Feromon dan Cinta yang Terlarang

between us blog tourPekerjaan saya sebagai software implementer telah membuat saya jatuh cinta padanya. Tapi, karena alasan yang sama, saya harus mengubur rasa itu. Sialnya, feromon telah membuatnya jadi sulit.

Izinkan saya bercerita tentang tragedi itu. Tapi sebagaimana layaknya semua cerita, saya rasa kamu berhak tahu, mengapa saya ingin menceritakan kisah yang -setiap kali mengingatnya- membuat sesak di dada ini.

Semuanya bermula saat saya melihat ajakan blogtour dari Bukune untuk buku baru mereka: Chemistry, karangan Bayu Indie. Awalnya saya agak ragu dengan penulis itu. Maksud saya, lihat saja akun twitternya: @demprul. Pffffft…. Alay. Nama yang nanggung. Apakah maksudnya semprul tapi typo? Atau malah dempul? Apapun itu, tetap saja yang terekam di otak saya adalah alay. Sama alay-nya dengan akun twitter saya sih sebenarnya: @ianfalezt. Hehe.

Hanya saja, saat kemudian saya membaca judul dan premis dari bukunya: Chemistry, Jatuh cinta itu proses kimiawi, saya langsung tertarik. Mungkin buku ini berhubungan dengan tragedi saya. Tragedi yang -setiap kali saya ingat- membuat saya malas mengerjakan skripsi. #Alesan

Lagipula, bukankah membaca kisah yang menimbulkan de ja vu adalah senikmat-nikmatnya membaca?

Akhirnya, setelah mendaftar dan alhamdulillah-nya diterima, saya berada di sini. Menuliskan kisah saya dan buku ini. Kisah yang semoga berkenan di hati kamu.

Jadi, izinkanlah saya membicarakan tentang cinta saya. Duduk yang manis, seduh tehmu perlahan-lahan. Kamu cantik kalau sedang minum teh pakai dua tangan.

Saya adalah seorang software implementer. Apa itu software implementer? (Spoiler alert: pekerjaan saya membosankan, silahkan baca paragraf berikutnya kalau kamu tidak mau tahu tentang pekerjaan saya) Seperti kita tahu, di dunia ini ada entitas yang bernama software/program/aplikasi you name it. Jenis dari Software pun bermacam-macam. Karena sejatinya software memiliki satu tujuan yang sama: solving problem. Menyelesaikan masalah. Begitupun dengan software yang menjadi produknya kantor saya. Software yang saya urusi adalah Software ERP (Enterprise Resource Planning). Dalam bahasa yang lebih keren: Software untuk pabrik. Ya, software saya digunakan oleh orang-orang pabrik. Lalu apakah saya programmernya? Bukan. Saya adalah implementer. Saya tidak membuat software. Lalu apa tugas saya? Saya memastikan software perusahaan saya bisa digunakan dan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan klien, dalam hal ini pabrik. Ya, intinya, tugas saya adalah jalan-jalan ke tempat klien. Godain mbak-mbak admin di pabrik. Marah-marahin mas-mas yang lupa menjalankan tugasnya. Dan sebagainya. (Sudah saya bilang untuk skip ke paragraf selanjutnya bukan? Lain kali cobalah untuk percaya kepada saya)

Lalu apa hubungannya pekerjaan saya dengan kisah cinta saya yang memprihatinkan? Kisah cinta yang -setiap kali mengingatnya- membuat saya ingin segera bersandar di bahunya Laudya Cintya Bella.

Ya, seperti yang sudah kamu duga, saya bertemu dengan gadis ini saat saya sedang bekerja. Ketika saat itu saya mencari kepala gudang. Saya melihat seorang wanita. Cantik. Saya bertanya kepada dia, “Bu Bella di mana ya, mbak?” Tentu saja, dengan suara yang saya buat sejantan mungkin.

“Saya sendiri, mas.”

Mendadak saya jadi semangat bekerja. Mendadak saya jadi senyum-senyum sendiri tiap kali ada masalah (yang mengharuskan saya mengunjunginya). Mendadak, saya jadi sering keramas.

Semuanya berjalan dengan cepat setelah itu. Seperti kilatan lampu flash yang menyala saat mengabadikan senyum manismu. Tiba-tiba, teman-teman tim implementer sudah tahu. Dan bos saya tanpa perlu tunggu lama langsung bilang, “nggak boleh. Kamu harus profesional.” Saya terdiam. Setuju dengan kata-kata bos saya. Sampai akhirnya dia melanjutkan, “kalau sama anaknya owner, baru boleh!”

