What a Perfect Life

old couple

Gue selalu melihat keromantisan dalam pandangan yang berbeda, tergantung dari siapa objeknya. Kalau pemandangan kemesraan itu timbul dari dua orang tua seperti foto di atas, gue bakal bilang dengan yakin, kalau kemesraan itu romantis. Tapi kalau gue liat kemesraan itu datang dari dua orang pemuda yang bahkan belum pernah ngerasain nikah secara resmi, maka gue bakal bilang kalau mereka alay. Kalau kemesraan itu datang dari personel Coboy Junior dengan cewek cakep yang katanya saudaranya? Emm, sunat dulu aja deh ya.😉

Yap, bagi gue keromantisan sejati akan bisa terlihat ketika kita sudah tua. Saat kulit kita sudah keriput, saat tangan kita mulai gemetaran untuk sekedar merangkul kekasih kita, saat mata kita mulai rabun untuk melihat keindahan dari pasangan kita. Apa yang membuat kita masih mencintai pasangan kita? Keterpaksaan karena sudah tidak mungkin cari yang lain lagi? Mungkin. Tapi gue lebih percaya, bahwa cinta itu sendirilah yang membuat kita tetap mencintai pasangan kita di masa tua nanti.

Mungkinkah gue bakal ngerasain itu? Well, i don’t know. Gue gak bisa ngeramal apapun. Dan Tuhan pasti punya jawaban buat gue. Yang perlu gue lakuin sekarang simpel sih: Gue kudu memantaskan diri, sehingga saat kesempatan itu datang, gue udah siap. Semoga.

Tapi kalau ditanya, bagaimana kehidupan sempurna itu menurut gue, ini jawaban gue:

Seorang laki-laki, tumbuh sempurna di dalam lingkungan akademis yang baik. Dia kemudian melanjutkan studinya ke kampus terkenal yang memang hanya menerima para juara di sekolah. Selama berkuliah, dia rajin kuliah dan mengerjakan tugas dengan baik. Dia juga aktif di organisasi kampus (UKM), menjadi ketua di salah satu UKM yang menjadi passionnya, dan menjadi pujaan banyak gadis. Tak berhenti di situ, dia pun aktif di berbagai organisasi sosial di luar kampus yang mentereng, Walhi misalnya. Waktu berlalu, dia pun lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Tak perlu mencari kerja, tawaran sudah datang dengan begitu banyaknya kepada dia. Dia bekerja di perusahaan multinasional company, dalam kurun waktu dua tahun, tabungannya sudah cukup untuk membeli rumah baru.

Tahun berikutnya dia menikah dengan wanita pujaan hatinya. Wanita sempurna, seperti dirinya. Mereka cocok.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia. Sebelum berangkat kerja, si suami dibangunkan dengan sentuhan lembut istrinya dan bau masakan yang menggugah selera. Si suami mandi, lalu memakai pakaian yang sudah disiapkan sang istri dengan rapi. Tak lupa, dasi pun dipakaikan oleh sang suami. Setelah itu mereka makan bersama di meja makan, dengan menu simpel namun mahal. Terakhir, menjelang keberangkatan, keduanya saling membagi kecupan, seolah memberikan kekuatan untuk masing-masing.

Suami pergi dengan perasaan bahagia, siap untuk bekerja. Istri tinggal di rumah dengan perasaan bahagia, siap untuk menjaga rumah, dan menyambut suami dengan kenyamanan rumah yang membuat kangen tentunya.

Tak sampai satu tahun rumah tangga sempurna itu berlangsung, akhirnya si istri hamil. Mereka bahagia bukan kepalang. Si suami yang biasanya dilayani setiap pagi, mendadak menjadi seorang bodyguard terbaik bagi si istri. Apapun keinginan istrinya, dia penuhi. Pernah satu kali istrinya minta dibelikan sate ayam, namun si suami yang bahagia justru membeli seekor ayam potong yang masih hidup. Lalu dia menyembelih ayam itu, dan memasaknya sendiri untuk sang istri.

Akhirnya waktu kelahiran tiba. Suami yang mendadak overprotektif semenjak istrinya hamil, langsung melarikan istrinya ke rumah sakit dengan sedikit panik. Saat-saat kontraksi pun, suami terus menemani istri yang berjuang. Tangannya dengan kuat menggenggam tangan sang istri. Kekuatan mereka bersatu, hingga akhirnya lahirlah si jabang bayi. Mereka bahagia.

Si anak dibesarkan dengan penuh rasa cinta. Berbagai mainan edukatif, musik yang membangun, dan berbagai fasilitas mewah lainnya diberikan si suami.

Hal itu terus berulang sampai mereka memiliki 3 orang anak. Anak mereka tumbuh dengan sempurna, seperti orangtuanya. Lalu mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih yang tua, menghabiskan hari dengan berpelukan, berbalas kata cinta, dan saling memandang. What a perfect life!

Itulah kisah sempurna menurut gue. Membosankan? Memang. Mungkin karena itulah, kita harus menjalani hidup yang tidak sempurna.

2 Komentar

Filed under Freedom to speak

2 responses to “What a Perfect Life

  1. setujuuuuu……
    jadi bayangin….hehehehehe…tapi sepertinya tidak semudah itu…

    mampir ke blog Q yang ini juga ya… http://nutrisicantik.blogspot.com/2013/08/menjaga-pola-makan-sehat-di-hari.html

  2. Agfian Muntaha

    Haha, emang gag akan semudah itu mbak😀

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s