Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Belanja Online secara Collective Group Buying pada Kalangan Anak Muda Yogyakarta

kebutuhan dan nafsu

Artikel ini bersumber pada penelitian yang dilakukan Khalida Noor, mahasiswi UGM jurusan Sosiologi pada tahun 2013 dengan judul “Anak Muda dan Budaya Belanja Online” (Studi tentang Perilaku Collective Group Buying di Mbakdiskon.com pada Kalangan Anak Muda Yogyakarta).

Jadi ceritanya saat itu saya sedang berjalan-jalan di perpustakaan bagian referensi di Kampus. Alasannya, kamu tahulah apa, hehe. Nah, ketika sedang seru-serunya ngerjain skripsi (ini serius) saya malah melihat sebuah skripsi dari jurusan lain yang menurut saya cukup menarik. Maka, dengan alasan ingin berbagi kepada segenap pelaku bisnis online di Yogyakarta yang sedang bersemangat, saya berniat untuk berbagi ilmu hasil penelitian Mbak Noor (panggilan sok akrab, padahal kenal juga nggak) kepada dunia. Saya hanya menukil sedikit saja informasi yang ada pada skripsi beliau, kalau teman-teman tertarik dan ingin mempelajari lebih lanjut lagi soal Anak Muda dan Budaya Belanja Online, khususnya Collectiv Group Buying, silahkan langsung saja menuju ke perpustakaan Fisipol UGM yang sangat lengkap itu (tapi tetep kurang lengkap tanpa adanya skripsi saya menghiasi rak buku mereka).

Oke, jadi langsung saja, faktor-faktor apa yang mempengaruhi perilaku belanja online secara collective group buying pada kalangan anak muda Yogyakarta? Mari kita lihat bersama.

Tapi sebelumnya, izinkan saya untuk bercerita singkat tentang apa itu Collective Group Buying. Bukan bermaksud sok pintar, hanya menyamakan persepsi saja. Ingat, banyak perceraian terjadi karena adanya perbedaan persepsi tentang apa itu pernikahan… Halah.

Saya kutip dari Khalida Noor (2013), bahwa collective group buying dicetuskan oleh Andrew Mason pada tahun 2008 di Chicago. Collective group buying merupakan tindakan dalam membeli kupon diskon secara kolektif dengan cara mengumpulkan massa melalui metode penyebaran informasi dari mulut ke mulut (word of mouth) untuk membeli suatu produk secara bersamaan (berkelompok) yang bertujuan agar penawaran diskon tersebut aktif (bisa digunakan).

Oke, kira-kira begitulah konsep dari collective group buying yang akan kita bicarakan setelah ini.

Sekarang, kembali pada pertanyaan awal, faktor-faktor apa yang mempengaruhi perilaku belanja online secara collective group buying pada kalangan anak muda Yogyakarta?

  1. Kemampuan Finansial

Yap, kemampuan finansial masih menjadi salah satu faktor penting dalam perilaku belanja anak muda. Dan prinsipnya pun sederhana: semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin besar kecenderungan untuk berperilaku konsumtif.

Kurang lebih, mungkin seperti saya yang biasanya bingung mau makan di mana ketika punya uang 200 ribu di dompet, dan dengan mudahnya memutuskan untuk makan nasi telur di burjo ketika hanya punya uang 10 ribu di dompet. Hei, kamu juga gitu kan?

  1. Selera

Pada zaman dulu, pemenuhan kebutuhan manusia hanya didasarkan pada means of needs, atau kebutuhan yang sebenar-benarnya. Misalnya, kita makan karena kita lapar. Sesimpel itu. Tapi kemudian pada zaman yang lebih modern, muncullah yang namanya means of value, ketika pemenuhan kebutuhan tidak sekadar kebutuhan dalam arti harfiah, tapi juga nilainya. Kalau bisa makan yang enak dan mahal, kenapa harus makan yang murah? Kenapa bangsawan tiongkok suka makan sirip hiu yang harganya satu piring bisa berjuta-juta? Karena mereka bisa. Kurang lebih seperti itu.

Nah, pada akhirnya, fenomena di atas menjadikan selera sebagai salah satu alasan anak muda melakukan belanja online menggunakan diskon. Karena dengan bantuan diskon itu, mereka bisa memenuhi selera mereka seperti makan di kafe yang bagus dan terkenal, dapat tempat nongkrong bersama teman-teman, -dan untuk kasus anak muda- mencoba sesuatu yang baru, dll. Dan semua itu bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah.

  1. Eksistensi Diri

Sekarang, sudah muncul istilah “saya berbelanja, maka saya ada.” Entah dari mana istilah dan prinsip seperti itu bisa digunakan. Kalau saya pribadi sih lebih suka dengan prinsip “orang tua saya menikah, maka saya ada.”

Nah, terus apa hubungannya istilah di atas dengan faktor ketiga mengapa anak muda Yogya mau berbelanja online? Ya, karena belanja (online) sudah dianggap sebagai salah satu bentuk eksistensi diri. Karena itu, dengan adanya faktor ini, mungkin kamu sebaiknya membuat pengalaman berbelanja brand kamu adalah sesuatu yang bisa membanggakan untuk para konsumen.

Dalam kasus ini, salah satu contoh brand yang buruk adalah Sutra, karena setiap pembelinya pasti malu-malu saat melakukan transaksi. Saya belum pernah lihat teman facebook saya meng-upload foto Sutra dengan deskripsi: “Habis beli Sutra nih, saatnya beraksi!” BELUM PERNAH!

