Puisi: Kamu dan Matematika pada Jam Pelajaran Kedua

 

Matematika pada jam pelajaran kedua, seperti halnya kamu, adalah anomali dalam kehidupanku.

Kamu bukanlah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku. Kenangan demi kenangan yang ada bersamamu, tak bisa kupingkiri, tidak ada apa-apanya dengan kenangan yang sudah lebih dulu muncul. Untuk yang satu itu, aku tak mau berbohong. Bukankah aku memang tak pernah ingin berbohong padamu?

Tapi, sekali lagi, layaknya matematika pada jam pelajaran kedua, kamu adalah anomali dalam hidupku.

Mengapa harus matematika? Mengapa harus jam pelajaran kedua?

Matematika adalah pelajaran yang melelahkan. Ketika angka-angka yang tidak senonoh dimuntahkan dari mulut para guru yang berilmu tinggi tapi bergaji rendah karena tidak punya gelar sarjana, saat itu pula perutku mendadak mulas dan ingat kalau uang jajan sudah habis untuk membelikan hadiah ulang tahun gebetanku zaman SMA.

Matematika, dengan segala misterinya, memberikan siksaan yang tak biasa.

Tapi, saat otakku perlahan mengingat sisa-sisa hafalan rumus semalam, saat itu pula, adrenaline mengalir deras ke tangan. Keinginan untuk menemukan jawaban dari misteri yang mungkin tidak perlu ada, telah memberikan kemauan untuk berpikir. Lupa pada rasa lapar. Lupa pada hadiah ulang tahun gebetanku yang dibuang begitu saja olehnya.

Matematika, dengan segala misterinya, memberikan kenikmatan yang tak biasa.

Jam pelaaran kedua, adalah prime time dalam hari-hari SMA. Pada jam pelajaran kedua, aku terbiasa untuk bernafas lega, setelah sebelumnya harus menghabiskan waktu di ruang BP karena terlambat datang. Pada jam pelajaran kedua, perut masih kenyang, terisi sarapan nasi telor khas ibu yang dibuat dengan rasa cinta. Otak masih segar, rambut masih basah oleh segarnya air ledeng yang kuguyur di pagi hari dengan mata setengah terbuka. Iya, pergi ke sekolah dengan rambut basah itu memalukan, tapi sialnya, aku tetap melakukannya.

Pada jam pelajaran kedua, matematika adalah sebuah batu loncatan yang tepat. Membuat kita bersemangat, sekaligus memaksimalkan tenaga yang kita miliki dengan sengatan yang dibutuhkan. Berbeda dengan pelajaran Bahasa Inggris pada jam kedua, yang membuatku ngantuk saking mudahnya. Atau Geografi, yang menurutku dulu tidak penting-penting amat. Dulu, sebelum aku bercita-cita untuk mengelilingi dunia bersamamu.

Pada jam pelajaran kedua, matematika adalah keberuntungan.

Pada akhirnya, matematika tidak pernah kutaklukkan, tapi aku berdamai dengannya.

Dan begitulah kamu. Sosok yang melelahkan. Sulit untuk kutaklukkan.

Kamu  dengan segala misterimu, nona, telah memberikan siksaan dan kenikmatan yang tak biasa.

Seperti halnya matematika dengan deretan angkanya yang bikin muntah, kamu membuatku ingin muntah. Memuntahkan kenangan-kenangan yang dulu sempat ada.

Karena seperti matematika, aku tahu aku tak akan pernah menaklukkanmu. Aku ingin berdamai denganmu. Menjumlahkan setiap kemungkinan yang ada bersamamu. Membagi setiap kebahagiaan yang ada bersamamu. Mengurangi setiap luka yang ada bersamamu. Mengkalikan… setiap cinta bersamamu.

Karena kenangan, layaknya angka dalam matematika, selalu ada yang lebih besar.

Jadi, nona, siapkan pensil dan kertas coretanmu, karena besok, pada jam pelajaran kedua, akan kuajak kau untuk belajar matematika bersama.

Jogja, 26 April 2015

Tinggalkan komentar

Filed under Full fiksi

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s