Sajak ini Menunggumu

Sudah makan? Kalau belum, segeralah makan, aku tidak ingin kau sakit gara-gara membaca sajak ini. Eh, tunggu dulu, kau bahkan tidak membaca sajak ini, bukan?

Tak apa, aku memang tidak menulis sajak ini khusus untukmu. Bahkan, mungkin aku tidak menulis sajak sama sekali. Sajak ini mendadak mendatangi kepalaku, memaksaku membuka microsoft word, padahal aku sedang ingin menonton koleksi film bajakan dari eksternal hard disk seorang teman.

Sajak ini muncul tiba-tiba, dan sialnya, dia menunggumu.

***

Aku tidak sedang patah hati, tidak pula jatuh cinta. Kenyataannya, aku sedang rajin (pura-pura) bekerja agar memiliki uang yang cukup untuk membeli Mister Burger di setiap maghrib. Seharusnya, aku tidak memiliki waktu untuk membuat sajak ini. Seharusnya, pikiranku terlalu penuh untuk sekedar merangkai deretan kata tanpa makna ini.

Aku tidak sedang patah hati, tidak pula jatuh cinta. Aku bahkan sudah terlalu lama tidak melihat wajahmu -dalam bayanganku-, tapi sajak ini berkata lain. Dia tidak meminta bayangmu sebagai syarat untuk kemunculannya. Dia tidak pula meminta suaramu untuk hadir dalam setiap helaan nafasku. Dia hanya muncul.

Aku tidak sedang patah hati, tidak pula jatuh cinta. Kalau kau? Aku curiga, jangan-jangan sajak ini muncul, karena sinyal cinta yang kau kirim untukku. Mungkin saja, parabola yang selama ini kupasang (tapi tidak terpakai karena aku tidak mampu membayar sewa tiap bulannya, seperti TV langganan) tiba-tiba menangkap sinyal cinta yang kau kirim dengan penuh kelembutan. Ah iya, aku cukup ganteng, tak aneh rasanya jika membuatmu kangen.

Sudahlah, aku tahu khayalan bodoh di atas membuatmu tersenyum kecut. Senyum yang tidak terlalu indah, tapi kadang, terlalu mewah untuk kudapatkan. Ya, aku bahkan belum pernah melihat senyummu yang hanya untukku.

Tapi kau tidak perlu khawatir, sajak ini tak bermaksud membuatmu tersenyum atau justru menangis, sajak ini hanya sekedar menunggumu. Tidak lebih.

***

Kalau ada waktu, sempatkanlah untuk mampir ke rumahku. Di sana kau mungkin akan mendapati bangkai tikus tergeletak di sembarang tempat. Jangan bertanya mengapa tak kubersihkan, aku jijik, dan kau sudah tahu bukan alasannya apa? Yang jelas bukan karena aku tidak tahan baunya.

Kalau sudah melewati bangkai itu dengan sehat walafiat, teruskanlah langkahmu sampai di depan kamarku. Mungkin, di sana kau akan menemukan pintu reyot dengan kenop yang sudah hampir copot. Bukalah pintunya. Kalau terkunci, kau tahu di mana aku menaruh kuncinya.

Setelah kau buka, mungkin kau tidak akan menemukan apapun di sana. Ya, kamarku memang sudah kosong. Dan seperti kesia-siaanmu yang sudah datang jauh-jauh ke rumahku, seperti itulah kesia-siaanmu untuk membaca sajak ini.

Atau mungkin (aku tak tahu ada berapa kata ‘mungkin’ di tulisan ini, mungkin kau bisa membantuku menghitungnya) seperti itu pulalah kesia-siaan sajak ini menunggumu.

***

Nantinya, di manapun kamu berada, apapun yang kamu lakukan, dengan siapapun kamu di sana, jangan takut untuk pulang. Kau tahu, sajak ini juga tahu, bahwa tempat yang kujanjikan tidak akan pernah pindah.

Hanya saja, tempat itu tidak akan selamanya kosong…

1 Komentar

Filed under Full fiksi

One response to “Sajak ini Menunggumu

  1. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s