Misteri Sebuah Bahtera

old couple

Saat aku menjadi nakhoda  di bahtera hidupku, maukah kau menjadi navigator yang setia menemaniku?

***

“Lagi apa Dek?”

“Lagi di kantor aja Bu, kerja, hehe.”

“Tadi Jum’atan kan?”

“Iya Bu, tadi Dek Fian Jum’atan kok,”

“Gak lupa do’ain papi kan? Hehe.”

“Iya, gak lupa kok…”

Percakapan basa-basi itu terus kulanjutkan. Meskipun kita sama-sama bisa menebak jawaban berikutnya, tetap saja perbincangan itu terasa menentramkan. Mungkin perbincangan itu hanyalah kamuflase dari keinginan kami melepas kangen. Aku memang sudah lama tidak bertemu dengan Ibu, sekitar 2 bulan.

Mungkin, selama 2 bulan tidak bertemu dengan ibu ini, banyak hal yang berubah dari beliau. Apakah beliau sudah potong rambut? Ah, Ibu suka sekali memotong rambutnya menjadi model seperti cowok. Beliau tak begitu peduli dengan bentuk rambut yang bagi sebagian orang dianggap tidak ‘indah’ itu. Toh, nantinya rambut ibu akan selalu tertutup oleh Jilbab yang cantik. Aku kangen Ibu dan tidak tahu, sudah seberapa banyak perubahan yang dialami oleh beliau sekarang ini.

Namun aku tahu, satu hal yang tidak akan pernah berubah dari beliau.

Cinta Ibu pada Papi.

Sejujurnya, aku selalu merasa aneh dengan Ibu. Sudah 9 tahun Papi meninggal, namun kenapa rasa cinta Ibu masih selalu sekuat itu? Sudah lama Ibu tidak bertemu dengan Papi, tapi mengapa Ibu masih sering memimpikan Papi? Sudah lama Ibu tidak sholat diimami oleh Papi, tapi mengapa, hampir setiap malam Ibu selalu saja sholat malam dan menangis mendoakan Papi?

Aku tidak mengerti, bagaimana mereka mendapatkan cinta semacam itu.

Padahal, pertemuan dan kisah cinta mereka tidak seromantis kisah-kisah di film India. Ibu bertemu Papi di waktu SMA, di sebuah organisasi kepemudaan. Lalu berlanjut ke dalam masa-masa pacaran yang tidak terlalu spesial. Saat ibu ospek, ada tugas membawa batu bata (sampai sekarang aku tidak tahu kenapa ospek harus membawa batu bata), Ibu tidak tahu dimana mendapatkannya, lalu Papi tiba-tiba datang dengan batu bata yang dibungkus dengan rapi. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana beliau membungkusnya, mungkin batu bata itu diberi pita. Spesial? Ah, zaman sekarang membantu pacar menghadapi ospek adalah hal yang biasa.

Kisah cinta mereka tidak romantis. Setelah menikah, baik Papi ataupun Ibu bekerja sendiri-sendiri. Bahkan, setelah memiliki 3 orang anak pun (aku belum lahir), mereka sempat tinggal terpisah. Ayahku harus bekerja di Kroya, sedangkan Ibuku tetap di Solo. Hubungan romantis macam apa itu? Papi sangat menderita waktu itu, sampai-sampai dia berpesan kepada anak-anaknya, “Jangan sampai kamu sama bojomu (suami/istri) kelak tidak serumah.”

Sebelum meninggal, aku ingat Ayahku senang sekali menjemput Ibu pulang kerja. Pekerjaan Ayahku yang guru membuatnya memiliki jam kerja yang lebih cepat dibanding ibuku sebagai bagian keuangan di sebuah kampus. Mereka pulang berduaan naik angkot yang memang waktu itu masih banyak tersedia di jalanan kota Solo. Kalau sedang ada duit berlebih dan ingin lebih lama berduaan, mereka akan naik becak.

Romantis? Ah, biasa saja.

Ayahku bisa dibilang meninggal dengan tenang. Beliau meninggal saat menatar para calon guru di sebuah SMP negeri di Solo. Di tengah-tengah memberikan pengarahan, beliau terjatuh dan ditemukan oleh rekannya. Akhirnya, beliau dilarikan ke rumah sakit. Saat dilarikan itu, beliau sadar. Papi bahkan sempat menelepon Ibu dan berkata, “Yang (panggilan papi untuk Ibu), aku mau ke rumah sakit nih di dekat kampus, mau ikut gak?” Kurang lebih seperti itulah kata-kata yang diceritakan ibu kepadaku.

Romantis? aku masih menganggapnya biasa.

Sekarang, sudah 9 tahun semenjak Ibuku terakhir melihat Papi bernafas. Dan rasa cintanya masih sama? Mengapa? Aku masih tidak mengerti, rasa cinta macam apa yang merasuki Ibu. Mengapa beliau masih saja suka tersenyum satir saat mendengar nama Papi didengungkan, atau membayangkan wajahnya? Padahal, sejujurnya papi bukanlah tergolong orang yang memiliki fisik sempurna.

Jika keluarga kami ibarat sebuah bahtera, bukankah sekarang kami sudah kehilangan nakhoda kapal kami? Bukankah sekarang tidak ada seorang figur yang memegang kendali kapal dengan berwibawa lagi? Tapi mengapa, mengapa ibuku masih saja melihat arah, mengatur jalan, dan mengajak kami berlayar ke tempat yang lebih jauh?

