Musuh Terbesar Sebuah Bisnis/Startup Adalah…

blog post startup 1

Saat ini saya sedang bekerja di sebuah startup yang bergerak dalam penyediaan software ERP. Kalau tidak tahu ya nggak papa, itu bukan software terkenal seperti Microsoft Word ataupun Corel Draw kok.🙂

Nah, dari pekerjaan saya ini, saya seringkali ngobrol dengan bos sekaligus mentor saya. Dan dari salah satu obrolan kita, saya mendapat pesan yang menurut saya cukup lugas: Musuh terbesar sebuah bisnis/startup.

Bagi mentor saya, musuh terbesar sebuah bisnis atau startup bukanlah kompetitor, bukan pula kondisi pasar di negara yang tak menentu, dan terutama sekali bukan investor.

Lalu apa musuh terbesar sebuah bisnis atau startup?

Owner atau founder.

Ya, musuh terbesar sebuah bisnis adalah ownernya sendiri. Startup bisa karam gara-gara tingkah foundernya sendiri. Dan sialnya, sudah banyak kejadian yang mendukung teori bos saya itu. Salah satunya yang paling epic adalah Primagama. Untungnya Primagama tidak bangkrut, tapi tetap saja, harus menanggung beban yang dibuat oleh ulah pendirinya sendiri, Purdi E Candra.

Bos saya merasa ada banyak penyakit yang menjangkiti kebanyakan founder, dan itu membuatnya super waspada saat ini. Sejujurnya, saya menuliskan ini juga dengan tujuan agar kalau misalnya (amit-amit jabang bayi) bos saya tiba-tiba terpapar penyakit itu, saya bisa menunjukan tulisan ini dan membuatnya sadar. Ha-ha. (Haha ndasmu mz)

Berikut adalah beberapa penyakit yang sering menjangkiti para owner/founder sebuah bisnis/startup:

1. Menggabungkan keuangan pribadi dengan keuangan perusahaan

Seorang Founder bisa dibilang adalah pelukis yang membuat sebuah usaha yang dulunya tidak ada menjadi ada. Tentu saja, adalah sifat dasar manusia untuk kemudian melihat hal yang diciptakannya itu menjadi miliknya seutuhnya. Kadang, founder atau owner (tidak hanya startup, tapi bahkan dalam skala pabrik besar juga) tak jarang mengambil uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Secara kasat mata terlihat tidak masalah. Tapi percayalah, sifat seperti itu perlahan-lahan akan membawa usaha kita ke jurang pengeluaran yang tidak tercatat. Dan dalam ranah bisnis, uang keluar tanpa catatan yang jelas adalah petaka.

Seorang founder pasti berhak untuk mendapatkan penghasilan pribadi dari usahanya. Tapi, cara yang digunakan seharusnya adalah dengan cara yang pas. Jangan ambil uang perusahaan seenaknya, tapi cuma ambil sesuai gaji yang tentu saja bisa ditetapkan sendiri oleh founder.

Ya, para founder, tetaplah stick pada angka yang tertera pada gaji.

2. Menggaji diri sendiri secara berlebihan sehingga cashflow perusahaan jadi tidak sehat

Mentor saya pernah bercerita bahwa ada kecenderungan founder startup yang menggaji dirinya sendiri sebesar 50% dari total omzet. Bayangkan, setengah omzet hanya untuk gaji seorang founder! Gimana bisnis mau maju?

3. Lebih senang jadi pembicara daripada ngurusin usahanya

Ini dia penyakit super berbahaya yang ada di ranah startup dan usaha zaman sekarang. Ketika kita bikin usaha, terus agak laku, terus agak terkenal, terus agak inspiratif, terus ada yang mulai manggil jasa kita buat jadi pembicara.

Waktu jadi pembicara, ternyata enak sekali. Kita ngomong, ketawa-ketawa, sok keren di hadapan mahasiswi kinyis-kinyis, terus dapat uang bayaran yang subhanallah banyaknya.

Terus dalam hati kecil mulai terbesit: kok enakan nyari duit lewat pembicara ya dibanding lewat usaha?

Terus kira-kira, usaha kita bakal jalan nggak?

Di pekerjaan saya sekarang, saya banyak bertemu dengan owner-owner pabrik. Mereka itu luar biasa sibuknya di pabrik. Dan satu-satunya yang bisa saya pikirkan adalah:

Kalau seorang pengusaha usahanya jalan, tidak mungkin dia ada waktu untuk jadi pembicara.

Setidaknya itu cuma kesimpulan bodoh saya sih, hehe.

4. Terlalu terburu-buru dalam membangun usahanya

Ketika membangun bisnis, pasti kita ingin sekali agar usaha kita segera jadi besar. Omzetnya jadi milyaran, hingga kemudian kita jadi cover di majalah SWA. Itu keinginan yang wajar kok. Tapi…

Tapi sebagai pengusaha ada kalanya kita harus menekan ego kita. Banyak owner yang buru-buru pengen besarin usahanya, lalu langsung ngerekrut banyak sekali karyawan, sementara sistem dan kebijakan perusahaan belum siap untuk menampung banyak karyawan itu. Selain itu, ada juga kasus di mana kita membuka cabang di mana-mana, padahal kondisi perusahaan belum benar-benar siap untuk membuka cabang. Akibatnya? Ya rugi. Ya tutup. Yaaaa…

Pokoknya, modal besar bukan berarti kita lantas langsung seenak udel sendiri untuk membangun perusahaan super besar. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan dalam membangun usaha, nggak cuma duit.🙂

5. Dan yang paling membahayakan dari semuanya adalah: terjun ke partai politik

Yaa, untuk yang satu ini, saya rasa semua sudah merasakannya. Karyawan M*C group pasti merasakannya. Karyawan Groupnya B*krie pasti sudah merasakannya. Saat owner masuk ke partai politik, mendadak banyak keputusan aneh yang dihasilkan (dan sialnya karyawan lah yang harus menanggung semuanya). Selain itu, tak jarang kas mendadak menjadi tidak sehat karena sering diambil oleh owner untuk urusan politiknya. Owner juga bakalan lebih sering ngomong di hadapan “kader”nya dibanding ngurusin usahanya.

Ujung-ujungnya, terjun ke partai politik menjadi sumber untuk terkena 4 penyakit owner sebelumnya.

Nah lho?

3 Komentar

Filed under Digital Strategist, Freedom to speak

3 responses to “Musuh Terbesar Sebuah Bisnis/Startup Adalah…

  1. bagus tulisannya… jadi masukan bagi saya yang sedang merintis bisnis baru… sudah saya share di twitter…

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s