Lelaki Pemurung di Senin Malam

did you ever love me?

Lelaki itu terlihat murung, dengan kacamata yang sedikit miring, berjalan gontai dan tanpa semangat hidup setiap pagi. Lelaki itu terlihat bingung, dengan semua yang ada di dekatnya. Aku kadang bertanya, apakah dia benar-benar paham apa yang sedang dia lakukan?

Aku selalu bingung, lelaki yang kulihat setiap hari berjalan lesu keluar kamar itu, seperti tidak bergairah dengan hidupnya. Apa yang ada di pikirannya? Tidakkah dia mempunyai gairah akan sesuatu? Mengapa bagiku, dia hanya terlihat seperti mayat hidup yang berjalan menuju pemakamannya sendiri, menyapa semua pelayat yang menangis–bahkan sebelum dia benar-benar mati–dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam peti mati.

Lelaki pemurung, apa yang gerangan engkau lakukan dalam hidup ini?

Kejadian itu tidak juga berhenti. Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, semakin lama aku semakin hafal dengan kebiasaannya. Pada pukul depalan pagi, dia akan keluar kamar dengan sebatang rokok. Duduk-duduk tidak jelas dengan posisi kaki yang tidak menentu, menunggu rokoknya terbakar habis oleh api terkutuk itu. Kemudian, dia akan melangkah masuk kamar mandi, masih dengan tatapan matanya yang tidak bersemangat itu. Keluar dari kamar mandi, badannya terlihat lebih segar, tapi tidak dengan matanya.

Matanya masih sama. Lemah. Tanpa harapan.

Setelah itu, dia akan pergi dengan pakaian rapinya. Lucu juga, biasanya saat aku melihat orang berpakaian serapi itu, dia akan berjalan dengan tegap, terlihat sibuk, dan penuh wibawa. Tapi hal normatif seperti itu tidak berlaku bagi lelaki pemurung itu. Tak peduli segagah apapun pakaiannya, tetap saja aku tidak melihat gairah dalam hidupnya.

Selanjutnya, tepat memasuki maghrib, lelaki pemurung itu kembali ke kamarnya. Dengan wajah lelah dan mata-yang tentu saja-kosong. Dia melepas bajunya, lalu kembali merokok dengan mencari tempat duduk di depan kamar, persis dengan yang dilakukannya tadi pagi. Setelah itu, dia mengurung diri di kamar. Tak pernah keluar hingga pagi. Begitu seterusnya. Kebiasaan itu terus kulihat selama setahun bersama dengannya.

Hingga akhirnya anomali itu terlihat. Bahkan, dalam beberapa saat aku merasa yang kulihat hanyalah fatamorgana yang penuh kepalsuan. Dia tersenyum!

Ya, dalam malam dingin di hari senin, aku tiba-tiba melihat dia tersenyum. Senyum yang jauh dari basa-basi. Senyum yang bahkan membuat matanya terlihat menyala bahagia (cukup untuk membuat aku mendadak bergairah untuk memeluknya). Senyum yang aku yakin datangnya dari hati.

Penasaran dengan kejadian yang bagiku seperti badai matahari itu, waktu itu aku langsung bertanya padanya. Dan jawabannya terlalu klise dan picisan. “Aku sedang jatuh cinta,” katanya. Omong kosong!

Ya, omong kosong. Dia memiliki banyak kisah cinta. Selama dia berjalan dengan tatapan tanpa harapannya dulu, dia selalu berhubungan dengan banyak wanita. Aku tidak pernah berpikir bahwa wanita adalah alasan dia tidak bersemangat hidup. Tidak pernah!

Namun, sampai sekarang, berhari-hari setelah peristiwa di Senin malam itu terjadi, aku masih melihatnya dengan senyum manisnya itu. Lelaki pemurung yang selalu aku temukan setiap pagi dan sore itu telah berubah. Dia terlihat seperti badut yang mudah tertawa (dan membuatku tertawa) sekarang. Dia terlihat ceria, dan matanya… entah bagaimana aku menggambarkannya. Matanya penuh dengan api, seakan-akan tak sabar menunggu hari esok akan datang.

Tak kuasa untuk menahannya lebih lama lagi, aku harus bertanya padanya sekali lagi hari ini.

***

“Aku sedang jatuh cinta, pada wanita yang senang memberi bonus pada senyumnya,” jawab Lelaki itu. Membuatku ingin muntah.

“Bagaimana mungkin jatuh cinta bisa mengubahmu? Sementara kamu sudah sering jatuh cinta, dengan puluhan wanita yang berbeda?” Aku masih belum puas, dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan tambahan.