Setiap kali aku bertanya kepada ibu, hal apa yang membuatnya terus mencintai Papi sampai sekarang, beliau selalu saja hanya tersenyum. Tidak pernah ada jawaban yang memuaskanku. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Papi dan Ibu, sehingga mereka dapat terus bercinta selama hampir 30 tahun tanpa rasa bosan?

Aku jadi ingat, ibuku masih menyimpan sms terakhirnya untuk Papi di hari sebelum kematian Papi, “Dahar mas, lawuhe wis teka,”.

Romantis? Mungkin…

***

Saat aku sudah siap menjadi nakhoda kapal dan mengarungi lautan, kuharap engkau kan menjadi navigatorku yang sigap. Navigator yang mengingatkanku ketika aku tersesat dan salah arah.

Ketika aku terlalu bernafsu untuk menerjang segala badai, kau akan memelukku dari belakang, menenangkanku. Membantuku beristirahat sejenak.

Ketika aku terlalu bersemangat melihat bintang di langit, kau akan mengajakku masuk ke dalam dek, mempersilakan aku makan masakanmu yang kurang asin.

Ketika aku kedingingan karena lupa membawa jaket, kau akan mengambilkan jaketku sambil memarahiku dengan suara paraumu.

Aku ingin menjadi nakhoda dan kau navigatornya. Berdua, kita kan membawa bahtera ini mengarungi lautan dunia yang tak ada habisnya. Berdua, kita akan menjelajah di tempat-tempat yang kita impikan. Hingga akhirnya, kita berpisah dan dipertemukan di tempatNya yang kekal.

***

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine

24 Komentar

Filed under Friends

24 responses to “Misteri Sebuah Bahtera

  1. sediihhhh😦 ayahku juga sudah tiada, tapi baru tiga tahun ini. dan ya, mama juga masih sering berbicara seolah-olah ayah itu ada di sampingnya😦
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa fuanhu
    salam kenal🙂

  2. so sweet banget yaa.. nahkoda dan navigator, dan para krucils nya.. haha :3
    semoga menaaang yaa giveaway nya mas ian agfian😀

  3. Agfian Muntaha

    Aamiin, aamiin, makasih doanya mbak Pudja,😀

    Salam kenal juga, ^^

  4. Agfian Muntaha

    ayyu: hihihihihihihi (nyengir sampe bandung), iyaa, thx ya ayyu😀

  5. wuaaaah….langsung inget alm Papa juga…dan kehidupan penuh warna orang tua kita..nicely written, I truly enjoy it…bravoo et semoga menaaang….

  6. Agfian Muntaha

    aamiin, makasih doanya mbak Indah, dan makasih juga sudah berkunjung ^^

  7. Tulisan nya baguuuus, kekuatan perasaan emang gak ada yang bisa ngalahin.
    Kalau saya, mama bapa masih ada. Tapi mama pernah beberapa kali bilang : gak tahu kalau bapa meninggal duluan, kita bakal gimana, meningan mama duluan aja yang meninggal. Gitu.
    Saya jadi merinding dan bingung, kenapa jadi pada pengen meninggal duluan😦

  8. Agfian Muntaha

    Iya, emang kalau bayangin org yg kita sayang itu akan meninggal, rasanya merinding selalu😦

  9. terharu saya bacanya, salam buat ibu yaa..

  10. Agfian Muntaha

    makasih mbak, Insya Allah saya sampaikan…🙂

  11. menyentuh hati banget😦

  12. menginspirasi banget ya……, terkadang kita penuh tanda tanya…. cinta orang tua jaman dulu itu kok misterius ya….., tetap langgeng aja…. padahal gak ada tips2 khusus…..🙂

    salam… sukses buat GA nya…

  13. Agfian Muntaha

    Terimakasih mbaak😀, aamiin

  14. aku merinding bacanya. Ibu saya juga sama, sudah lama ditinggalkan alm ayah saya.

  15. Agfian Muntaha

    Semoga ayahnya tenang dan Ibu tetap kuat ya mbak🙂

  16. terharuuuuuuu……
    berharap sungguh ikatan cintaku dan suami sekuat itu, insyaallah…

  17. Agfian Muntaha

    aamiin, semoga mbak, Insya Allah😀

  18. terharu baca kisah cinta orang tua kamu🙂
    sebenarnya yang mereka lakukan itu tergolong romantis lho…
    oya, memang kadang pernikahan menjadi sebuah misteri karena kita mesti melanjutkan kisahnya sendiri. semoa saja kamu segera menemukan navigatornya ya pak nahkoda hehehe

    salam kenal

  19. Agfian Muntaha

    aamiin, makasih ya mbak mei!😀

  20. Aku baru baca yg ini. 4 jempol pun belum cukup untuk tulisan ini. Lebih romantis dari Ada Apa Dengan Citna🙂

  21. Itu namanya cinta tiada akhir ya. Tetap membekas meski hembusan waktu tak lelah menerjang🙂
    Terima kasih atas partisipasinya ya Ian, good luck…

  22. Agfian Muntaha

    sunawang: makasih kakak, semangat ya kawan😀

  23. Agfian Muntaha

    Iyaaa mbak Uniek!😀 *harap-harap cemas* hehe

  24. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s