Cerpen HAI : The Last Dance

blog post cerpen hai

Cerpen ini sudah pernah dimuat pada majalah HAI edisi 08/2015. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya cerpen saya dimuat di majalah HAI. Jadi, izinkan saya untuk sedikit ndeso dan mempublisnya di blog ini. Hehe. Selamat hari Rabu, kamu, yang dari tadi benerin jilbab. :*

The Last Dance

Save the last dance for me…”

Itulah pesan yang gue berikan untuk Sonya. Pacar gue.

Pesan itu merupakan pesan khusus, bahkan terkesan memohon. Kenapa? Karena gue bukanlah seorang penari yang handal. Bahkan, gue bukanlah penari sama sekali. Iya, gue nggak bisa nari. Sedangkan Sonya adalah anggota Cheer sekolah, yang walaupun tidak menjadi kapten, tapi sudah menjadi pengetahuan umum kalo dia adalah cewek yang paling jago untuk urusan nari.

Gue dan Sonya udah kelas 12, dan besok saat prompt night, gue berharap gue dapat dansa romantis bareng dia di panggung utama. Yap, sebagai prompt king and queen.

Gue berharap bisa menutup masa sekolah dengan kenangan yang indah. Seperti kebanyakan anak SMA lainnya.

Untuk mewujudkan mimpi itu, gue nggak bisa sekadar pasrah. Bagaimanapun juga, peraturan untuk menjadi king and queen di sekolah gue adalah peserta harus mendaftar dan menari solo di panggung terlebih dahulu. Setelah itu barulah juri dan para penonton memutuskan untuk memilih king and queen. Sebuah tugas berat untuk seorang penari pemula seperti gue.

Tapi, seperti yang tadi gue bilang, gue nggak berdiam diri. Untuk mewujudkan itu, gue udah berlatih nari selama dua bulan terakhir. Di sela-sela persiapan untuk ujian nasional dan ujian masuk Universitas, gue tetap menyempatkan untuk berlatih. Demi berdansa dengan Sonya!

Gue gila? Nggak juga. Gue cuma nggak bisa ngebayangin Sonya bakal dansa romantis sama cowok lain di prompt night nanti. Karena yah, menurut survey yang diadakan majalah sekolah, Sonya adalah calon kuat untuk menjadi prompt queen. Calon kuat untuk prompt king? Marcel! Si kurus berwajah manis yang mirip banget dengan personil boyband korea! Gue bersumpah gue nggak akan ngebiarin Sonya dansa bareng sama Marcel! Ngebayangin aja udah mual!

Karena itulah, gue berlatih keras dan sangat yakin, gue bakal menari solo dengan indah waktu prompt night besok. Dan akhirnya, tentu saja menjadi prompt king.

***

Akhirnya tiba juga kesempatan gue untuk menari solo di panggung. Gue udah berlatih keras menyelaraskan gerakan gue dengan lagu Get Down-nya Backstreet Boys. Jadul sih, tapi jangan lupa, kualitas lagu jadul seringnya lebih tinggi dibanding lagu zaman sekarang. Kalau nggak percaya, lihat aja lagu Dewa yang dulu dan yang baru, sama-sama ditulis oleh Ahmad Dani, tapi rasanya beda.

Gue memantapkan diri naik ke panggung. Menunggu lagu gue diputer dan…

Saat melihat mata penonton, gue mendadak grogi. Gawat!

Gue beneran grogi dan lupa dengan semua gerakan yang udah gue latih.

***

“Gimana penampilan gue tadi?” Gue bertanya sama Zaki dan Sony, sohib gue.

“Penampilan lu kayak lumba-lumba di Dufan yang belum dikasih makan satu minggu!” jawab Zaki sambil nyengir.

“Penampilan lu kayak guru ngaji disuruh nyanyi lagu dangdut di nikahannya kakak gue!” Sony langsung nyambung omongan Zaky. Lalu mereka ber-high five.

“Penampilan elu kayak pemain bola yang baru aja gagal nendang penalty!”

“Penampilan lu kayak lagi sprint pake high heels.

“Itu tadi elu ya? Gue kirain tengkorak di Lab Biologi!”

