Seandainya Saya Anies Baswedan

Anies Baswedan

Anies Baswedan adalah seorang Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar-Menengah di era Jokowi ini. Dan saya hanyalah seorang jomblo ganteng yang belum kunjung lulus kuliah. Jadi apa hak saya untuk berandai-andai menjadi Anies Baswedan? Well, anggap saja saya menggunakan hak saya sebagai manusia yang memiliki daya imajinasi. Hehe.

Jadi, terkait kisruh kurikulum 2013, apa yang akan saya lakukan seandainya saya Anies Baswedan?

Semua teman tentu tahu, bahwa Anies Baswedan telah menunda penggunaan kurikulum 2013 terhadap sekolah-sekolah yang baru satu semester menerapkannya. Sedang untuk sekolah yang telah menggunakan kurikulum 2013 selama 3 semester dipersilahkan untuk tetap di kurikulum 2013. Tapi, apabila pihak sekolah keberatan, boleh mengirimkan surat untuk kembali pada KTSP. Belum tahu beritanya? Ada di sini.

Sebelum menunjukan pengandaian saya, saya ingin membreak-down masalah yang muncul gara-gara kebijakan Pak Menteri itu.

1. Buku yang terlanjur dicetak nasibnya jadi tidak jelas.

Dalam beberapa berita di televisi (terutama televisi yang kontra dengan pemerintah), saya melihat pengusaha percetakan yang kebingungan karena kemungkinan besar akan merugi gara-gara keputusan Pak Menteri itu. Buku-buku yang sudah dicetak dengan konten yang disesuaikan dengan kurikulum 2013, tentu saja tidak jelas nasibnya. Mana ada toko buku yang mau ambil? Sementara sekolah-sekolah sudah pasti tidak mau membelinya. Jadi, buku yang sudah dicetak akan menjadi kerugian bagi pihak percetakan.

2. Para pelaku pendidikan (guru, murid, dll) menjadi bingung.

Saya memiliki tante seorang guru, dan dia menjadi bingung. Saya juga punya teman yang keluarganya adalah guru, dan tentu saja, dia menceritakan kebingungan keluarganya itu. Ya, para guru sekarang sedang berada di dalam kebingungan. Mau menggunakan materi ajar yang mana tahun ini?

3. Indonesia terkesan mencla-mencle.

Semua program (dianggap) sudah siap. Buku sudah dicetak. Guru sudah dilatih. Dan beberapa sekolah bahkan sudah mengujinya. Lalu mengapa tiba-tiba pak menteri memutuskan untuk mengembalikannya? Mencla-mencle.

Yap, itulah permasalahan yang timbul karena keputusan berani Bapak Menteri. Sekarang, izinkan saya untuk mengutarakan pendapat saya, seandainya saya adalah Anies Baswedan.

Jadi, apa yang akan saya lakukan jika saya adalah Pak Anies?

Sekarang begini, kita sudah melihat beberapa permasalahan di atas, dan kita tentu sepakat bahwa keputusan Pak Anies sangat merugikan para guru dan para pengusaha di bidang pendidikan.

Tapi pertanyaannya, apakah siswa dirugikan?

Untuk kalangan siswa sendiri, saya membaca di beberapa forum ataupun status di fb terkait keputusan pak Menteri ini. Dan hasilnya menunjukan bahwa siswa sendiri masih terbelah, ada yang setuju dan tidak setuju. Tapi, kebanyakan yang saya baca (yang saya baca loh ya) menyetujui langkah ini. Karena kurikulum 2013 memang bagi sebagian pihak dianggap masih lucu dan belum benar-benar siap untuk digunakan.

Ya, jadi memang, keputusan pak Menteri ini merugikan para guru dan pengusaha percetakan. Tapi kerugian mereka cuma setahun dibandingkan masa berkecimpung mereka yang mungkin sudah belasan tahun. Kalau siswa, setahun saja mereka mengalami kerugian karena kurikulum yang tidak jelas, akan sangat berpengaruh. Ingat, siswa hanya 12 tahun saja di sekolah (pada umumnya).

Mungkin itulah alasannya Pak Anies langsung membuat keputusan yang super cepat. Tidak perlu memberikan persiapan yang terlalu lama. Toh, kita semua berasal dari generasi pecinta deadline. Kamu boleh memberi waktu saya 1.236.544.234 hari untuk mengerjakan PR, dan saya akan tetap mengerjakan PR sehari sebelumnya. :p

Mungkin Pak Anies memilih untuk mengorbankan para pelaku pendidikan (sedikit) daripada merugikan para siswa. Ingat, kebijakan soal pendidikan tolak ukurnya tidak pernah bisa didapatkan dengan cepat. Untuk melihat berhasil tidaknya proses pendidikan, butuh waktu beberapa tahun.

Jadi, seandainya saya adalah Anies Baswedan, tentu saja saya akan melakukan hal yang sama dengan Pak Anies. Meskipun saya ragu, apakah saya akan mempunyai nyali sebesar Pak Anies.

13 Komentar

Filed under Freedom to speak

13 responses to “Seandainya Saya Anies Baswedan

  1. Ini salah satu menteri paporit akoooooh!

  2. Ade

    Susah sih posisinya. Pilihan keduanya sama-sama akan merugi. Tapi lebih baik pihak penerbit yg rugi dari pada pihak siswa karena kurikulum terkesan lucu dan kurang sempurna. Tapi sebaiknya ya dikaji lebih dalam dulu sebelum kurikulum itu ditetapkan.

  3. Wah, bener banget kalo pelajar menyetujui k13 dihilangkan. Tapi sekolah gua tetep melanjutkan. Disitu kadang saya merasa sedih

  4. Ya, gue inget dan mengerti kejadian ini. Antara mau protes dan hanya bisa diam. Soalnya gue bukan siswa lagi.

    Tapi, gue merasa miris dengan adanya kenyataan bahwa semua udah terjadi, namun harus dihentikan karena alasan uji coba. *alasan macam apa, ini*

    Harusnya, untuk kedepannya. Bapak menteri lebih jeli menimbang dan mengukur seberapa mampu aplikasi ia untuk dijalankan. Harusnya gitu.

  5. Yang bikin sengsara itu, belajarnya sampe jam 5, gila kan? Untuk udah ganti, sekarang sampe jam 6 (lah?)!

  6. Fasya: terus aku jadi paporit kamu gak? :p

  7. Robby: Haha, tetep semangat blajar aja bro!😀

  8. Pangeran wortel:Setahu gue sih kebijakan ini diputuskan oleh Menteri Pendidikan sebelumnya bro. (tahu kan siapa? Hehe) Yang dilakukan Anies adalah memperbaiki kesalahan yang kamu sebutin di atas. Setahu saya loh, hehe

  9. Ahmad Fajar Azis: Bahahahahaha. Gak papa bro, entar setelah sekolah, belajar terus juga kok sampai mati.😀

  10. Pratiwi: Yap, bisa dibilang begitu sih.🙂

  11. Paporit banget. Selamat ya.

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s