Hening.

***

Saya jatuh cinta pada Bella karena tugas saya sebagai sistem implementer. Namun, karena alasan yang sama pula, (dengan dalih profesionalitas) saya harus menghentikannya. Padahal, saya sudah merasa kita sangat cocok. Dua hari yang lalu, saat saya sedang makan di kantin, saya memergoki dia sedang ngeliatin saya. Sebuah tanda yang nyata untuk orang yang berpikir. #Baper

Seperti kisah cinta gagal lainnya, sekarang saya harus berlanjut ke step berikutnya: Moving on. Secara teori, move on adalah hal paling mudah yang bisa dilakukan oleh seorang software implementer. Mengapa? Karena seperti deskripsi singkat tentang software implementer di atas, pada dasarnya tugas saya adalah untuk mengajak orang-orang pabrik move on dari cara kerja yang lama. Logikanya, kalau pekerjaan saya adalah mengajari mereka, berarti saya adalah orang yang ahli dalam melakukannya, bukan begitu?

Yap, move on adalah keahlian saya.

Hanya saja, sialnya, seperti yang dibilang oleh @demprul, jatuh cinta adalah proses kimiawi. Jatuh cinta bukan hitung-hitungan coding  ala programmer yang hanya mengenal angka 0 dan 1, ya dan tidak saja. Dalam proses kimiawi, ada jutaan reaksi yang harus diperhitungkan dalam pembentukan sebuah senyawa baru.

Emm, entah kalimat itu benar atau tidak, saya bukan ahli kimia.

Intinya, ada jutaan aksi-reaksi dalam proses jatuh cinta. Dan untuk kemudian move on dari sebuah reaksi, cara hitungnya tidaklah sama dengan memasukkan rumus if di dalam algoritma program kita. Ada banyak sekali partikel yang bisa membuat proses move on menjadi berat. Dan bagi saya, partikel itu adalah: feromon.

Saya tidak akan membicarakan tentang apa itu feromon. Karena sudah pasti saya tidak begitu ahli soal itu. Yang saya tau, feromon berimplikasi pada aroma. Dalam bahasa sederhana saya akan bilang: bau parfumnya tidak bisa hilang dari ingatan saya. Dan setiap kali saya mencium bau parfumnya, saya jatuh cinta lagi.

Sialnya, dia menggunakan parfum dari brand terkenal yang banyak digunakan oleh gadis lain.

Sekarang, saat saya sedang naik motor pagi-pagi, lalu menyalip seorang cewek yang ternyata pakai parfum sama dengan Bella, saya mendadak galau. Saat saya sedang ambil uang di atm, lalu ada mbak-mbak antri di belakang saya dan parfumnya sama dengan punya Bella, saya mendadak galau. Terus saya persilakan dia ambil uang duluan. #CowokLemah

Untungnya, tidak seperti program buatan manusia yang cacat, hati saya dibuat langsung oleh Tuhan. Dan saya tahu, hati saya tidak selemah itu. Saya tahu, sekuat-kuatnya feromon yang menyerang saya, itu hanya sementara. Feromon hanya membuat kita nafsu. Dan kita semua tahu, cinta tidak ekuivalen dengan nafsu. Keduanya berhubungan, tapi tidak sama.

Ya, seperti buku @demprul yang menceritakan kisah seorang ahli kimia (yang sayangnya tidak botak) ini, pekerjaan dan cinta seharusnya berjalan beriringan. Hanya saja, kadang kita tidak perlu melihat ke mana-mana untuk mencari sebuah chemistry. Karena mungkin, chemistry ada di dekat kita. Sangat dekat.

Untungnya, aku tidak perlu melihat ke mana-mana lagi. Karena sekarang, aku memilikimu, Mahasiswi MIPA Kimiaku.🙂

NB: Saya curiga penggunaan istilah feromon yang saya gunakan di sini tidak tepat. Tentu saja, sangat tidak tepat untuk mengharapkan ketepatan penggunaan istilah kimiawi di blog ini. Kalau ingin membaca cerita cinta sekaligus mendapatkan gambaran yang tepat soal dunia kimia, kamu tahu harus membaca buku apa, bukan?

1 Komentar

Filed under Sehari-hari

One response to “Feromon dan Cinta yang Terlarang

  1. Haha. Di Mas Agfian, cinta kok jadi lucu, ya.

    Haha.

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s