Untuk Kamu yang Tidak Mendapatkan Sekolah Idaman

Fungsi payung

Saat kehidupan tidak sesuai rencana dan harapan, akankah kita memilih untuk mengeluh dan memimpikan hal yang tidak mungkin?

Idul fitri baru saja berlalu. Waktunya yang bertepatan dengan pergantian tahun ajaran, mau tidak mau menjadikan momentum idul fitri sebagai sebuah persiapan dunia baru bagi sebagian orang. Terutama untuk yang baru saja merayakan kelulusan SMAnya pada bulan Mei (atau April? Ah, aku kurang tau), maka kehidupan baru yang diimpi-impikan akan segera datang: Mahasiswa. Walaupun iya, tidak semua lulusan SMA/SMK melanjutkan studinya.

Tentunya, masing-masing dari kita setelah lulus SMA kebanyakan ingin berkuliah di perguruan tinggi, akademi, sekolah tinggi, ataupun tempat-tempat lainnya. Kita dengan semangat tinggi mendaftarkan di sekolah idaman kita. Berbondong-bondong mengikuti tesnya, dan berharap, ucapan “selamat, Anda diterima” akan mampir di pengumuman atas nama kita. Sebuah sensasi yang membahagiakan.

Namun, bagaimana kalau ternyata kita tidak berhasil? Bagaimana kalau setelah berusaha berbulan-bulan, ikut tes sana-sini, mengeluarkan biaya administrasi yang tidak sedikit untuk ikut tes, ternyata kita TIDAK MENDAPATKAN SEKOLAH YANG DIINGINKAN?

Hingga akhirnya kita mendapatkan tempat yang biasa saja bagi kita.

Tentu ada sebuah perasaan mengganjal di dalam hati. Tentu ada sebuah gerutu kecil pada otak kita. Ya, kita tidak puas dengan takdir ini!

Izinkan saya bercerita tentang sahabat-sahabat saya. Banyak dari kita yang memulai dunia perkuliahan dengan setengah hati. Merasa jurusannya tidak cocok, kampusnya bukan kampus unggulan, dan alasan-alasan lainnya. Di lain pihak, banyak pula yang memulai dunia perkuliahan dengan semangat yang menggelora di dalam perut, fire in the belly, istilah bulenya.

Namun, dalam perjalanan yang kami lakukan, ternyata banyak yang berubah. Yang dulu bersemangat sekali, ada yang kemudian putus kuliah dan menemukan passionnya di dunia lain, dan dia sukses. Ada yang awalnya bersemangat sekali, lalu karena satu dan lain hal, di tengah jalan dia memutuskan untuk pindah kampus. Ada yang bersemangat sekali, lalu kemudian di tengah jalan harus keluar dari STAN (kamu tau kan sistem di dalam STAN itu seperti apa? Hehe), dan harus memulai semuanya dari awal lagi.

Sebaliknya, di dalam mata koin yang lain, teman-teman yang awalnya tidak begitu bahagia dengan sekolahnya, justru tumbuh menjadi pribadi yang berpengaruh di lingkungannya. Menjadi mahasiswa terbaik di angkatannya? Ada. Menjadi aktivis yang berpengaruh di dalam organisasinya? Ada. Menjadi lulusan dengan gaji tinggi di perusahaannya yang sekarang? Ada.

Untuk kamu yang tidak mendapatkan sekolah idaman.

Ketahuilah bahwa sekolah adalah tempat bagimu untuk berproses, bukan hasil dari prosesmu. Mungkin engkau tidak puas dengan tempatmu berada sekarang, tapi kamu harus meyakinkan satu hal penting dalam dirimu: di mana kamu berada sekarang, adalah merupakan pilihan dari dirimu sendiri.

Ada banyak kawan saya yang tidak senang dengan tempatnya berada sekarang. Dia menyalahkan orangtuanya yang dia bilang memaksa dia untuk membuat pilihan itu. Akhirnya, setiap kegagalan yang diterimanya, dia alamatkan kesalahan pada orang tuanya. Hasilnya? Dia tidak berkembang dengan baik.

