Galau Karir

Blog post the new world

Setiap fase kehidupan memiliki alasannya masing-masing untuk galau. Kalau dulu waktu kecil, kita galau mau nonton Satria Baja Hitam atau maen sepeda-sepedaan bareng temen. Waktu SD, kita galau mau ngerjain PR atau nonton Satria Baja Hitam atau maen sepeda-sepedaan bareng temen. Waktu SMP, kita galau mau dengerin lagu Peterpan atau ngerjain PR atau nonton Satria Baja Hitam atau maen sepeda-sepedaan bareng temen. Waktu SMA, kita mulai galau untuk main sepeda-sepedaan sama pacar atau nggak. Waktu kuliah, kita (atau mungkin saya saja) mulai galau untuk mampir ke pasar kembang atau tidak. Nah, sekarang, fase yang saya lewati sekara memaksa untuk: galau karir.

Sebenarnya, di usia saya yang sudah 25 tahun, galau karir seharusnya sudah dimulai sejak dulu. 2-3 tahun yang lalu. Tapi karena lulusnya telat, mau tak mau baru sekarang  saya rasakan yang namanya galau karir ini. Setelah berjuang lama dalam menaklukkan skripsi, akhirnya kini saya sudah harus melihat jauh ke depan. Dan tak peduli sejauh apa saya melihat, dengan kacamata saya melihat, dan dari mana saya melihat, yang terlihat hanyalah satu: kepastian karir yang masih gonjang-ganjing.

Oke, sebelumnya saya harus jujur. Karir saya sudah bermula jauh sebelum saya (akan) lulus kuliah. Saat ini pun saya sudah bekerja pada sebuah perusahaan start up yang sedang bergerak maju, sangat maju. Saya bahagia di sana. Saya merasa cocok bekerja di sana. Tapi sialnya, perusahaan ini berada di Jogja, sedang keluarga di Solo. Saya tak mungkin terlalu lama meninggalkan ibu yang ada di Solo.

Saya adalah anak bungsu ibu. Tak peduli sebesar apa saya bertumbuh, saya akan selalu menjadi her cute baby doll.

Oke, supaya lebih jelas, izinkan saya untuk bercerita tentang pilihan-pilihan yang kupunya untuk berkarir. After all, it’s all about choice, isn’t it?

  1. Jakarta

Saya adalah seorang lulusan ilmu komunikasi. Dan kalau kita membicarakan tempat kerja idaman orang komunikasi, pastilah kota yang pertama kali muncul adalah: Jakarta.

Tentu saja, hal itu akan terjadi kalau kita hanya melihat dari sudut pandang industri, bukan sudut pandang kehidupan dan lingkungan. Karena seperti kita tahu, gaya hidup di Jakarta sudah tidak manusiawi.

Tapi yah, tentu saja ada pikiran dari saya untuk kesana. Kenapa? Karena kengerian di Jakarta, tentu saja terdengar menantang di telinga berjiwa muda saya. Saya ingin, mumpung masih jomb…, eh, masih single, mencoba merasakan kerasnya Jakarta, sambil sesekali mengusap darah yang keluar karena kota terkutuk ini.

Jadi ya, Jakarta akan selalu menjadi pilihan bagi saya.

  1. Luar Jawa

Sebelum lulus pun, godaan untuk berkarir di luar jawa terasa begitu nyata bagi saya. Bagaimana tidak? Peluang kerja di sana yang luar biasa melimpah ruah, ditambah dengan persaingan SDM yang dengan sangat menyesal harus saya katakan: tidak seketat di Jawa, membuat keinginan untuk berkarir di luar Jawa terasa menggoda.

Masalahnya, saya tidak ingin terlalu lama tinggal di luar Jawa. Faktor ibu saya menjadi pemikiran utama.

  1. Luar Negeri

Well, yang jelas, untuk yang satu ini akan selalu masuk dalam whishlist saya. Saya ingin setidaknya merasakan setahun atau dua tahun bekerja di Luar Negeri, tapi tidak berkarir seterusnya di sana. Hal ini kemungkinan bisa terwujud, kalau perusahaan bos saya sekarang bisa dapat klien dari Luar Negeri dan saya yang diutus untuk menggarap proyeknya, hehe.

  1. Jogja

Dari semua pilihan yang tersedia, bagi saya tempat ini adalah tempat yang paling masuk akal. Jogja adalah tempat terbaik di dunia bagi saya. Ya, bahkan kenyamanan kota Jogja yang saya dapatkan telah membuatnya menjadi kota yang terasa lebih dekat. Bahkan lebih dekat dibanding Solo.

Saat ini pun, karir saya berada di Yogyakarta. Saya bahagia di sini.

Masalahnya, saya tidak mungkin meninggalkan Ibu saya terlalu lama. Dalam hati kecil, saya ingin selalu bisa menemani beliau di usianya yang sudah senja.

  1. Solo

Solo. Kota ini tidak terlalu spesial bagi saya. Meskipun saya berada di sini sampai lulus SMA, tetap saja, ada sesuatu yang kurang dengan kota ini. Saya tidak tahu. Mungkin perasaan saya saja.

Tapi sialnya, semua keluarga saya ada di sini. Dan mustahil bagi saya untuk meninggalkan kota ini dalam waktu yang lama. Bagaimanapun juga, Ibu saya ada di sini. Dan bisa berbakti kepada beliau, di kota beliau, adalah impian dunia akherat saya.

Karena itu, mungkin dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan, sebisa mungkin saya harus sudah memulai karir di Solo. Tapi…

Kalau teman-teman sendiri bagaimana? Pernahkah merasakan galau yang sama tentang tempat berkarir? Share dong sama akuh :*

2 Komentar

Filed under Digital Strategist, pendidikan

2 responses to “Galau Karir

  1. di Solo aja lah gausah jauh-jauh. nanti yang nememin aku main poker siapa😦

  2. Iya, bikin galau luar biasa kalau soal penempatan kerja. Tapi, teman aku pernah bilang, kita harus bisa keluar dari zona nyaman. Biasanya, zona nyaman bisa membuat kita jadi sedikit manja.
    Soal mama kadang yang bikin sulit buat pisah. Kalo emang ngga mau jauh-jauh, cari kerja seadanya aja dulu. Ngga usah terlalu memilih, nanti pasti dapat yang diinginkan seiring berjalannya waktu.

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s