Jangan Pedulikan Hutan Indonesia!

hutan

Tulisan ini untuk teman-teman saya yang ada di kota, yang jauh dari Hutan, bahkan mungkin tidak pernah melihat hutan sama sekali. Saya himbau kepada teman-teman untuk jangan pedulikan hutan Indonesia!

Mengapa begitu? Bukankah katanya Hutan adalah penjaga keseimbangan ekosistem dunia? Dan Indonesia, sebagai negara yang disebut-sebut sebagai zamrud khatulistiwa, adalah negara yang memegang peranan penting dalam kelangsungan hutan dunia? Ya, kawasan hutan Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kawasan hutan terbesar di dunia.

Mengapa kita tak perlu mempedulikan hutan Indonesia? Karena tanpa perlu kita pedulikan sekalipun, hutan Indonesia sudah berada diambang kehancuran. Deforestrasi atau kerusakan hutan di Indonesia hanya mencapai 2 juta hektare pertahun. Dengan eksploitasi yang banyak dilakukan oleh perusahaan besar di Indonesia, yang mungkin produk-produknya masih kita nikmati sampai sekarang. Seperti penemuan Greenpeace, aktifitas perusahaan-perusahaan multi nasional seperti Sinar Mas, Nestle, dan APRIL (perusahaan kertas dan bubur kertas) banyak melakukan eksploitasi yang membahayakan hutan. Tapi apa peduli kita? Yang penting produk mereka sampai ke tangan kita dengan bersih dan murah bukan?

Masing-masing dari kita menikmati produk hasil eksploitasi hutan

Untuk apa kita mempedulikan hutan Indonesia? Kerusakan-kerusakan itu kan hanya menyebabkan hal-hal kecil, seperti banjir Jakarta misalnya. Yap, salah satu penyebab banjir Jakarta adalah kerusakan hutan bakau yang dulu ada di sana. Selain itu, kerusakan hutan juga hanya membuat hewan-hewan hutan kehilangan tempat tinggalnya. Apa peduli kita? Yang penting rumah kita aman bukan? Tak peduli ada kejadian seekor macan tiba-tiba menyerang rumah warga sekitar hutan.

Kerusakan hutan juga hanya menyebabkan kerugian ekonomi di daerah Sumatra dan Kalimantan. BBC Indonesia mengatakan bahwa perekonomian daerah di 2 pulau itu masih cukup dipengaruhi ekologinya yang hijau. Namun, dengan kondisi kerusakan hutan yang terus terjadi sampai sekarang, tak bisa terbayang kerugian yang mungkin muncul. Ah, sudahlah, tak penting, toh kita tak merasakannya secara langsung bukan?

Sudah? Hanya itu dampak kerusakan hutan? Oh, ternyata belum. Masih ada dampak negatif yang kita dapatkan dari kerusakan hutan, khususnya kebakaran hutan. Kebakaran hutan membuat polusi udara menjadi tinggi, dan ternyata hal itu bukan tak mungkin memicu perang. Masih ingat kemarahan Singapura saat kawasannya terkena dampak asap kotor dari kebakaran hutan di Indonesia? Tapi tenang saja, mereka tak akan berani menyerang kita. Yap, sepertinya masalah yang ditimbulkan oleh deforestasi tidak terlalu serius.

Dampak kerusakan hutan adalah pada kondisi alam yang semakin tidak seimbang, ekosistem hewan yang terganggu, dan kerugian ekonomi.

Ternyata memang kerusakan hutan tidak terlalu mengganggu kita, orang modern yang hidup dalam dunia serba canggih. Dan memang kalaupun kita ingin peduli, apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang biasa seperti kita ini? Untuk mencegah kerusakan hutan, kita harus mengajak perusahaan-perusahaan yang selama ini berkontribusi terhadap kerusakan hutan untuk berdedikasi mengganti cara kerjanya. Kita juga harus mempersulit izin usaha yang berpotensi merusak hutan. Ya, hal itu tidak mungkin kita lakukan, kuasanya ada di negara.

Kita memang tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan hutan kita.

Kecuali kalau kita mengetahui bahwa di luar sana, banyak sekali organisasi-organisasi lokal dan internasional yang peduli terhadap hutan. Dan organisasi itu, tahu betul cara untuk menyelamatkan hutan. Hanya saja, mereka tidak bisa berjuang sendirian. Organisasi seperti Green Peace, Walhi, dan lain-lain, pastilah membutuhkan support dari orang-orang seperti kita. Kita bisa membantu dalam hal dana -jika kita punya, atau melalui suara kita untuk menekan perusahaan yang disinyalir melakukan perusakan hutan, atau juga bisa melalui aksi kita dalam mengikuti event yang diadakan organisasi itu. Dengan mengikuti aksi-aksi seperti itu, kita menunjukan bahwa kita -bangsa Indonesia- masih peduli akan hutannya.

Memangnya hal seperti itu ngaruh? Well, tentu tidak instan. Ada proses yang dilalui, namun sedikit demi sedikit, usaha itu mulai terlihat. Salah satu contoh adalah Asia Pulp dan Paper yang sudah setahun ini menunjukan komitmennya untuk lebih bertanggungjawab kepada hutan. Perlahan tapi pasti, tujuan untuk melindungi surga kita (protect paradise) ‘mungkin’ akan segera terwujud.

