Usai Lebaran, Kembali ke Kehidupan Nyata

Gema Takbiran

Kartu Ucapan Idul Fitri

Lebaran itu seperti mimpi karena beberapa hari menjelang, pada hari H, dan beberapa hari setelahnya kehidupan orang-orang menjadi ‘tidak normal’. Hal ini berlaku bagi mereka yang merayakan maupun mereka yang tidak (secara langsung) merayakannya. Sebagian orang mengeluhkan ketidaknormalan ini, tetapi sebagian orang yang lain menikmatinya. Sebelum terlalu jauh meninggalkan lebaran, mari kita tengok sedikit ke belakang untuk mengetahui siapa saja para pengeluh dan penikmat momen lebaran?

 

Pengeluh lebaran

 

  • Majikan. Di luar momen lebaran, kebanyakan majikan cuma mau tahu bersih, nggak mau repot urusan beres-beres rumah dan cuci-mencuci. Bangun pagi mereka maunya sarapan sudah siap di meja, teh/kopi siap diminum nggak kemanisan nggak kepahitan, anak sudah dimandikan, pakaian kerja siap dipakai wangi dan disetrika licin. Pada saat para asisten rumah tangga mereka pulang untuk merayakan lebaran, mereka pun kalang kabut. Masak, masak sendiri. Cuci baju sendiri. Yang nggak biasa nyapu dan ngepel sendiri mengeluh serasa menjadi babu, padahal yang dibersihkan rumah mereka sendiri. Yang nggak bisa masak, nggak bisa mencuci, bahkan nggak paham tentang deterjen akhirnya mengungsi ke hotel.
  • Penonton TV. Bosen tiap hari disuguhi berita mudik dari hari H-7 sampai H+7. Pilih TV biru, acara monitor mudik. Pindah ke TV merah, acara kabar mudik. Stasiun-stasiun TV baru pun ikut latah bikin segmen khusus arus mudik/balik. Emang ngaruh gitu? Diberitakan atau enggak, kalau macet ya macet aja. Emang kalau macet, pada nggak jadi mudik? Enggak juga kan?! Emang kalau macet, pada cari jalur alternatif? Kan jalannya itu-itu saja! Reporter yang kelihatan culun-culun itu terobsesi dengan ‘puncak’ arus mudik/balik yang kadang malah bikin ribet sendiri. Kemarin katanya puncak arus mudik, hari ini diralat “Eh, ternyata puncaknya hari ini ding!” Semoga mulai tahun depan para produser bisa inovatif bikin program yang nggak itu-itu dan begitu-begitu saja. Misalnya, program mudik diganti dengan acara bagi-bagi THR.
  • Ibu rumah tangga. Pusing ngatur uang, harus membeli baju baru untuk anak-anak yang masih kecil, padahal harga barang-barang yang lebih penting naik selama musim lebaran. Nggak cuma harga sembako yang naik, para pedagang di pasar kadang juga menaikkan harga barang-barang lain, mulai dari biskuit sampai deterjen. Miris kalau THR habis cuma untuk menutup belanja hari raya, tanpa sisa untuk ditabung.

 

Penikmat lebaran

 

Bisa dipastikan lebih banyak orang yang menikmati momen lebaran, bukti bahwa lebaran membawa berkah. Terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu, tapi mereka antara lain adalah:

  • Kebanyakan orang Jakarta yang girang bukan kepalang bebas dari kemacetan jalanan, walaupun cuma sementara. Tapi coba lihat nanti pas lebaran jatuh pada Januari atau Februari. Macet enggak, banjir iya.
  • Pembuat kue kering yang kebanjiran order nastar, kastengel, putri salju, dll.
  • Pengasong di terminal yang panen dari jualan “Qua-nya, qua-nya, qua-nya…”
  • Para perantau yang bisa pulang kampung ketemu sanak famili. Syukur-syukur ada yang bisa dipamerkan. Handphone canggih, motor baru, mobil kreditan, batu akik, atau sekadar “ngapain-ngapain”.
  • Anak-anak kecil yang panen lembaran uang gres.
  • Para penjual kembang di dekat kuburan, parsel, sarung, kopiah, petasan, kembang api, janur, dan masih banyak lagi. Denyut hampir semua nadi perekonomian ini nggak pandang agama, etnis, ukuran modal, dan golongan. Semua kecipratan rezeki tahunan ini.

 

Lebaran sudah lewat tahun ini. Semua kembali ke kehidupan nyata. Jakarta kembali macet, pembuat kue kering jadi pembuat kue basah, anak-anak kembali ke sekolah, para majikan nggak perlu lagi berurusan dengan deterjen dan kain lap, stasiun-stasiun TV kembali ke berita-berita korupsi, para perantau kembali ke kota besar untuk mengais rezeki demi sesuap nasi dan segenggam batu akik.

 

Sampai jumpa lebaran berikutnya!

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s