Menjejak Langit di Hotel Gallery Prawirotaman dengan Semangat Voluntourism

blog post sky

Bepergian dengan semangat mencari hal baru sudah tentu menjadi barang mainstream di pergaulan anak muda zaman sekarang. Tapi bagaimana logika itu dibalik? Bagaimana jika kali ini kita bepergian dengan semangat berbagi hal yang baru? Menyimak celoteh pembicara di acara yang diselenggarakan traveller kaskus telah membuat saya resah akan hal itu. Dan jangan salah, banyak hal gila di dunia terjadi dimulai dengan keresahan itu. Dan saya yakin, voluntourism akan membawa saya bepergian tidak hanya mengelilingi bumi, tapi juga menjejak langit.

Sahabat, selamat datang dalam travelling 3.0.🙂

Pada Minggu (7 Juni 2015) kemarin saya berkesempatan mendatangi acara keren. Berbekal info dari Sunawang dan tiket digital yang ada di dalam file hapenya Sunawang juga, saya mendatangi Hotel Gallery Prawirotaman.

Perjalanan menuju Hotel Gallery Prawirataman ternyata lebih menarik dari yang saya duga. Di jalan Prawirotaman, saya yang notabene sudah lama tinggal di Jogja masih saja dibuat terkesima dengan pemandangan di sepanjang jalannya. Di jalan Prawirotaman, Jogja seperti disihir menjadi miniatur Legian. Suasana bule dengan pakaian seksi (yang saya lihat bule cowoknya kok, hehe), dipadu padankan dengan gaya cultural khas Jogja yang sedikit bercampur dengan arsitektur Bali. Menarik!

Oke, sesampainya di hotel dan melakukan registrasi, saya sudah dibuat takjub dengan cara panitia dari Traveller Kaskus menyemarakkan acaranya. Di depan pintu, sudah disiapkan photobooth yang penuh dengan pernak-pernik Kaskus dan gaya anak muda zaman sekarang. Jadi, kita bisa berfoto seolah-olah sedang ada di halaman Instagramnya Traveller Kaskus. Lumayanlah, sekali-kali nampang.

WP_20150607_003

Photo Sunawang yang sok asik. Sumber gambar

Selang beberapa saat, acara dimulai. Dibuka oleh saudara Ridho Mukti yang memegang jabatan penting di traveller kaskus. Saya sudah langsung dibuat berpikir oleh beliau. Pengejawantahannya terhadap voluntourism mau tak mau membuat saya manggut-manggut sambil menahan sesak di dada. Mengapa dada saya sesak? Bukan karena merokok. Akan saya kemukakan alasannya sebentar lagi.

Sebelum itu, saya ingin bercerita sedikit tentang entitas voluntourism yang dibawakan oleh Mas Ridho Mukti yang menurut saya sangat luar biasa.

Voluntourism terdiri dari dua kata: volunteer dan tourism. Volunteer sering kita maknai dengan relawan. Dan Tourism seperti kita tahu adalah kegiatan bepergian/tour dan pelakunya sering kita sebut dengan turis/tourist.

Voluntourism sendiri sepengetahuan saya dipicu dari adanya kesadaran para pelaku travelling di seluruh dunia yang merasa hampa setiap perjalanannya. Di mana pada setiap perjalanan, yang dilakukan hanyalah menemukan tempat baru, mencari kesenangan baru dan… sudah. Hanya itu saja. Just it. Kuwi thok.

Lalu pada setiap keresahan yang muncul, timbullah keinginan untuk berbagi. Diawali dengan keinginan untuk memajukan masyarakat sekitar lewat perekonomian, hingga kemudian pada titik tertentu, muncullah keinginan untuk berbagi pada sesama di tempat para pejalan itu singgah.

Ketika kita bepergian hanya sekedar untuk liburan dan berfoto-foto, mungkin itulah yang kita sebut dengan mass tourism.

Ketika kita bepergian untuk menyumbang perputaran uang di daerah yang kita kunjungi, munkin itulah yang kita sebut dengan eco tourism.

Ketika kita bepergian dan bahkan menetap di sana untuk beberapa waktu sambil berkontribusi dengan penuh rasa ikhlas, mungkin itulah yang kita sebut dengan… Ya, kamu tahulah, Voluntourism.

