Cerita Paha

blog post 14

“Ini bu ayamnya,” ujar waitress KFC yang melayaniku. Pesananku, sepotong paha bawah yang lembut telah datang. Terbungkus rapi dengan packaging ala KFC yang membuat pembeli selalu tergoda untuk menentengnya. Biar kelihatan mampu. Mungkin itulah alasannya.

“Iya mbak, terimakasih,” balasku padanya, sambil mengeluarkan satu lembar lima puluh ribuan. Uang yang kecil bagi sebagian orang, tapi tidak untukku. Perlu menabung satu bulan bagiku untuk bisa mendapatkan uang sebanyak itu di dalam kantong. Lima puluh ribu, adalah uang yang banyak bagiku sekarang.

Tapi dulu, uang ini mungkin akan habis dalam hitungan jam.

***

Cabe-cabean. Mungkin ini istilah yang pantas dialamatkan untukku. Dengan dandanan serba mini yang menggoda, aku sering menghabiskan waktu bersama anak-anak gaul di SMA.

Hot pant, baju you can see yang super ketat, serta sepatu high heels yang tinggi adalah pakaian wajibku. Berbagai macam pakaian itu, dipadukan dengan tubuh indah, membuat aku menjadi wanita idaman setiap anak nakal di sekolah.

Paha yang mulus, itulah senjataku. Berkat paha putih bersih ini, banyak orang memanggilku seksi.

***

Dengan perasaan senang sambil menenteng bungkusan KFC, aku berjalan keluar. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku sudah melihat pemandangan tak sedap. Aku melihat dua orang, dengan pakaian serba mahalnya, dengan tawa bahagianya, sedang pacaran.

Yah, pacaran di KFC adalah hal yang wajar. Semua orang melakukan itu. Termasuk aku dan Rifha, bedebah itu. Kami pernah pacaran di KFC, dan dulu menurutku hal itu wajar.

Namun sekarang saat aku berjalan sendirian dengan pakaian lusuh ini, melihat orang pacaran di KFC adalah kutukan tersendiri.

***

Hujan deras tengah mengguyur kota Yogyakarta. Suara berisiknya menemani kencanku dengan Rifha siang itu. Dan seperti biasa, kami tetap dapat makan dengan nyaman di kala hujan deras seperti ini, karena kami makan di KFC.

“Sayang, coba deh lihat hujan yang turun ini, kamu bisa ngitung jumlah air yang turun gak?” tanyanya padaku tiba-tiba.

Aku tentu saja bingung dengan ucapannya, lalu menggeleng dan bertanya, “emang kenapa Yang?”

“Ini adalah lambang, sebanyak apa aku akan merindukanmu ketika sehari saja aku tidak bertemu denganmu.”

“Gombal!” Itulah kata pertama yang keluar dari mulutku saat mendengar rayuannya. Tapi, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Wanita memang senang mendengar gombalan yang dialamatkan padanya.

Perbincangan kami memang menjijikkan, tapi memang begitulah cinta, bukan? Mengubah hal yang menjijikkan menjadi indah.

***

Perjalanan yang melelahkan selesai sudah. Semuanya terbayar ketika aku sampai di rumah, dan melihat Dika, jagoan kecilku sedang main mobil-mobilan ditemani tetanggaku. Bagian paling menyenangkan dari menjadi miskin adalah, kebaikan orang lain terasa lebih nyata. Tidak seperti lingkungan orang kaya.

“Adek, Mamah bawa sesuatu buat Adek,” godaku padanya.

Anak kecil akan selalu senang saat dibawakan oleh-oleh, begitu juga dengan Dika. Dia berlari bahagia ke arahku. Dan ketika dia melihat yang kubawa adalah sepotong paha bawah KFC dengan nasi pulen disampingnya, seketika itu juga, aku seperti melihat sinar di matanya. Dia berbinar. Bahagia.

Aku melihatnya melahap makanan dengan semangat. Benar kata orang, kebahagiaan terbesar seorang ibu adalah ketika melihat anaknya makan dengan lahap.

Aku menikmati ini. Dalam lima tahun terakhir, mungkin inilah periode terindah dalam hidupku.

***

Plakkk! Tamparanku keras mengenai pipi Rifha. Aku mengeluarkan semua kekuatanku untuk itu. Tapi tetap saja, aku tidak merasa lebih baik setelahnya. “Kamu benar-benar tega, Fha!” teriakku padanya, yang kuharap cukup kuat untuk membuat telinganya berdarah. Tapi sayangnya tidak.

“Aku tidak bisa Dys, tidak bisa,” lirihnya padaku. Lemah, selemah nyalinya.

Aku benar-benar tidak paham dengan dirinya. Dia dengan penuh kesadaran meniduriku, dan sekarang dengan mudahnya berkata ‘tidak bisa’ ketika aku sudah hamil?? Lucu sekali!!

“Kamu tahu kan aku akan diusir dari rumah kalau memiliki anak tanpa suami Fha?” Kuajukan pertanyaan retoris ini padanya. Dan yang kudapati hanyalah gelengan lemah dan gerakan kecil di bibir yang mengatakan, “maaf…”

***

Akhirnya waktu membawaku pada realita ini. Aku sendiri, diusir dari rumah karena hamil tanpa suami, dan miskin. Untungnya, naluri wanitaku tetap terjaga. Aku tidak membenci anakku. Aku tetap bertahan untuk merawatnya, hingga kini usianya sudah lima tahun.

Prestasi besar untuk seorang Gladys yang dulu bahkan tidak tahu cara mencuci handuk.

Kulihat Dika yang masih asik makan. Kunikmati kelahapannya. Dalam setiap suapan penuh nafsunya, senyumku merekah mengiringinya. Aku senang.

Lupakan dulu fakta bahwa aku sudah tidak punya tabungan untuk makan besok. Lupakan dulu fakta bahwa aku tidak tahu malam ini akan makan apa. Lupakan dulu pendidikan dan masa depannya. Aku hanya ingin menikmati kemenangan sesaat in…

“Mah,” panggilnya padaku tiba-tiba.

Aku mengalihkan pandangan ke matanya dan menjawab lembut, “apa sayang?”

“Besok Dika mau makan Kaepci lagi yah!”

Mendadak, nafas bahagiaku berubah menjadi desahan panjang penuh keputusasaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Full fiksi

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s