamamu, segalanya menjadi jauh lebih baik.”

“Syukurlah.”

“Kamu tidak marah?”

“Kenapa harus marah? Kamu menjadi orang yang lebih baik tanpa aku, berarti keputusan kita berpisah dulu, benar kan?”

“Sejujurnya, keputusan untuk berpisah bukan dibuat oleh kita, tapi kamu seorang.”

“Kenapa begitu? Bukankah kamu yang meminta dengan tegas untuk berpisah? Kenapa sekarang ini menjadi tanggung jawabku seorang?”

“Kamu tahu alasannya lebih dari siapapun.”

“Ya, aku tahu alasannya. Tapi tetap saja, kamulah yang memutuskan untuk berpisah, dan aku mengiyakan. Ini adalah keputusan kita.”

“Itu tidak ada bedanya dengan segerombolan orang yang mendatangimu, lalu memaksamu mengakui hal-hal di atas materai. Aku tidak punya pilihan saat itu.”

“Tentu saja kamu punya, kamu hanya pura-pura tidak melihatnya, Mas!”

“Perasaanku sudah terlanjur hancur waktu itu. Tidak ada gunanya aku merawat apa yang sudah tidak ada.”

“Ya, kamu benar. Dan nyatanya, sekarang kamu sudah jauh lebih baik tanpa hadirnya diriku.”

“Mungkin memang seperti itu.”

“Selamat tinggal!!”

Versi 3

“Mas, bagaimana kabarmu?”

“Aku hancur tentu saja, tanpamu aku hanyalah butiran debu. Kumohon kembalilah padaku, saat ini juga. Ayo bersama kembali, kita lanjutkan mimpi yang tertunda kemarin.”

“Selamat tinggal!!!”

Selesai.

Kenyataannya, mau berapa kali pun saya membuat dialog di kepala saya dengan wanita itu, akan selalu berakhir dengan kata selamat tinggal. Semakin lama, cara dia mengucapkan selamat tinggal semakin mengerikan. Jika tulisan ini saya lanjutkan, mungkin matanya sudah keluar, saking bencinya dengan saya.

Oh iya, dalam dialog rekaan saya ini, saya tidak pernah menanyakan kabarnya, bukan karena saya tidak peduli, tapi hanya karena saya sudah tahu.

Selalu tahu lebih tepatnya.

Jakarta, 22 Oktober 2017

 

Surat Cinta yang tak Pernah Sampai

Oleh: Agfian Muntaha

 

Pernah datang suatu masa di mana aku mencintaimu dengan setulus-tulusnya cinta

Pernah datang suatu masa di mana aku mendambamu dengan sebesar-besarnya damba

Pernah datang suatu masa di mana aku merindumu dengan sejauh-jauhnya rindu

Karena kau adalah terjemahan dari pembelajaranku akan keindahan

 

Telah kusiapkan sepucuk surat cinta untuk menjangkaumu

Telah kusiapkan sepucuk surat cinta untuk menyentuh hatimu

Dengan warna merah muda yang kuolesi parfum bapakku

 

Mungkin kau sudah menerimanya

Mungkin juga belum

Karena balasan darimu tak kunjung datang

Dari Juventus juara, terdegradasi, lalu juara lagi

Dari Chelsea miskin, kaya, lalu biasa saja

Dari Arsenal juara, tidak juara, lalu… tetap tidak juara

Surat yang kutunggu itu tidak datang juga

 

Aku tahu kau pasti menuliskannya untukku

Surat balasan itu

Hanya saja, mungkin kau lupa menaruhnya di mana

Terselip di antara tumpukan celana dalam bekasmu yang tak mau kau pakai lagi

Atau mungkin kau sudah mengirimnya

Tapi Pak Pos yang kau titipi sudah terlalu tua untuk mengantarkannya padaku

Aku tahu kau pasti menuliskannya untukku

Surat balasan itu…

Yogyakarta, 2 April 2017

Kutulis bersama foto kita berdua dulu, saat kumisku masih terlalu tipis untuk menangkal ludah dari bibirmu saat kita berciuman

 

Kamu dan Segala Ketakutan yang Ada di Kepalaku

Oleh: Agfian Muntaha

Aku tak ingin memulai puisi kali ini dengan “jika”

Karena aku tahu, kamu bukanlah jika, kamu adalah nyata, senyata dahak di tenggorokanku

Seringnya tidak terlihat, tapi selalu mengganggu

Saat sudah terlihat, akhirnya membuat ketagihan

 

Kamu adalah ejawantah dari segala doaku kepada Tuhan

Tapi di lain waktu, kamu adalah alasan aku berdoa

Tidak jarang, kamu justru membuatku berdoa semakin sering, semakin lirih, semakin pasrah

Kamu, dalam beberapa kesempatan adalah jembatan antara aku dan Tuhan

 

Ingin sekali aku bermain monopoli denganmu,

Agar kamu paham bagaimana perasaanku selama ini yang hanya dikuasai oleh satu orang

Kamu pasti tahu siapa yang kumaksud

 

Kamu dan cinta adalah odol dan pasta gigi

Awalnya hanya sekadar entitas kecil tak berarti

Signifikansinya tak lebih dari sekadar turunan dari cinta dan pasta gigi

Hingga kemudian, seiring berjalannya waktu, justru bersatu, melebur dalam satu entitas yang sama

 

Ya, kamu adalah cinta

Cinta yang selalu membuatku sulit tidur setiap malam,

Karena pada akhirnya aku tahu,

Ketakutan terbesarku adalah tidak bersatu di surga bersamamu kelak…

 

Tebet, 17 Oktober 2017

Kutulis sambil menunggu balasan pesan Whatsapp darimu

1 Komentar

Filed under Full fiksi

One response to ““Dialog Ini Terus Berputar di Kepala Saya” Dan Puisi Lainnya

  1. Puisinya lugas tegas dan tidak memelas mz :”)

    bagus e

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s