Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Lari Pagi di Sekitar Pancoran Beberapa Hari yang Lalu

img_20160521_110744

Sudah hampir satu bulan saya berada di Jakarta, dan selama itu pula, otak saya terus berpikir. Bagi laki-laki seperti saya, kadang pikiran yang kosong adalah kebutuhan primer yang sama pentingnya dengan makan mie rebus di waktu hujan turun.

Jadi pagi itu, demi mendapatkan kekosongan pikiran yang saya idam-idamkan, saya memutuskan untuk lari pagi. Dimulai jam 5 pagi, berakhir saat nafas sudah tersengal dan kaki mulai melemas. Tidak lama biasanya.

Yang menjadi masalah adalah, saya masih orang baru di Pancoran. Saya tidak tahu rute lari yang enak dan nyaman di Pancoran, atau bahkan di Jakarta. Jadi yang saya lakukan sederhana, saya lari dan lari saja. Di pinggir jalan MT. Haryono yang kalau kosong, lebarnya bisa digunakan untuk bermain basket 3 on 3 itu, saya berlari kecil. Takut terjadi apa-apa, saya akhirnya belok kiri di Tebet timur, berlari kecil di jalanan kampungnya, yang tentu saja tidak ada nuansa kampungnya sama sekali. Berpapasan dengan pelari lain membuat saya sedikit. Setidaknya, saya bukan satu-satunya orang aneh yang berlari pagi di dekat jalan besar.

Tak berapa lama, saya menyalip dua wanita muda yang sedang jalan cepat pagi itu. Dua-duanya terlihat cantik dari belakang. Saya tidak bisa melihat wajahnya karena tidak memiliki spion ketika berlari. Namun melihat sosok dua wanita sudah membuat saya berpikir lagi, tentang kehidupan saya…

Usia saya sebentar lagi sudah 28 tahun, dan kehidupan asmara saya masih seperti ini saja. Saya tahu secara usia saya sama sekali belum masuk darurat, apalagi saya laki-laki. Hanya saja, sebenarnya rencana pernikahan sudah saya buat dari dulu. Lama sekali. Saya bahkan tidak bisa mengingat baju yang saya kenakan waktu membuat rencana dulu, saking lamanya.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, rencana itu gagal satu demi satu. Saya tahu selalu ada plan B, dan jika plan B gagal, abjad kita masih menyisakan 24 huruf lagi untuk digunakan. Bahkan, dalam excell, masih ada AA, AB, dan seterusnya yang tidak akan pernah habis. Selalu ada contingency plan, bukan?

Tapi ini soal moral. Ketika satu rencana sudah gagal, sulit rasanya untuk langsung bangkit lagi dan membuat rencana baru. Berkenalan dengan wanita baru (tanpa dihantui kenangan wanita lama), dan merasakan perasaan berdesir di dada untuk kesekian kalinya.

Saya sudah tidak percaya dengan cinta. Yang saya tahu, cinta itu rasional. Mungkin kita besok akan menikah dengan orang yang tidak kita cintai, dan itu tidak masalah. Karena tujuan menikah bukanlah soal cinta saja, tapi ada banyak hal.

Yang saya tahu, cinta sejati tidak pernah ada. Itu hanya mitos. Secara natural, manusia sudah diset untuk bisa jatuh cinta kepada lebih dari satu orang, dalam beberapa kasus, bahkan bisa lebih dari satu jenis kelamin. (I am still straight, relax, it’s just example)

Jadi, sejujurnya semakin lama, semakin saya masa bodoh dengan hal-hal berbau jodoh ini. Setidaknya, itu yang ada di pikiran saya saat sedang berlari pagi itu.

Saya berlari lagi…

Dan lagi…

Saya berada di komplek yang saya sekali tidak tahu ada di mana itu. Untuk pulang, saya hanya mengandalkan google map.

Dan beruntung bagi saya, ternyata di komplek itu ada taman yang digunakan untuk lari-lari. Banyak sekali orang di sana. Mungkin beberapa diantaranya adalah satu keluarga.

Pikiran saya kembali melayang ke Solo, ke tempat tinggal yang penuh kenangan itu. Tempat tinggal impian.

Sebagai seorang lelaki biasa, tentu saja saya merindukan Ibu saya. Di usia saya sekarang, tidak banyak teman dan keluarga baru yang bisa didapatkan, dan semenjak saya kecil, selalu hanya ada Ibu yang setia menemani.

Entahlah, kata orang lari pagi itu membosankan, sehingga harus dilakukan sambil mendengarkan musik. Bagi saya, ketika berlari, pikiran saya bergerak lebih cepat daripada raga saya. Alih-alih berdiam diri dan untuk sebentar saja menghilang, dia justru semakin kuat menguasai saya. Mungkin memang benar kata Mantan Calon Bapak Mertua saya (bapaknya mantan), bahwa saya itu terlalu banyak berpikir.

Berlari tidak pernah membosankan bagi saya. Karena sebelum bosan itu datang, biasanya badan udah capek duluan, sehingga segalanya menjadi menegangkan. Tapi lebih dari itu, dalam setiap lari pagi saya yang selalu sendiri, pikiran saya selalu menarik saya ke tempat lain. Dimensi lain.

Mungkin saja, saya dan Haruki Murakami memiliki kebiasaan yang sama. Sayangnya kami beda nasib. 🙂

Setelah satu jam lebih berlari, akhirnya saya kembali lagi ke kosan, beberapa kali bolak-balik karena takut berpapasan dengan anjing di komplek. Saya beristirahat sejenak dengan pikiran yang lebih berat dari biasanya.

Damn.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sehari-hari

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s