Aitzaz Hasan dan Malala, Cahaya yang Berjalan Lurus di Puing-puing Terorisme

blog post syuhada

ISIS semakin merajalela di Indonesia. Ketakutan demi ketakutan bermunculan di benak kita. Apakah ISIS adalah simbol resmi makna jihad dalam islam? Tidak ada benang merah memang, tapi mari kita ingat kembali Aitzaz Hasan dan Malala, dua anak kecil yang pantas kita sebut sebagai syuhada sejati.

Antara ISIS, Malala, dan Aitzaz Hasan memang tidak nyambung sama sekali. ISIS adalah kelompok garis keras Islam di Irak dan Syam (Syiria), Malala adalah tokoh pendidikan asal Pakistan, dan Aitzaz Hasan adalah seorang penghadang bom bunuh diri juga dari Pakistan. Ketiganya tidak nyambung. Tapi, jika kita tarik garis lurus dengan lebih sederhana, mungkin kita akan menemukan kesesuaian di antara ketiganya.

Bocah nekat itu bernama Aitzaz

Perkenalkan Aitzaz Hasan, dia adalah seorang anak pemberani yang menekel orang asing dengan rompi berisi bom. Kala itu, dia bersama saudara dan teman-temannya sedang berada di sekolah, lalu melihat sosok mencurigakan dengan rompi bom (yang tentu saja, mudah ditebak akan melakukan tindakan paling banci di dunia: bom bunuh diri). Teman-temannya ketakutan, tapi Aitzaz bergeming. Dia memilih untuk mencoba menghentikan si pengebom sambil berujar, “Akan kuhentikan dia. Dia akan membunuh teman-temanku,” kepada teman-temannya.

Setelah itu, sejarah menjadi saksi. Bom meledak dan Aitzaz tewas.

Tak ada korban lainnya.

Hari itu tidak dikenang sebagai hari meledaknya bom yang menewaskan ribuan orang. Hari itu, kita mengenang aksi heroik seorang bocah untuk teman-temannya.

Dia tahu dia bisa terbunuh saat menghampiri si orang asing. Pun begitu, dia tetap mendekat. Mencoba menghentikan bom meledak.

“Anakku membuat ibunya menangis. Tapi dia mencegah 2000 ibu lainnya menangis karena kehilangan anaknya,” kenang Mujahid Ali, ayah dari Aitzaz.

Alih-alih membunuh orang atas nama agama, Aitzaz memilih untuk menyelamatkan temannya. Dan bagi saya, itulah jalan syuhada yang sebenarnya.

Malala, pejuang pendidikan.

Membahas Malala mungkin sudah membosankan bagi sebagian orang. Dia sudah “terkenal” sejak tahun 2013 lalu. Namun tidak ada salahnya saya sedikit membahas cerita Malala yang mengharu-biru.

Awalnya, Malala hanyalah pejuang pendidikan biasa, sama seperti ribuan pejuang pendidikan lainnya yang tidak begitu digubris oleh media. Kisahnya mungkin kalah tenar dibanding kisah pacar baru Taylor Swift, atau kisah kenakalan lain dari Justin Bieber.

Tapi, itu semua berubah sejak timah panas dari Taliban menembus kepalanya.

Secara ajaib Malala berhasil selamat dan pindah ke Inggris. Dari situ, hidupnya mulai bahagia. Dia dapat menempuh pendidikan tinggi dan bahkan berpidato di forum PBB dan mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat dunia. Dia bahkan digadang-gadang akan mendapatkan nobel perdamaian. Kelanjutannya saya tidak tahu.

Malala mengatakan, bahwa dia lebih ingin dikenal sebagai pejuang pendidikan perempuan dibanding sebagai perempuan yang ditembak kepalanya oleh Taliban. Dan mungkin, keinginannya sekarang sudah terwujud. Mungkin.🙂

Pendapat Malala-lah yang menggelitik saya. Saya sependapat dengannya bahwa pendidikan adalah yang paling penting untuk mengubah nasib seseorang. Bukan pecut, golok, dan bedil seperti yang digunakan ISIS.

Ketika Aitzaz menunjukan kepada kita, bagaimana frasa “berani mati” seharusnya dipraktekkan dengan benar, Malala di sisi lain, menunjukan kepada kita, cara memahami frasa “berani mati” dengan benar: melalui pendidikan.

ISIS memang beragama islam. Tapi satu yang pasti, islam bukanlah ISIS.

sumber:

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-07-13/malala-yousafzai-remaja-perempuan-pakistan-yang-ditembak-taliban-berpidato-di-hadapan-pbb/1160762

http://media.kompasiana.com/buku/2014/10/13/i-am-malala-sebuah-kisah-luar-biasa-si-penerima-nobel-perdamaian-itu-680042.html

http://www.bbc.com/news/world-asia-25663992

http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam

2 Komentar

Filed under Freedom to speak

2 responses to “Aitzaz Hasan dan Malala, Cahaya yang Berjalan Lurus di Puing-puing Terorisme

  1. Miris dengan keadaan saat ini. Mana benar mana salah. Apalagi kalau Iman dikaitkan dengan “kebenaran” untuk mencabut nyawa orang lain.

  2. Emak Mbolang, iya setuju sekali. Iman sudah menjadi pembenaran untuk segala nafsu.😦

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s