Kenangan dan Kumis Tipis Suamimu

ian siluet

Kenangan, ketika sebuah kisah bergerak menjadi bayangan. Harapan yang didambakan, perlahan terlewati dan berubah menjadi siluet ingatan yang dipelihara.

Mungkin benar kata orang bijak, jarak antara kenyataan dan kenangan itu layaknya mata dan telinga. Dekat, tapi tak nyata. Mata kita, tak akan pernah bisa melihat telinga secara langsung. Untuk melihat telinga kita sendiri, kita membutuhkan bantuan cermin, atau foto instagram yang tak lupa kita beri hashtag #selfie. Dekat, tapi tak nyata.

Lalu, berartikah kenangan itu? Tanyakan saja pada fans Liverpool, yang mencintai klubnya dengan prestasi masa lampau. Kenangan menjuarai Liga Inggris, yang mungkin saat terakhir kali Liverpool melakukannya, mereka belum lahir. Sudah lahir pun percuma, tidak ada televisi yang menyiarkannya secara langsung waktu itu. Tidak seperti sekarang, ketika suasana lorong stadion pun dapat kita saksikan secara langsung dan gratis.

Karena kenangan itu selalu ada, bahkan menjadi alasan untuk mencinta di masa depan.

Kenangan itu pulalah yang memaksaku terus mengingatmu. Kenangan saat kita berjibaku mengayuh sepeda dua sedel saat memutari alun-alun Wonosobo. Kenangan saat kita sama-sama penasaran dengan wujud mie ongklok, untuk kemudian memakannya dengan lahap bersama (tentu saja dengan mangkuk yang terpisah). Kenangan saat aku selesai sholat shubuh, dan kaget melihat sosokmu duduk di ruang tamu rumah singgahku, dengan senyummu.

Aku tak pernah berhenti mengenangmu sejak saat itu. Hingga kita sudah lama berpisah, kenangan itu selalu ada. Menelusup dalam pikiranku tanpa permisi. Tidak sopan.

Kenangan membuatku kadang berharap untuk berubah menjadi kumis tipis di bibir suamimu kelak. Kumis yang tidak sengaja tersentuh bibirmu, saat engkau berciuman mesra dengannya. Kenangan sungguh kejam, bukan?

Karena kenangan tak tahu malu, suka keluar tanpa diminta, dan hilang saat dicari.

Ada satu hal yang menarik tentang kenangan. Bagiku, kenangan indah membuat kita murung saat mengingatnya. Sebaliknya, kenangan buruk dan bodoh, membuat kita tertawa lepas saat mengingatnya. Lantas, apakah bagiku lebih baik membuat kenangan bodoh daripada membuat kenangan indah?

Mungkin saja.

Tapi yang kupercaya, kenangan adalah jejak kaki di tanah liat. Kita berusaha untuk tidak membuatnya, namun seiring kita melangkah, toh jejak itu akan muncul juga. Sekuat apapun usahaku untuk menghindari kenangan, toh kenangan akan muncul juga. Jika pilihan ‘tidak membuat kenangan’ tidak ada dalam daftar hidup, berarti pilihan kita hanya ada dua, membuat jejak yang bagus, atau sebaliknya membuat jejak yang… berantakan.

Tentu saja, dengan pilihan terbatas itu, aku akan membuat jejak yang bagus. Bukan, bukan untuk membuatku puas saat menengok ke belakang. Aku tak ingin menengok ke belakang. Hanya saja, jejak yang bagus akan menuntunnya untuk menemukanku. Hingga dia menemukanku, aku akan terus membuat jejak yang bagus, untuk kemudian saat kita bertemu, dia akan tahu, bahwa aku adalah orang yang dia cari. Lalu, kita akan melangkah bersama di atas tanah liat, sambil sesekali menari ketika hujan turun.

Pada saat itu tiba, aku akan secara resmi berhenti menjadi kumis tipis suamimu.

Karena hidup adalah tentang membuat kenangan dan terus melakukannya, hingga kita lupa bagaimana cara mengenang.

Condongcatur, 8 April 2014.

9 Komentar

Filed under Full fiksi

9 responses to “Kenangan dan Kumis Tipis Suamimu

  1. sampe ga bisa ngetik..
    ajib bener… lanjutkan bloggingnya ya kk ^_^

  2. Hihi, makasih miiiiiin! *sungkem😀

  3. Geli deh kalau baca yang kumisan-kumisan begini hahaha

  4. tapi tetep baca sampai abis kan?😀

  5. olala kenangan olala kenangan… ngumpulke duit dinggo tuku kenangan

  6. aku pengin nulis sing koyo ngene tapi.. durung pengen. piye kui
    btw kata-katane ajaib

  7. Ping-balik: Ramal Peluang Hidup Tipis - KOPI LEKAT

  8. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s