Suatu Senja Bersama Batang Tikus

Matahari semakin turun. Temaram senja semakin terasa. Membuat aku teringat pada masa-masa lampau, di mana aku menikmati senja dengan duduk-duduk santai di depan rumah.

Kini, jangankan menikmati hangatnya mentari sore, untuk berjalan dan bicara dengan normal saja aku sudah kesulitan. Dulu aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku dengan alasan ingin terlihat produktif, dan sekarang, satu-satunya hal produktif yang dapat kulakukan adalah mencari batang tikus untuk dimakan. Menjijikkan? Meh, pernah satu waktu aku kesulitan menemukan batang tikus dan sangat kelaparan. Lalu aku mencongkel sedikit daging di pahaku untuk kumakan. Sekali lagi, daging pahaku sendiri! Batang tikus adalah makanan mewah untukku, seperti sirip hiu bagi orang-orang kaya di China.

Kau mungkin tak paham, siapa aku? Aku adalah manusia dengan kanker mulut yang mengenaskan. Kanker yang cukup untuk membuatku dijauhi seluruh keluargaku, dibuang tanpa harta apapun. Satu-satunya yang kumiliki adalah pakaian yang kukenakan. Menyedihkan.

Aku sudah berjalan cukup jauh, dan masih belum menemukan apapun. Hingga akhirnya di kejauhan aku melihat dua orang yang mirip denganku sedang bergelut. Pffft, mereka ini seperti anak sekolahan saja, menyelesaikan permasalahan dengan otot. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, kecuali kalau kau punya mulut rusak sepertiku.

Aku membutuhkan beberapa waktu untuk mendekati mereka. Dari jauh tidak begitu kelihatan, tapi begitu sudah dekat, aku dapat melihat hal-hal buruk pada diri mereka. Orang pertama terlihat menjijikkan dengan bagian dada yang berlumuran darah dan terbelah. Kalau melihat lebih dekat, aku bisa melihat beberapa binatang kecil keluar dari lubang di dadanya. Sedang orang yang kedua terlihat lebih menjijikkan. Ada lubang besar di lehernya, dan lalat seakan berpesta di sana.

awalnya, aku berniat memisah mereka dan mengajak mereka bicara layaknya orang dewasa. Tapi kemudian aku melihat sesuatu yang mengalihkan perhatianku, batang tikus! Aku harus mendapatkannya.

Akhirnya, alih-alih memisah mereka, aku justru ikut terlibat dalam pertarungan konyol mereka. Pertarungan yang sulit untuk dimenangkan, karena kami sama-sama cacat. Tak leluasa bergerak. Dan menjijikkan.

Setelah bergumul cukup lama, dan tak mendapat apapun, akhirnya otak kumuh kita mulai bekerja. Dengan badan yang lelah kita berbicara dan memutuskan untuk membagi batang tikus itu untuk bertiga. Malam ini aku makan mewah bersama teman-teman. Sungguh membahagiakan.

Setelah makan, kita memutuskan untuk mencoba mengenal satu sama lain. Bagaimanapun kita sudah makan bersama, kita seperti saudara sebatang sekarang. Seperti saudara sebotol, tapi sedikit lebih hina.

Si leher penuh lalat memulai bercerita. “Aku dulu adalah pria tampan yang kaya raya di usia muda, banyak wanita berebut untuk menjadi pasanganku,” bukanya. “Lalu, aku melakukan sesuatu, sesuatu yang sangat buruk. Semua orang sudah memberikan saran kepadaku untuk menghentikannya, tapi tetap saja, aku nekat. Aku berkilah, banyak orang lain di dunia yang melakukan hal yang sama denganku, tapi mereka baik-baik saja. Kenyataannya, aku tidak baik-baik saja. Sekarang inilah aku, menjadi zombie yang hina dan menjijikkan.” Dia menelan ludah, seperti akan mengatakan hal yang sulit dia terima kebenarannya, “akulah si zombie dengan kanker tenggorokan,” sambungnya.

Tunggu dulu, zombie?

Belum sempat aku menanyakan maksud zombie itu, si dada bolong sudah memulai ceritanya. Sepertinya mereka lebih cerewet dibanding kelihatannya. “Hal buruk? Coba kau bandingkan denganku leher bau, apa ada hal yang lebih buruk dari yang kulakukan ini? Aku dengan sengaja menggaruk paru-paruku dengan racun, lalu mengambilnya kembali, seolah itu adalah permainan. Mungkin itu memang permainan, permainan untuk menghancurkan diri sendiri.” Lagi-lagi, orang kedua ini juga menelan ludahnya, persis dengan si leher penuh lalat tadi, “akulah si zombie dengan kanker paru-paru.”

Tak sabar lagi, kupotong pembicaraan mereka dan menanyakan perihal zombie itu. Jawaban mereka pun serentak sama, “kita adalah zombie, tepatnya zombigaret! Bagaimana kau tidak menyadarinya?”

Aku gemetaran, bagaimana mungkin kini aku menjadi seorang zombigaret? Jangan-jangan, aku melakukan hal yang sama dengan mereka? Kutawarkan kepada si kanker tenggorokan dan kanker paru-paru untuk menyebutkan secara spesifik, apa ‘hal buruk’ dan ‘racun’ yang mereka maksud itu. Dan kita akan menyebutkannya secara bersama-sama.

Dalam hitungan ketiga.

“Rokok…”

Yogyakarta, 15 Mei 2014

Kadang kita tidak menyadari bahwa kita adalah zombie-hanya saja dengan tanda yang lebih samar.

8 Komentar

Filed under Full fiksi

8 responses to “Suatu Senja Bersama Batang Tikus

  1. Ian, mampir sini dulu ya, dapet lemparan award dari saya hehe http://fasyaulia.wordpress.com/2014/05/17/the-liebster-award/ selamat menulis.

  2. Wuihhh keren ceritanya, sy belum bisa nulis fiksi

  3. Siaaaap, makasih Fasya! segera dikerjakan😀

  4. Hihi, mari sama-sama belajar, kak!😀

  5. Asikkk dipanggil kakak berarti msh muda hehe

  6. Hihi, gak biasa manggil pake emak soalnya :p

  7. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s