  1. Kelompok Teman Sebaya/Peer Group

Sebagai seorang cowok normal, ketika saya punya pacar baru, saya akan sangat tidak sabar untuk segera menceritakannya pada teman-teman se-geng saya. Saya akan menikmati saat-saat di mana teman-teman saya yang dari dulu ngejekin saya jomblo itu ternganga melihat pacar saya yang cantiknya bukan main itu. Sayang, sampai sekarang itu belum pernah terjadi. Selain karena saya tidak kunjung punya pacar, juga karena saya tidak punya teman se-geng. Saya hina.

Dalam konteks berbelanja, ternyata kebiasaan berbelanja online secara collective group buying juga sangat dipengaruhi oleh teman sebaya ini. Seperti yang dikatakan Penguin Dictionary of Sociology edisi 2000 dalam Noor (2013), ciri budaya anak muda yakni menekankan pada hubungan pertemanan dari pada keluarga, lebih tertarik pada gaya.

Ya, bagi anak muda, teman jauh lebih penting daripada keluarga, setidaknya secara umum seperti itu. Karena bagi saya (yang tentu saja masih tergolong sebagai anak muda, iya kan?) saat ini skripsi lebih penting daripada teman (dan mantan) yang sebentar lagi akan menikah. Malah tjurhad.

  1. Iklan

Ya, untuk faktor yang ini, saya tidak ingin membahas terlalu banyak. Karena iklan walau bagaimanapun juga, masih memiliki faktor penting dalam kegiatan perekonomian.

Oke, sepertinya itulah semua faktor-faktor yang saya rangkum dari salah satu bab skripsinya Mbak Khalida Noor pada tahun 2013 kemarin. Semoga dapat bermanfaat dan memberikan insight untuk teman-teman yang ingin atau sedang berdarah-darah membangun bisnis online.

Kalau masih penasaran, silahkan langsung saja datangi Perpustakaan Fisipol UGM bagian referensi dan cari skripsinya Khalida Noor. Kamu boleh baca, tapi gak boleh dibawa pulang (tenang, sepertinya kalau mau selfie di perpus masih boleh kok).

14 Komentar

Filed under Digital Strategist

14 responses to “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Belanja Online secara Collective Group Buying pada Kalangan Anak Muda Yogyakarta

  1. Haha. Tulisan terakhirnya lucu yang selfie. Enggak nyambung tapi oke lah:p

    Ya, kawula muda sekarang memang sedang terkena wabah perilaku konsumtif sepertinya ya. Asal mereka mampu dan bisa, serta tidak meminta ke orang tua sih, menurut saya ya itu pilihan mereka. Kecuali mereka belum kerja. Minta uang ke ortu, buat belanja yg ternyata enggak penting. Duh, sayang banget duitnya mending buat umrah😀

  2. Pada dasarnya, semua hal itu memang menjadi faktor2 yang mempengaruhi tingkat belanja seseorang. Nice post gan.

  3. Kayaknya emang nomor 2 3 4 itu emang saling berhubungan bener-bener deh. Soal nya sudah banyak temen ku sih dari yg seumuran sampe yg udah usia kepala tiga pun lebih suka dan percaya sama online shop, terus mereka cerita2 gitu deh ke temen segeng nya. Sampe akhirnya di nobatkan jadi Ratunya belanja onlen. Dan eksis deh😀

    Eh, tapi tetap yang jadi masalah di sini, semoga skripsi nya lancaaaaar! Lupakan mantan yang sudah mau nikah wkwkwk

  4. Bener banget faktor-faktor diatas memang sangat mempengaruhi. Salah satunya yang karna teman se-geng itu. Ya bisa dibilang sebagai bahan pamer gitulah.

  5. jujur aja, gue sendiri baru denger tentang collective grup dan baru tau juga, klo artinya kayak gitu.

    yah, memang zaman sekarang lebih mementingkan gaya, life style ketimbang membeli barang” yg bener” d butuhkan. dan pengibaratan tentang uang itu, bener juga sih. klo beli online, kdangg emang sering khilafnya sih. khilaf buat asal beli gitu

  6. Ulasan yang menarik hehe. Sekarang kebutuhan manusia semakin komplek tapi uangnya cuma segitu aja. Jadi orang yg pengen barang online cenderung pilih yg gratis hehe

  7. Aisyah: Busyeeeet, kawula muda! Berasa tahun 90an gitu, haha!

  8. Giska: WKWKWKWKWK! Aamiin, terimakasih doanya, haha😀

  9. Didie: Yoa, bagus lah bahan pamer, daripada bahan yang lain, hehe…

  10. Fauzi: Yaaa, kadar prioritas orang emang beda2 ya bro? hehe🙂

  11. Dari awal udah ngira kalo judul postingan kayak judul skripsi, ternyata beneran :))
    Kalo aku belum pernah beli barang via online shop, haha. Bukan nggak percaya, cuma kurang yakin aja *lho?

  12. Dwi

    Jadi ini artikel buat skripsi ya Kak? Woooww keren dong haha. Semangat ya semoga skripsinya lancar.

    Aku sih mikirnya belanja online sesekali. Soalnya ya gitu kadang suka nggak memuaskan entah dari bahan, dari warna ataupun dari ukuran. Jadi selama masih bisa belanja keliling-keliling (apalagi baju) mending beli langsung. Bisa dicobain juga sih hehe

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s