Sajak Ini Menunggu Pelukanmu Agar Bisa Mati Dengan Tenang

WP_20140914_076

Kenyataannya, ini memang sudah terjadi.

Sajak ini tak pernah berhenti memujamu. Saat kamu sedang lucu-lucunya belajar mengikat tali sepatu dengan ingus yang tak berhenti mengalir, dia sudah memperhatikanmu.

Diam-diam ingin menyeka ingusmu.

Sajak ini tak pernah berhenti memujamu. Saat kamu sedang mulai merasakan sakit di perut yang tak tertahankan, lalu jatuh cinta pada anak paling nakal di kelasmu, dia sudah memperhatikanmu.

Diam-diam ingin memberitahumu, bahwa semua akan baik-baik saja.

Sajak ini tak pernah berhenti memujamu. Saat kamu meninggalkan SMA yang penuh dengan kenangan, bersama dengan perasaan yang akhirnya tidak kamu katakan kepada lelaki pujaanmu, dia sudah memperhatikanmu.

Diam-diam ingin mengatakan cemburu.

Sajak ini tak pernah berhenti memujamu. Hingga kini. Saat tiba-tiba kamu dengan lancang mengenakan toga dan make up tebal di hari yang sudah kamu impikan sejak lama, dia sudah memperhatikanmu.

Diam-diam ingin menciummu.

Sajak ini selalu mengidolakanmu, dan kamu tahu itu. Bahkan, mungkin kamu lebih tahu dari pada sajak ini sendiri. Karena tidak seperti kamu yang bisa melihat dengan jelas ekspresi sajak ini saat melihatmu, dia tidak bisa melihat apapun di wajahnya. Yang dia lihat selalu cuma satu. Selalu kamu.

Sekarang, sajak ini sudah sekarat. Tangan kanannya memegang erat-erat dadanya yang tertembus peluru. Darah tak henti mengalir dari tubuh keras dan hitam mataharinya. Matanya sudah lemah. Pandangannya sudah kabur. Bahkan, melihatmu dari jauh pun dia sudah tidak mampu.

Segala kejayaan yang dulu didapatkan dari medan perang, punahlah sudah. Yang ada hanya rasa sakit yang semakin lama semakin kebas. Yang ada hanya bayangan samar-samar tentang dirimu, yang selalu menolak saat diajak duduk bersama di bawah pohon rindang.

Semua orang tahu bahwa sekarang adalah saat terbaik bagi sajak ini untuk segera mati. Dia tidak boleh hidup terlalu lama dalam segala kelemahan itu. Dia harus segera mati, agar kenangan tentang kejayaannya masih membekas.

Tapi, seperti yang sudah dapat kamu tebak, sajak ini masih saja memujamu. Di tengah aliran darahnya, di dalam pandangannya yang semakin gelap, dia masih mendamba aroma tubuhmu.

Bahkan, di saat akhir dalam hidupnya pun, dia ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Nona, sajak ini menunggu pelukanmu agar bisa mati dengan tenang.

Bisakah kau membantunya mati dan pergi dari dunia ini? Agar aku bisa memilikimu seutuhnya…

Yogyakarta, 17 Desember 2016

di tengah hujan yang sudah seperti kawan lama…

Iklan

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Sajak Ini Menunggu Pelukanmu Agar Bisa Mati Dengan Tenang

  1. baguuus, kalimat terakhir dibawah tanggal jugak baguuus~

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s