Ibu Rumah Tangga Vs Wanita Karir

Mana yang lebih baik dan terhormat, ibu rumah tangga atau wanita karir?

Pertanyaan random itu muncul dari salah satu teman wanita saya. Dan sebenarnya, jawabannya tidak pernah simpel.

Untuk menjawabnya, izinkan saya bercerita beberapa hal. Semoga kamu tidak bosan. Kalaupun bosan, kamu tahu tulisan ini akan selalu berada di tempat yang sama, menunggumu membacanya sampai selesai.

Masa Kecil Saya

Sebagai awal dari cerita, saya ingin katakan satu hal: ibu saya adalah wanita karir. Beliau bekerja dari pagi sampai siang, kadang sore, hampir selalu lebih larut dibanding ayah saya, meskipun berangkatnya tidak lebih pagi.

Di waktu saya kecil, setiap pagi adalah pertarungan bagi ibu saya. Kenapa, kamu tanya?

Agfian kecil adalah seorang yang manja dan jatuh cinta pada ibunya. Bagi Agfian kecil, berada di dekat Ibu adalah satu-satunya alasan dia yakin bisa menaklukkan dunia. Agfian kecil ingin selalu bersama ibunya. Tapi, seperti yang sudah saya singgung di awal, ibunya Agfian kecil tidak bisa selalu berada di rumah.

Sama seperti pesawat, di mana masa-masa kritisnya adalah ketika take off dan landing, begitupun kisah perpisahan Agfian kecil dan ibunya ini. Masa-masa krusial adalah saat Ibunya berangkat kerja dan pulang kerja.

Saat Ibu pulang kerja, Agfian kecil akan berhambur ke arahnya, kadang berebut dengan kakak-kakaknya yang bawel untuk mencium bau kecut ketiak Ibu, bukan hal yang terlalu sulit bagi Ibu tentu saja. Tapi saat Ibu berangkat kerja, ceritanya sama sekali berbeda.

Saat Ibu berangkat kerja adalah masa-masa terberat bagi Agfian kecil (dan mungkin juga bagi Ibunya). Karena, bagi seorang anak yang pipisnya belum lurus, melihat punggung ibu yang berjalan meninggalkannya adalah neraka. Pengalaman menyakitkan itu masih terekam secara visual hingga kini.

Agfian kecil tidak suka ibunya berangkat kerja. Agfian kecil tidak suka terpisah lama-lama dari ibunya. Agfian kecil benci ibunya menjadi wanita karir! (meskipun tentu saja, saat itu Agfian kecil tidak paham apa itu wanita karir, yang dia pahami hanyalah pedang matahari dan bunyi jam tangan, tit tit tirit titit)

Jadi berdasarkan cerita di atas, berarti saya lebih prefer ke Ibu Rumah Tangga dibanding wanita karir?

Tunggu dulu.

Izinkan saya bercerita sedikit lagi. Jika kamu sudah mengantuk, minumlah kopi seteguk, atau minta teman disampingmu untuk menamparmu.

Ada sebuah quote random yang saya dapat dari gambar di media sosial yang menarik. Begini bunyinya: “Tugas orang tua adalah menyiapkan anaknya untuk berpisah darinya.” Kurang lebih seperti itu.

Dan saat ini, saya harus terpisah puluhan kilometer dengan Ibu saya. Untuk bisa hidup secara terpisah ini, saya terbantu karena mendapatkan pendidikan yang layak dari Ibu saya. Ayah saya meninggal saat saya masih SMP. Artinya, pertolongan Allah untuk pendidikan saya adalah melalui rezeki Ibu saya sebagai wanita karir.

Saya bersyukur karenanya.

Saya bersyukur untuk setiap tetes keringat ibu saya setiap hari selama lebih dari 20 tahun. Saya bersyukur untuk lelah ibu saya, ketika harus bekerja dan membawa saya ke kantornya karena saya sedang sakit waktu itu. Saya bersyukur untuk setiap kerja keras ibu saya yang selalu memikirkan akan makan apa saya malam ini, walaupun tugas di kantor sedang menggunung. Saya bersyukur untuk setiap uang jajan pas-pasan yang diberikan Ibu saya yang dia sisihkan dari gajinya yang tidak seberapa.

Saya bersyukur ibu saya adalah seorang wanita karir, yang merawat bocah ingusannya ini dengan penuh kasih sayang, bersama dengan 3 anak lainnya (yang tidak begitu penting itu).

Jadi, wanita karir atau ibu rumah tangga???

Kembali pada pertanyaan di atas, mana yang menurut saya lebih baik? Menurut saya, bukan di situ poinnya. Ini ibarat dalam sepakbola, mana yang lebih baik, kiper atau penyerang?

Saya yakin jawabannya tidak akan bisa relevan. Penyerang belum tentu lebih baik dari kiper, pun sebaliknya.

Bagi saya, yang paling penting bukan apa pilihan kita, melainkan bagaimana kita bertanggung jawab terhadap pilihan kita. 

Maksudnya bagaimana? Maksud saya, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing, dan sialnya, tidak ada yang mudah dari keduanya.

Saat kamu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, itu berarti kamu akan menghabiskan banyak waktumu di rumah. Mahluk hidup yang paling banyak berinteraksi denganmu adalah kuman-kuman, bukan manusia. Kebosanan akan melandamu, kadang kamu bahkan mungkin akan diremehkan oleh orang lain, atau yang paling parah, kadang kamu akan merasa iri dengan wanita karir yang banyak berinteraksi dengan orang sungguhan.

Sebaliknya, saat kamu memilih untuk menjadi wanita karir, itu berarti kamu akan ekstra lelah, karena walaupun kamu bekerja di kantor, itu tidak menghilangkan kewajibanmu untuk berbakti pada suami dan mengurusi kebutuhan rumah tangga. Setiap hari kamu akan merasa bersalah, karena meninggalkan anakmu di rumah, entah sendirian, bersama kakaknya, atau bersama pembantunya, tidak ada yang akan membuatmu tenang, karena dalam hatimu kamu tahu, anakmu hanya aman saat bersamamu dan suami.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan apapun pilihanmu, kamu akan memiliki tugas berat. Fokuslah pada hal itu, bukan pada pertanyaan bodoh: “apakah pilihanku sudah benar?”

Karena ketika pertanyaan bodoh itu keluar, saat itulah segalanya akan terasa salah. Dan kesalahan sekecil apapun akan membuat hatimu berkata, “harusnya aku memilih pilihan yang lain…”

Ya, kira-kira seperti itulah kesimpulan saya dari pertanyaan wanita karir vs ibu rumah tangga. Tentu saja ini hanya sebatas dari perspektif kehidupannya si wanita ya. Ada peran-peran dari suami yang harus dimainkan di sini. Dan percayalah, si penulis tulisan ini, adalah calon suami yang bisa menangani keduanya. Hehe.

Sekian. Sudah!

PS: Saya lebih suka ibu rumah tangga, btw.

Iklan

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Ibu Rumah Tangga Vs Wanita Karir

  1. saya garis bawahi bagian: bisa menangani keduanya 😁😁😁

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s