Dan hinaan itu terus berlanjut sampai beberapa menit. Hingga akhirnya Sony nyerah. Udah keabisan ide buat ngehina gue katanya.

“Kalian baik banget ya, ngasih kode doang. Langsung aja bilang ‘jelek’ sih…” protes gue.

Lagi-lagi mereka ber-high five. Sialan.

“Tenang aja bro, kita doain deh biar Sonya kalah, jadi nggak perlu nari di atas panggung gitu, hehe.” Setelah puas ngejekin gue, Zaki mencoba menghibur.

“Tapi gue nggak yakin, nyet. Soalnya tadi waktu dia nge-dance banyak banget yang tepuk tangan. Mana cowok-cowok ngeliatinnya semangat banget lagi!” balas gue.

Mereka langsung siul-siul sambil natap ke atas. “Habis dia cantik banget, bro. Berasa ngeliat Nabila Jeketi perform langsung,” bisik Sony. Pelan banget sih, tapi udah cukup bikin gue misuh-misuh.

***

Akhirnya waktu pengumuman tiba. Gue udah pasrah Sonya bakalan dansa bareng Marcel di atas panggung. Gue akuin tadi Marcel emang keren banget narinya. Gue aja sampai ikutan manggut-manggut waktu liat dia joget. Gue kalah telak!

Gue pasrah bakalan ngeliat pacar gue dansa romantis bareng cowok lain.

Tiba-tiba gue merasa tangan gue ditarik. Sonya!

“Ayo, beb, ikut aku!” bisiknya padaku. Tepat di samping telingaku. Rasanya, serrrrr.

“Tapi pengumumannya gimana?”

“Udah sini, buruan!” Dia menarik gue lebih kuat. Dan gue pun tentu saja nurut, kayak kebo yang dicocor hidungnya.

Setengah berlari kita pergi meninggalkan aula sekolah, berjalan menaiki tangga, hingga akhirnya kita sampai di loteng sekolah. Dari sini, pemandangan kota Jakarta di malam hari terasa romantis. Lampu mobil yang terjebak macet ternyata kalau dilihat dari jauh jadi keliatan romantis.

“Kok malah ke sini?” tanyaku setelah berhasil mengatur nafas. Masih muda tapi udah loyo.

“Eh, waktu kamu bilang save the last dance for me, itu kamu nyontek judul lagunya The Drifters ya?” Bukannya menjawab pertanyaan, dia malah balik nanya ke gue.

“Iya,” jawab gue singkat.

“Haha! Jadul banget!”

“Eh, jangan salah, kualitas lagu jadul seringnya lebih tinggi dibanding lagu zaman sekarang. Kalau nggak percaya…”

“lihat aja lagu Dewa yang dulu dan yang baru, sama-sama ditulis oleh Ahmad Dani, tapi rasanya beda.” Sonya ngelanjutin kata-kata gue. Gue terhenyak. “Iya, aku udah hafal kata-kata kamu itu. Aku kan udah jadi pacar kamu setahun.”

“Terus?”

“Terus ya, aku nepatin janjiku. I save the last dance for you.

“Terus prompt night-nya gimana?”

“Nggak penting. Kamu lebih penting,” ucapnya. Gue merasa ada rasa aneh di dada. Sesak, tapi menyenangkan. “Yuk dansa sekarang.” Dia makein earphone ke telinga kanan gue.

Thanks for saving your last dance for me, dear.

Solo, 7 Februari 2015

6 Komentar

Filed under Full fiksi

6 responses to “Cerpen HAI : The Last Dance

  1. Ciyeee.. Saik deh masuk hai.. mampir dong yan sekali2 ke blog aku hahaha..
    *lebih ndeso kan?*
    http://lantai-dansa.blogspot.com

  2. ecieh… selamat ian, dimuat di Hai.
    full fiksi ya? enggak ada inspirasi dari pengalaman nyata kan? :p

  3. Saik, apa itu, haha!

    Siaaap bunda yang paling cantik!😀

  4. Ecieeee, makasih Merry, besok aku harus minta tanda tanganmu yap! hehe

  5. Gayaaaaaa Ian gayaaaaaa. Traktir atuuuh!

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s