Ini NKRI Bukan Italia

Once again, this man become the king of Manahan. Sumber: Viva.co.id

Kita tiba-tiba saja melihat sebelas orang membawa nama Garuda di lapangan malam itu. Kita bahkan tidak pernah tahu perjuangan mereka sebelum akhirnya dapat berdiri tegak di garis depan, mencoba mengharumkan nama Indonesia. Mencoba mengembalikan kata ‘menang’ yang sudah lama hilang.

Namun, tetap saja, kadang kita terlalu cepat menyimpulkan.

Bung, inilah timnas Indonesia.

***

Kemarin, pada hari Rabu 14 Agustus 2013, Timnas Indonesia kembali menjalani International Friendly Match melawan Filippina. Berbeda dengan tiga pertandingan sebelumnya, yang lebih kental aroma bisnis dan entertainnya dibanding pertandingan sepakbola, kali ini Timnas membawa nama besar Indonesia di pundaknya. Ini mungkin merupakan laga paling kompetitif bagi Jacksen F. Thiago semenjak pertama kali menjad pelatih kepala Indonesia.

Pertandingan ini penting. Kami ingin melihat timnas kembali menang.

Dan seperti yang kita ketahui bersama, akhirnya Indonesia memenangi pertandingan dengan skor 2-0. Gol dari Greg Nwokolo, pemain naturalisasi asal Nigeria yang dulu menjadi kebanggaan publik Manahan, ditambah dengan gol sundulan dari M.Robby, menjadi sebuah kado manis menjelang ulang tahun NKRI yang ke…. em… 68 tahun. (Fiuuuuh, hampir saja saya lupa).

Mungkin ada juga yang mencibir bahwa ini hanya pertandingan persahabatan semata. Tidak penting. Tidak ada gelar yang dipertaruhkan. Mungkin begitu pikir mereka.

Namun, melihat kejadian yang menimpa timnas dalam satu tahun terakhir ini, mungkin ini adalah sebuah hasil yang patut disyukuri. Perlu diingat, bahwa timnas Indonesia mungkin sudah lupa rasanya kemenangan. Kapan terakhir kali kita menang? Well, cukup lama. Bahkan, peringkat Filippina berada di atas kita saat ini. Memprihatinkan? Iya, sudah tentu.

Karena itulah, kemenangan itu adalah hal yang patut disyukuri. Pada pertandingan ini, kita kembali menemukan mental menyerang seperti yang sudah kita rindukan selama ini. Kita menemukan kembali variasi-variasi yang berbahaya dari pemain-pemain Indonesia. Ya, Indonesia. Tak peduli mereka asli pribumi ataupun naturalisasi. Mereka adalah pemain Indonesia. Selain itu, kita juga kembali menemukan kebahagiaan ketika pertandingan berakhir dan tangan kita terangkat ke atas, merayakan hasil yang diraih. Terakhir, kita juga menemukan komentator keren yang menginspirasi dengan teriakan AHAYnya.🙂

Namun ada yang menarik dari tribun penonton di saat pertandingan berlangsung. Yap, ada spanduk bertuliskan, “Ini NKRI Bukan Italia”. Bagi saya yang penggemar liga Seri A Italia, tentu spanduk itu cukup menohok.

Lalu saya pun mencari tahu maksud dari spanduk itu. Setelah saya cari-cari, saya menemukan dua penafsiran yang cukup menarik.

Penafsiran pertama, spanduk itu merupakan sindiran untuk pihak Milanisti Indonesia yang pernah menuliskan Forza Indonesia sebagai bentuk dukungan untuk Indonesia.

Sedang yang kedua, spanduk itu menjadi sindiran untuk PSSI yang penuh mafia, seperti sepakbola Italia (What the hell).

Well, sebagai orang yang selalu secara puritan menganggap liga Italia adalah yang terbaik (walaupun tahu saat ini Liga Italia sedang mengalami penurunan drastis), tentu spanduk itu sekali lagi terasa menohok.

Secara pribadi, saya tidak ingin menganggap Forza Italia sebagai bentuk ketidakhormatan pada NKRI. Bagi saya, apapun bahasa yang digunakan, dukungan untuk Timnas adalah sesuatu yang harusnya dilakukan oleh semua orang.

Bagi saya, jauh lebih baik meneriakkan dukungan dengan bahasa yang lain, daripada menggunakan bahasa Indonesia untuk mencaci timnas. “Timnas Palsu”,”Timnas Bayaran”, “Kamu pemain bola apa pegawai Bank? Kok namanya BNI”, dan banyak cacian lainnya yang diarahkan kepada pemain yang berlaga di lapangan adalah sebuah bentuk depresiasi yang sempurna.

Bukan salah pemain jika dana besar yang digelontorkan oleh negara ini (10 kali lipat lebih banyak dibanding bulu tangkis) untuk sepakbola, berubah menjadi hancurnya prestasi. Bagaimana pemain dapat berlatih dengan tenang, sementara mereka diancam tidak akan bisa dipanggil oleh timnas jika masih bermain di klub dan liga tertentu? Bagaimana pemain bisa berlatih dengan tenang, sementara mereka tidak tahu kapan gaji mereka akan dibayar?

Namun, saya tetap setuju dengan spanduk bertuliskan, Ini NKRI Bukan Italia. Karena di Italia, sebesar apapun perselisihan lokal antar klub, sebesar apapun mafia yang menguasai sepakbola, namun tetap saja, saat sebelas pemain sudah berdiri di lapangan menggunakan baju biru kebanggaan Italia, dukungan akan terus berdatangan dari seluruh penjuru negeri. Sebusuk apapun politisi di sana, semuanya tetap berusaha menjadikan timnas Italia menjadi nomor satu di dunia.

Ya kawan, Ini NKRI bukan Italia. Di mana uang bisa mengkerdilkan semangat untuk membuat timnas meraih kemenangan. Di mana uang bisa menjadi alasan untuk tidak memanggil pemain terbaiknya untuk turun membela panji merah putih.

Ini NKRI bukan Italia, ahaaaaaaay!

5 Komentar

Filed under Freedom to speak

5 responses to “Ini NKRI Bukan Italia

  1. kereeen.. ada lagi mas.. ini NKRI bukan liga primer.. hehehe.. teringat beberapa tim liga primer yang datang dan pada saat itu penonton nya rata2 pake kostum klub liga primer. hehe

  2. anto

    bukan itu maksudnya mas…
    menurut saya isi spaduk itu maksudnya untuk menyindir BCS Sleman yang gayanya kayak supporter italy…
    tau sendiri pasoepati-BCS lagi musuhan, wkwkwk…

  3. Agfian Muntaha

    Ayyu: Haha, kamu gag ikut nonton kah? Sayang sekali, padahal banyak pemain bola ganteng yang datang ke Jakarta waktu itu. Sapa tau bisa membantu untuk cepat move on. *eh

  4. Agfian Muntaha

    Haha, iya kah mas? Wah, makin banyak aja penafsiran dari spanduk itu, menarik!😀

  5. nyahahahaha ampuuun dah kenapa itu dibahas lagi -.-

    aku menunggu barca kesini.. tapi, ternyata gak mampir ke indonesia..

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s