Kamu dan Kambing

Angel6

Aku pulang ke rumah dengan bau prengus yang aku sendiri tak tahan menciumnya. Pakaianku kotor dan dekil, dengan lumuran darah kambing dan sapi di beberapa sudutnya. Namun itu tak menyurutkan langkahku untuk menemuimu. Kamu melihatku yang masih terlihat hina dengan tatapan yang sama, tatapan yang membuat aku ketagihan. Seperti biasa, kau tersenyum sambil membukakan pintu untukku.

***

Sejujurnya, aku tidak begitu paham dengan sifat kambing. Aku tidak pernah mempelajarinya secara serius. Hanya sedikit hal yang aku tahu, seperti dia akan memakan daun yang disodorkan kepadanya, ataupun dia akan berteriak pasrah saat disembelih.

Begitu juga dengan kamu. Aku tak begitu paham tentang kamu. Aku cuma tahu sedikit hal tentang kamu, seperti kamu akan tersipu saat kupuji, ataupun menjerit lemah saat dirangsang. Yah, meskipun aku sendiri pun belum pernah melihatmu terangsang dengan sempurna.

Maaf, bukan maksudku untuk menyamakanmu dengan kambing. Kambing yang bau prengus dan tidak pernah mandi, tentu berbeda dengan kamu yang bau wangi parfum dan selalu mandi setiap hari. Kambing yang suka membuang kotoran sembarangan, tentu berbeda dengan kamu yang selalu pilih-pilih tempat untuk buang air besar. Ya, kamu suka pilih-pilih tempat buang air besar. Kamu tidak akan mau buang air besar di WC jongkok, bukan begitu?

Jadi, sebelum kamu marah dan bersiap-siap untuk menghajarku dengan kukumu yang selalu terawat di salon itu, izinkan aku menjelaskannya. Kamu dan Kambing itu beda. Oke? Kamu adalah kamu meskipun tidak selalu kamu, dan kambing adalah kambing.

Namun, dibalik segala perbedaan itu, tetap selalu ada yang sama bukan? Mungkin, bagi seseorang, kamu dan kambing adalah sama-sama pihak yang dikorbankan (iya dikorbankan, bukan dikurbankan) untuk kepentingan dia sendiri. Kambing dikorbankan untuk egonya agar terlihat hebat di masyarakat tanpa menyentuh hakikat kurban yang sebenarnya, yaitu untuk Tuhan. Sedangkan kamu dikorbankan untuk… Ah, siapalah aku sehingga bermimpi untuk mengubah jalan carita kehidupanmu, toh kamu akan segera mengetahuinya sendiri.

***

Bau harum masakanmu sudah tercium olehku. Aku pun sudah menunggumu di ruang makan dengan baju koko sepulang dari sholat Dhuhur. Aku kelaparan, dan kamu tahu itu.

Aku melihatmu keluar dengan membawa tongseng kambing kesukaanku. Kamu dan Kambing adalah kebahagiaan terbesarku di siang ini.

 

 

Selamat hari Raya Idul Adha

2 Komentar

Filed under Full fiksi

2 responses to “Kamu dan Kambing

  1. Hahahahaha. ..

    Intinya di akhir nih. Sama2 membuatmu bahagia.😛

  2. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s