Mengapa Menulis Tidak Akan Menjadi Pekerjaanku (Lagi)

blog post writing never be an option

Ketika orang-orang yang mengerti bagaimana aku menjalani hidup mengetahui pekerjaanku, kebanyakan dari mereka bertanya, “kok nggak kerja nulis aja? Kan banyak tuh lowongan.”

Pertanyaan yang lumrah. Mungkin sekadar basa-basi. Mungkin serius. Entahlah.

Tapi yang pasti jawabanku solid…

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering sekali melihat ‘akibat’ tanpa tahu ‘sebab’nya. Sering sekali kita menanyakan ‘mengapa’ tanpa pernah benar-benar mencari tahu ‘karena’nya.

Kita melihat orang-orang bepergian dengan mobil mewah dengan terburu-buru. Beberapa dari mereka mampir ke warung makan mewah yang bagi mahasiswa miskin sepertiku rasanya hanya mimpi untuk bisa sekali saja makan di tempat itu. Beberapa dari mereka bahkan bercanda dengan pasangannya. Tertawa bersama. Berjalan sambil menggenggam tangan masing-masing pasangan, lalu melakukan hal-hal alay yang bagi orang patah hati terlihat menjijikkan.

Ya, aku jijik melihat hal itu. Aku selalu mempertanyakan ‘mengapa’ pada mereka di dalam hatiku. Tapi, sejatinya aku selalu menghindari untuk tahu ‘karena’ yang ada di balik itu semua.

Aku tidak tahu pertarungan yang harus dilakukan seseorang untuk dapat mengendarai mobil mewahnya dan memadati jalanan Jogja yang sudah semakin sumpek. Aku tidak tahu berapa waktu yang hilang dari orang-orang itu untuk mendapatkan uang demi makan di rumah makan mewah yang selalu kulihat dari spion motorku (ya, spion motorku tidak memantul ke jalan seperti seharusnya, dia terlalu miring sehingga yang terlihat adalah pemandangan di pinggir jalan, seperti warung makan atau wanita cantik yang sedang berjalan sendirian di trotoar).

Aku tidak tahu pengorbanan macam apa yang diberikan masing-masing orang untuk pasangannya hingga sekarang mereka bisa tersenyum bersama seperti yang kulihat. Aku tidak tahu. Dan seringnya tidak mau tahu.

Kita semua bisa dengan mudah mencari tahu ‘karena’ yang selalu misterius, tapi kita selalu memilih untuk melihat ‘mengapa’ yang terlihat jelas.

I just want to be number one

Saat pertama kali lahir, aku sudah harus berbagi kasih sayang dengan ketiga kakakku. Ketika aku lahir, alih-alih orang akan berkata, “Alhamdulillah, akhirnya Bu Fik punya anak juga,” orang justru akan mengatakan, “Apa? Bu Fik nambah lagi anaknya? Buset!”

Saat aku memamerkan huruf alfabet pertama yang kutulis, kakak-kakakku sudah memamerkan nilai 100 pertama mereka di pelajaran matematika.

Saat aku memamerkan ranking pertamaku di kelas 2 SD, kakak-kakakku sudah memamerkan anaknya –cucu orangtuaku- yang sekarang sudah bisa pakai celana sendiri.

Saat aku memamerkan hasil Ujian Masuk UGM yang menunjukkan aku lulus, kakak-kakakku sudah memamerkan slip gajinya pada Ibuku, dengan beberapa hadiah tentunya.

Aku tak pernah menjadi pusat perhatian di keluarga. Karena itulah aku berusaha menjadi pusat perhatian di luar keluarga. Mencetak gol sebanyak mungkin di pertandingan kampung walaupun itu berarti aku harus membuat anak kecil yang menjadi musuhku menangis, kulakukan. Berperan menjadi pembantu di depan semua warga RT dengan akting yang over, kulakukan. Mencoret-coret tembok orang dengan pilox berdalih kreativitas, kulakukan.

Semua itu hanya memiliki satu tujuan: aku ingin menjadi pusat perhatian. Menjadi nomor satu. Aku ingin ribuan, bahkan jutaan orang datang ke suatu tempat hanya untuk menghargaiku. Hanya untukku.

Dan menulis adalah cara paling mudah untuk membuat diriku menjadi nomor satu. Setidaknya di dunia yang kuciptakan sendiri. Di dalam dunia tulisanku, jangankan jutaan orang, semua orang di dunia-akherat bisa kukumpulkan hanya untuk sekedar meneriakkan namaku. Dengan cara itu, aku tidak peduli lagi aku akan selalu menjadi nomor 4 di keluargaku. Selamanya.

It’s All I Have

Aku lahir dengan banyak keberuntungan. Ibu yang mencintaiku. Ayah yang bisa dijadikan teladan. Kakak-kakak yang sayang kepadaku. Uang yang cukup untuk membuat aku gemuk dan pintar. Dan tentu saja dunia yang telah siap untuk menerima bakatku (aku tidak bisa membayangkan jika aku lahir di masa di mana kekuatan otot adalah segalanya dan belum ada keyboard untuk menulis, tulisan tanganku jelek sekali).