“Mudah bagimu berkata begitu, kamu belum pernah melihat senyumnya secara langsung,” balasnya dengan tatapan mata yang masih sama, bergairah.

“Jatuh cinta hanya akan membuatmu bahagia sesaat, begitu endhorpin yang menjalari tubuhmu habis, kamu akan kembali menjadi mayat hidup!” Kesintingannya karena omong-kosong-cinta ini harus kuakhiri dengan sedikit penjelasan logis dan ilmiah.

“Lalu, kenapa itu menjadi masalah buat kamu?”

“Tentu saja ini menjadi masalahku! Sudah setahun lebih sejak kamu memutuskan untuk mengucapkan sumpah di hadapan orang tua kita! Sudah setahun lebih, dan sekarang aku harus percaya bahwa satu-satunya alasan kamu bisa tersenyum bahagia adalah karena kamu sedang jatuh cinta, pada wanita yang senang memberi bonus pada senyumnya? Omong kosong apa ini?”

“Bukankah kita sudah sepakat, bahwa tidak ada perasaan apapun diantara kita? Hanya ikrar tanpa makna, yang terjadi demi menjaga persahabatan antara orangtua kita?”

***

Lelaki pemurung menghilang sejak senin malam keparat itu. Lelaki pemurung yang entah kenapa, sejak dia menghilang justru membuatku tergila-gila padanya.

Yogya, 23 September 2014

 

17 Komentar

Filed under Full fiksi

17 responses to “Lelaki Pemurung di Senin Malam

  1. Ini yang bercerita seorang cewek ya? Yang merasa kehilangan ketika lelaki pemurung itu pergi. Ya, cinta memang gitu sih. Akan terasa lebih berharga kalau sudah tiada.

  2. ini masih ada lanjutannya ian? emm, salut deh ngambil angle dari sisi cewe. referensi apa yang kau baca? atau jangan jangan sebenernya kau ini…. 😛

  3. bagaimana bisa cinta mengubahmu? ya bisalah 😀 cinta yang membuat kita tetap hidup, cinta yang membuat kita ada, yang membuat orangtua kita memutuskan memelihara kita ><

    ini fiksi, atau nonfiksi yang difiksikan supaya nggak ketauan curhat kayak aku? eh

  4. Didie: Enggak, yang cerita cowok kok, *loh

    Hehe, setuju broh 🙂

  5. Giska

    Gak ada, gantung banget ya? Haha

    Sebenarnya aku apaaa? 😛

  6. Nur Aini NS:

    Hahahaha, enggaaaak mba, ini murni fiksi, 😀

  7. Ooh ceritanya dari sudut pandang si cewek. Gue pikir dari lu yan. Wahaha udah geli duluan gue denger udah nikah. Nikah di Belanda kali ya.. Sesama jenis. 😄

  8. waw so sweet menikah atas dasar perjodohan, namun demi menjaga harkat martabat orang tua akhirnya setuju. namun pada akhirnya saling jatuh cinta. keren abis.

    menikahi orang kita cinta i itu sebuah kebetulan
    tapi mencintai orang yg kita nikahi adalah kewajiban

  9. Emang bener kata orang ‘cinta datang karena terbiasa’ iya, kayak cerita di atas. Terbiasa melihat si lelaki pemurung dengan rutinitasnya. Begitu ia berubah, atau pergi, terasa ada yang hilang gimana gitu ahhh. Btw, Ini fiksi apa curhat??

  10. Erick :

    Hahahahaha, kok lu tahu banget rick, jangan-jangan… :p

  11. Mas Rinem: Wawww, quotenya keren mas 😀

  12. Latifah:

    Haha, hayo curhat apa fiksi? Hehe 😀

  13. ini yg bercerita cewek kan? wah kasihan banget tuh cewek dinikahi lelaki pemurung itu.

    ada kelanjutannya kah? gimana nasib ikrar yg mereka ucapkan? berarti mreka sma aja dong ngelanggar ikrar?

  14. Hahaha, ya gitu deh, silahkan diawang-awang sendiri, hehe :p

  15. suka bagian andingnya “Lelaki pemurung menghilang sejak senin malam keparat itu. Lelaki pemurung yang entah kenapa, sejak dia menghilang justru membuatku tergila-gila padanya.”

    Memang kita bisa jatuh tergila-gila dengan seseorang ketika ia sudah pergi

  16. ini gue rasa lg curhat nih, si penulisnya, eh gue kiara tadi nama lo afgan taunya agfia #tipis yah. haha

  17. katamiqhnur.com

    mantap ceritanya..
    visit back yaa..
    katamiqhnur.com

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s