Satu hal yang harus kamu tahu, bahwa apapun yang terjadi padamu, baik ataupun buruk, adalah pilihanmu sendiri. Dan mulailah bertanggung jawab atas segala hasil yang kamu dapatkan. Dengan mengambil tanggung jawab terhadap dirimu sendiri, maka kamu sudah selangkah lebih maju untuk dapat tumbuh menjadi pribadi yang siap untuk sukses.

Ingat, yang paling penting bukanlah tempatmu berada sekarang, tapi apa yang dapat kamu lakukan di tempatmu berada sekarang, dan tunjukan kamu seharusnya pantas berada di tempat seperti apa.

Untuk kamu yang takut dengan masa depan…

Jika kamu sekarang takut akan masa depan yang menantimu, dan merasa akan lebih berani jika memiliki banyak hal, maka kamu salah. Ketakutan akan masa depan tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki untuk menghadapinya, melainkan bagaimana mental kita untuk menghadapinya.

Orang takut miskin di masa depannya, maka dia terus bekerja, berusaha, dan berinvestasi untuk menjadi kaya. Apakah setelah dia kaya, dia akan tenang dan yakin terhadap masa depannya? TIDAK.

Orang takut lemah di masa tuanya, maka dia terus berlatih, makan teratur, dan rajin kontrol kesehatan untuk menjadi sehat. Apakah setelah dia sehat, dia akan tenang dan yakin terhadap masa depannya? TIDAK.

Orang takut bodoh di masa emasnya, maka dia terus belajar, menghafal berbagai rumus, dan rajin mencatat setiap ilmu yang didapatnya. Apakah setelah dia pintar, dia akan tenang dan yakin terhadap masa depannya? TIDAK.

Orang yang takut miskin, semakin kaya orang itu, maka akan semakin besar ketakutannya untuk kehilangan kekayaannya. Orang yang takut lemah, semakin kuat orang itu, maka akan semakin besar ketakutannya untuk kehilangan kekuatannya. Orang yang takut bodoh di masa emasnya, semakin pintar orang itu, maka akan semakin ketakutannya untuk kehilangan kepintarannya.

Dalam hidup, kita akan selalu takut untuk kehilangan, selama kita dengan kenaifan kita masih merasa, bahwa yang ada di dunia ini adalah milik kita. Padahal jika kita tahu dan selalu menyadarinya, bahwa di dunia semuanya adalah titipan dari Tuhan. Maka ketakutan itu tidak perlu ada. Semuanya adalah titipan Tuhan untuk kita, jadi saat Tuhan memintanya dari kita, kita tidak akan keberatan.

Kadangkala kita terlalu sibuk meresahkan masa depan, dibanding menikmati masa sekarang.

Ketika aku masih seorang gadis kecil aku bertanya pada Ibuku apa aku akan menjadi cantik atau kaya, dia menjawab:

Que Sera-Sera apa yg kan terjadi, terjadilah. Masa Depan Bukan Hak kita untuk tau. Que Sera Sera.

Ketika aku masih seorang anak lelaki aku bertanya ibuku apa aku akan menjadi tampan atau kaya? Dia menjawab:

Que Sera Sera apa yg kan terjadi terjadilah. Masa Depan bukan Hak kita untuk tau Que Sera-Sera.

5 Komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

5 responses to “Untuk Kamu yang Tidak Mendapatkan Sekolah Idaman

  1. jadi, inget masa-masa baru masuk kuliah :3

  2. Agfian Muntaha

    ini konfirmasi kalau udah tua atau gimana ya? hehe

  3. menegaskan kalau saya itu masih belum tante-tante. hahaha

  4. Agfian Muntaha

    ya bentar lagi paling mbak😀

  5. aduuh.. jgn panggil mbak -.-” kan eike masih muda banget.. emang umur berapa sih? 30 yak? haha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s