Pada perjalanan real-nya voluntourism tentu tidak lepas dari pandangan optimis dan pesimis. Dalam pandangan pesimis, voluntourism dipandang sebagai komersialisasi bentuk baru, kedok dari promosi pihak-pihak tertentu, bahkan, dalam konteks niat yang suci tapi eksekusi lemah pun, voluntourism bisa dipandang akan memberikan masalah baru.

Contoh: kita datang pada suatu tempat tertentu di akhir pekan. Kita berkontribusi di tempat itu. Menjalin kedekatan dengan masyarakat sekitar. Lalu, pada hari Minggu, kita pergi, kembali pada kehidupan kita. Dan itu tentu saja menimbulkan masalah baru.

Namun, di tengah badai pesimistik yang menggelayutinya, voluntourism masih memberikan harapan bagi jiwa-jiwa optimis yang percaya. Karena dalam pandangan optimis, voluntourism adalah jawaban dari pertanyaan besar: untuk apa kita hijrah?

Ya, stimulan untuk berpikir dari mas Ridho Mukti itulah yang kemudian membuat dada saya sesak. Perlahan tapi pasti, saya mengingat perjalanan sia-sia saya di waktu muda. Sekarang juga masih teteup muda, btw.

Setelah Ridho Mukti mengajak saya berpikir keras, lalu hadirlah mas Bintang dan Mas Barry yang membawakan materi dengan santai dan menarik. Saya sengaja tidak bahas di sini karena ilmunya terlalu banyak untuk dituliskan di sini, dan hey, enak saja kamu, mau dapet ilmunya tapi nggak mau datang ke acaranya. :p

Menjejak Langit di Hotel Gallery Prawirataman

gallery prawirataman

Suasana Malam di Hotel Gallery Prawirataman. Emejing! Sumber gambar

Selama acara, saya cukup dimanjakan dengan kondisi ruangan yang cozy yang adem dan dari Hotel Gallery Prawirataman. Saya sering bolak-balik ke kamar mandi, sambil sesekali mencuri pandang pada mbak-mbak resepsionis yang cantik, hehe.

Pada perjalanan itu, saya menemukan fakta bahwa hotel ini memang terbilang hotel yang menyenangkan untuk disinggahi. Karena saya merasa berterimakasih pada kesediaan pihak hotel untuk menyediakan tempat bagi acara ini, izinkan saya untuk sedikit mereview kondisi Hotel Gallery Prawirataman.

Hotel Gallery Prawirataman merupakan hotel berbintang empat (4) yang layak untuk menjadi tempat singgah selama di Jogja. Dengan suasana yang nyaman khas Jogja, serta pilihan kamar yang menggiurkan dan harga yang pas di kantong. Tidak murah-murah banget sih, tapi sesuai dengan kelasnya. Ana rega ana rupa.

Ditambah dengan posisinya di daerah Prawirataman yang seperti saya jelaskan di awal tadi, sangat unik, tentu menjadi tempat yang menyenangkan untuk dijadikan rumah sementara.

Selain itu, ada ucapan bahwa Gallery Prawirataman memiliki chef yang handal. Termasuk salah satu chef terbaik di Jogja. Untuk yang satu itu, saya belum sempat membuktikannya. Tapi kalau coffee break yang tersedia di acara dibuat oleh tim dapur dari hotel, saya berani pastikan makanannya enak. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya tergila-gila pada mendoannya.

Kok di hotel pilih makan gorengan?

Ya gimana lagi MZ, namanya juga lidah jawa.🙂

Sebenarnya saya tak perlu banyak berkata-kata, nilai 8,7 yang dimunculkan oleh para tamu dari hotel sudah menjelaskan dengan sangat detail. Nggak percaya kalau Hotel Gallery Prawirataman mendapatkan nilai segitu? Dateng aja sendiri dan buktiin. Terpampang jelas di sebelah komputer di lobby hotel kok. :p

Karena itu, izinkan saya bertanya: sudah siapkah kamu menjejak langit di Hotel Gallery Prawirataman?🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Digital Strategist, Sehari-hari

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s