Teori Cermin Barber Shop

Man jump

Dalam menjalani kehidupan ini, kita tentu selalu dituntut untuk hijrah dan berkembang dari kehidupan yang sudah kita miliki. Saya tidak akan bilang itu sebagai tindakan “keluar dari zona nyaman”, tapi lebih sebagai move on. Ya semacam itulah.

Move on ini pun tidak terbatas pada satu aspek kehidupan saja, melainkan banyak hal. Move on dalam dunia pekerjaan, cinta, lingkungan, dan bahkan gaya hidup.

Masalahnya, seringkali kita merasa kesulitan untuk meninggalkan apa yang sudah kita miliki sebelumnya untuk membuat perubahan. Bukan begitu? Misalnya, tiba-tiba sulit sekali melupakan kenangan akan si mantan, atau saat akan lulus dari SMA, mendadak semua yang dilakukan di SMA begitu menyenangkan.

Hal itu, menurut analisis bodong saya, sebenarnya sama saja dengan cermin di barber shop. Tahu kan cermin di Barber Shop atau tempat cukur rambut? Biasanya cowok yang mengalami ilusi ini. Ketika kita akan memotong rambut, lalu kita harus antri, dan sesaat kita melihat bayangan kita di cermin, kita mendadak merasa rambut kita bagus banget. Ya, hal itu sekejap akan membuat kita merasa gamang dan bertanya-tanya: benarkah memotong rambut adalah keputusan yang bagus? Atau minimal kita akan merasa sayang untuk memotong rambut kita.

Ya, hal itulah yang terjadi ketika kita hendak lulus dari sekolah. Dulu saat sekolah, semua yang ada di sana terasa menyebalkan. Bapak guru dengan kumis tebalnya yang seakan ingin memakan kita hidup-hidup. Suasana kantin yang panas dan pandangan ibu kantin yang mendelik dan bersiap untuk menangkap basah para pelaku gabrul (ambil makanan tapi gak bayar). Lorong sekolah yang ramai dan memuakkan. Semuanya terasa menyebalkan. Namun ketika kita akan lulus, mendadak Bapak Guru berkumis terlihat ganteng dengan senyum ramahnya. Mendadak suasana kantin menjadi ngangenin dengan bau masakannya yang menimbulkan hasrat. Mendadak lorong sekolah terasa romantis dengan suara bising anak-anak perempuan yang khas. Ya, segalanya mendadak terasa indah.

Begitu juga yang terjadi pada mantan, tempat kerja, dan bahkan juga kota yang akan kita tinggalkan. Ketika kita tahu kita akan meninggalkan mereka, mendadak semuanya terasa indah dan terjadi dalam slow motion. 

Dan satu yang saya percayai adalah: jangan percaya pada cermin barber shop itu!

Ya, keindahan yang kita rekam hanyalah pembiasan dari perasaan labil kita yang akan meninggalkan mereka. Pada akhirnya, kita harus memberanikan diri untuk melangkah, hijrah dan membuktikan sendiri sekaligus mencari pembanding yang tepat: mana yang lebih baik, tempat dahulu atau yang sekarang?

Lakukanlah leap of faith. Sebuah lompatan yang (mungkin) akan mengubah hidupmu selamanya.

Disclaimer: Teori ini berasal dari pengamatan amatir saya dan beberapa pengalaman pribadi saya dan orang-orang yang saya tahu, jadi mungkin saja teori ini sama sekali tidak tepat menurut kamu. Gak masalah, no hard feeling. Dan seperti teori-teori ilmiah pada umumnya, selalu ada kemungkinan teori ini salah dan akan berkembang dengan anti-tesis lainnya yang menyertainya. That’s the fun part, dude.

Tinggalkan komentar

Filed under Hipotesis Bodong

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s