Tapi, dalam kehidupan tetap saja ada kekecewaan yang harus kita dapatkan. Tak terkecuali untukku.

Impianku untuk memamerkan ijazahku pada Ayahku sudah menjadi kemustahilan. Aku pernah mencintai seorang wanita dengan semua hati yang kupunya, tapi semesta berkata lain. Aku menghabiskan 7 tahun hidupku untuk berputar-putar di kampus dengan segala kepicikannya, ketika teman-teman sebayaku sudah merajut mimpinya satu demi satu.

Aku ketakutan setiap hari, aku ragu setiap pagi, aku menangis dalam hati setiap malam, dalam beberapa kesempatan, aku bahkan benar-benar menangis seperti anak kecil yang mainannya hilang.

Ketika semua itu terjadi, menulis adalah satu-satunya yang kumiliki.

Jangan salah sangka, menulis bukanlah obat mujarab untuk menyembuhkan rasa sakit. Ernest Hemmingway hampir gila gara-gara menulis. Penulis-penulis terkenal dunia lainnya tidak sedikit yang akhirnya bunuh diri. Menulis bukanlah obat untuk hati yang rusak. Menulis hanya akan membuat kita ketagihan. Semakin tinggi kemampuan kita menulis, semakin kita merasa bodoh dalam menulis. That’s just how it works.

Namun, pada akhirnya aku tetap melakukannya. Aku bisa berbincang-bincang dengan sosok Ayah dalam tulisanku. Aku bisa mengarang akhir yang bahagia untuk kisah kuliahku yang sejatinya menyedihkan. Kisah cinta? Heh, aku bahkan bisa bercinta dengan tiga wanita sekaligus dalam satu cerita.

Menulis adalah satu-satunya yang kumiliki.

Dan ketika orang bertanya, “ kok nggak kerja nulis aja?” Jawabanku akan selalu sama: tulisanku terlalu mahal untuk bisa dimiliki dan diatur oleh orang lain.

Menulis adalah satu-satunya yang kumiliki. Tidak akan kubiarkan seorangpun merebutnya dariku. Tidak akan kubiarkan orang asing dari perusahaan manapun mengatur-atur aku tentang apa yang bisa dan tidak bisa kutulis. Karena tulisanku tidak akan bisa dihentikan.

Aku menulis untuk egoku, dan aku tidak akan ambil pusing akan apa yang orang pikirkan saja tentangnya.

Hanya saja, akhir-akhir ini menulis menjadi lebih menegangkan. Karena aku tahu, saat aku menulis, di seberang sana, akan ada seorang dengan senyum manis siap untuk membacanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku peduli dengan apa yang akan orang pikirkan tentang tulisanku. Tidak, lebih tepatnya, aku peduli dengan apa yang akan dia pikirkan tentang tulisanku.

Yogyakarta, 12 November 2015

18 Komentar

Filed under Freedom to speak

18 responses to “Mengapa Menulis Tidak Akan Menjadi Pekerjaanku (Lagi)

  1. Udah lama gak mampir kesini nih!

    Ngggg… Aku agak sedih pas baca tentang cerita kamu di nomer empatkan dalam keluarga. Ah ya tapi, kekecewaan emang selalu ada sih. Sudahlah.

    Terus, aku suka sama kalimat ini : “Aku menulis untuk egoku, dan aku tidak akan ambil pusing akan apa yang orang pikirkan saja tentangnya” Setuju😀

  2. Hahahaaa, iya, kamu lama sekali ninggalin aku, sampe-sampe aku mesti moderasi komenmu lagi😦

    Makasih yo, mau kasih aku free puk puk? :p

  3. Kamu juga gak bertamu di blog aku😦

  4. Waaa ian aku suka postinganmu yg ini.
    Kalo menurutku sih karena menulis itu semacam jeda atau pelarian yg menyenangkan. Kalo dijadikan pekerjaan jadi enggak tau lagi dong di mana harus menempatkan jeda dan menyelamatkan diri dari situasi yg menyebalkan :p

  5. Yakin? Jangan2 kamu nggak approve kali komen aku :p

  6. Iya, setuju banget sama kata-katamu Mer.😀

  7. wah apik banget om, poinnya mengena. terutama empat paragraf terakhir.. joss!😀

  8. Pertama kali yang saya lihat dari postingan ini adalah fotonya : Arsenal!

  9. Blog gado gado…salam kenal.

  10. *aku senyum manis baca tulisanmu mas*

    haha

    Salam kenal

  11. Haha, terimakasih mbak Leli. Aku juga senyum manis baca komenmu. Salam kenal jugaaa😀

  12. Suwer keren banget tulisannya. Sangat menyentuh. Tisu mana tisu #lagimeler

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s