Tapi, kalau kita tidak peduli pada hewan-hewan di hutan, tidak peduli pada bumi yang semakin tua, tidak peduli pada masa depan anak cucu kita, maka jangan pedulikan hutan Indonesia!

baby_orangutans_and_tigers_together

Wajah lucu sekaligus sendu. Mungkin mereka merindukan hutan Indonesia yang tidak lagi kita pedulikan.

16 Komentar

Filed under Freedom to speak

16 responses to “Jangan Pedulikan Hutan Indonesia!

  1. Kasia kali orang hutan sama harimaunya😦
    mungkin sebentar lagi ga bakal ada namanya zambrut khatulistiwa😦

  2. Agfian Muntaha

    iya mbak Citra, semoga hal itu gak terjadi😦

  3. ia mas, tapi mungkin ini sedang terjadi di negeri kita.😦 cukup miris melihat hutan hijau, maupun lahan hijau yang berhektar — hektar habis di babat hanya demi membuka lahan baru untuk daerah perbelanjaan semata

  4. Agfian Muntaha

    iya mbak setuju banget. Dan sayangnya, kita perlahan-lahan makin masa bodoh dengan fakta itu,😦

  5. iya mas, hanya segelintir orang saja yang masih peduli sama lingkungan

  6. jangan pedulikan, pohon dipekarangan saja ditebang

    salam kenal gan🙂

  7. Hemm…gak ada tempat tinggal buat mereka ya, sebaiknya perusahaan” tersebut kembali menanam pohon (lagi) biar kelestarian hutan tetap produktif !

  8. Agfian Muntaha

    Mas Arif: Iya mas, demi parkiran yang lebih luas mungkin😦

    salam kenal balik, terimakasih sudah berkunjung🙂

  9. Agfian Muntaha

    Mbak Titis: ada kok tempat tinggalnya, sekarang hewan-hewan itu sudah ‘diamankan’ oleh kebun binatang luar negeri, seperti Australia.😦

  10. Aaaah miris banget bacanya, di daerahku (Riau) perusahaan penghasil kertas bertebaran. Mereka emang menanam kembali hutan, tapi bukan pohon-pohon asli hutan melainkan pohon eucalyptus untuk bahan baku kertas. Nggak tau deh mau komen apa ke perusahaan2 itu, secara dimari sebagian besar masyarakatnya kerja di perusahaan itu. Huhuhuu. Macam makan buah simalakama. Tambah lagi di Riau makin gencar perluasan lahan perkebunan sawit, hutan dibakar boook !!!. Udah seminggu kabut asap disini, sampe bernafas aja susah. Takutnya dimarahin lagi sama tetangga sebelah gegara kita bisanya cuma ngekspor kabut asap doang kesana. Btw, kasihan banget gajah dan orang utan disini, udah pada kehilangan habitatnya, pada kabur ke pemukiman warga. Sedih sedih sedih !.

  11. Tulisan nya bagus deh Iaaaan. Saya juga setuju sama tulisan diatas, orang lebih memikirkan bagaimana menanggulangi masalah diri sendiri. Contoh yang banjir tadi, mikirin rumahnya aman apa engga. Itu doang.

    Ohiya, jujur aja saya juga salah satu orang yang sering buang2 kertas, tissu, dan kapas. Sedikit aja tulisan saya jelek, saya pasti langsung robek dan buang kertas nya. Kemana-mana juga mesti bawa tissu, dikit-dikit ngeluarin tissu, flu dikit mesti pake tissu, hampa pokoknya hidup tanpa tissu hahahaha. Sebenarnya tahu kalau hal kaya gitu gak baik, gak peduli lingkungan (tentu saja hutan juga) tapi pada kenyataan nya saya masih cuek-cuek aja.

    Maaf ya komen nya panjang, jangan diomelin😀
    Btw, tulisan nya saya share di twitter ya, Ian.

  12. Agfian Muntaha

    Eka: sumpah, aku miris dengernya. Hal-hal seperti ini nih yang seharusnya didengarkan oleh pihak yang berwenang.😦

  13. Agfian Muntaha

    hihi, makasih Fasyaaaaa😀

    iya, mari kita lakukan hal kecil disekitar kita juga Fasya! Semangat!😀

  14. setiap tahun kita mengalami banyak musibah.. banjir, tanah longsor, kabut asap, dll.. Kita tahu kalau masalahnya ada pada manusia. tapi selalu terjadi dan terjadi lagi malah dengan tingkat yang lebih parah.. Karena manusia tidak pernah mau berubah jadi lebih baik. Semua ngeluh dan prihatin kalau ada musibah, giliran musibahnya sudah reda semua balik dengan kebiasaan masing-masing.. Mungkin kamu benar, orang Indonesia sudah tidak perduli bukan saja dengan hutan tapi juga dengan alam sekitar mereka sendiri. dan seperti orang kebanyakan, aku juga cuma bisa miris dana prihatin seperti kata pak Esbeye😦

  15. Agfian Muntaha

    Goiq: yap, pendapat kamu benar sekali. Mari kita bikin satu langkah kecil untuk bumi dan lingkungan sekitar kita. Satu saja dulu🙂

  16. Ping-balik: Berbagai Macam Pengertian ‘Cinta’ | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s