Lelucon Mainstream Masa Kini

oh my god!

Hampir semua orang menyukai humor. Bahkan orang paling serius di dunia pun menyukai lelucon. Konon, cewek pun lebih suka sama cowok lucu dibanding cowok kaya. Konon.

Lelucon memang menyenangkan. Lelucon membuat kita tertawa dan dalam hitungan beberapa mili detik, kita lupa akan masalah hidup yang berat. Masalah belum bayar utang lah, masalah belum wisuda lah, atau mungkin yang paling vital, masalah belum ngasi makan tikus kesayangan kita. Ya, we love joke!😀

Masalahnya, dalam dunia perlucuan yang kita kenal sekarang, ada banyak joke yang sebenernya terkesan garing dan terlalu mainstream, namun entah kenapa mulut kita seakan gatal untuk mengucapkannya. Padahal, dalam hati kita tahu bahwa itu sudah tidak lucu lagi, tapi tetep aja, mulut kita terasa otomatis mengucapkannya. Apa aja lelucon mainstream itu? Boleh deh kita bahas di sini.🙂

1. BBM naik

“Waduh, BBM mau naik nih, gimana dong?”

“Udah, biar gak bingung, ganti pake Whats app atau Line aja, HAHAHAHAHA!”

See? Ini adalah lelucon paling mainstream abad ini. Lelucon di mana memplesetkan istiliah BBM (bahan bakar minyak) menjadi Black Berry Messenger. Memang sih di awal kemunculannya, joke ini lucu banget. Tapi sekarang, saat hampir seluruh anak muda yang udah disunat menggunakan joke ini, membuat lelucon ini sangat garing.

Seharusnya dengan kemajuan zaman seperti sekarang, kita tidak perlu lagi bergantung pada joke-joke mainstream seperti ini. Tapi masalahnya, setiap kali ada yang ngomong BBM, entah kenapa kita selalu tergoda buat ngelempar joke ini. Padahal kita tahu ini udah gak lucu sama sekali. Tapi, tetep aja mulut rasanya gatel kalau gak ngomongin nih joke.

2. Missed Call dong

“Aduh gantungan kunci gue di mana ya? Perasaan tadi gue taruh di sini! Aduh, jangan sampai ilang dong, itu kan pemberian pacar gue waktu dia belum operasi kelamin!”

“Di missed call aja neng, biar ketemu.”

Ada dua hal yang bikin lelucon ini sangat garing. Yang pertama karena udah terlalu mainstream. Yang kedua, orang yang kita lemparin joke sedang tidak dalam mood bercanda. Jadi, jangankan tertawa, bisa-bisa dia justru makan kamu gara-gara melempar joke semacam ini. Hanya saja masalahnya, setiap kali ada teman yang kehilangan barang (bukan gadget), tetep aja mulut kita ngerasa gatel buat ngomong, “di missed dong!” Padahal kita tahu kalau itu sama sekali gak lucu dan berpotensi membahayakan jiwa kita.

3. Dari tadi

“Nama saya Slamet mas,”

“Nama saya Richard, salam kenal mas, hehe.”

“Mas Richard dari mana?”

“Dari tadi”

MEEEN, lelucon ini juga di awal kemunculannya adalah sebuah fenomena dan lucu. Namun sekarang dia hanya tinggal kenangan, lelucon ini sudah terlalu mainstream dan garing. Masalahnya sekali lagi adalah, setiap kali kita kenalan atau baru pertama bertemu orang, lalu dia bertanya kita dari mana, tetap saja mulut ini sangat tergelitik buat ngomong, “dari tadi.” Dan walaupun lelucon ini sama sekali gak lucu, tetap saja joke ini berhasil membuat cair suasana. Bahkan, kita bisa dianggap orang yang humoris gara-gara melemparkan joke mainstream ini.

Percaya deh sama gue, walaupun orang yang kamu lemparin joke ini gak merasa ini lucu sama sekali, dia bakalan tetep tertawa. Yah, meskipun ketawanya dipaksain gitu. Biar sopan. Mungkin.

4. Di hatimu

“Aduh bingung nih, tempat makan yang enak di mana ya?”

“Di hatimu…”

Iyuuuh, jijik banget gue sama lelucon yang satu ini. Ini adalah lelucon sekaligus gombal yang sudah sangat mainstream. Gak cuma cowok, cewek juga sering ngelempar joke ini. Entah itu sama pacarnya beneran, selingkuhan, temen, atau sekedar artis pujaan di twitter. Tapi percaya deh, lelucon (atau gombalan) ini sudah terlalu mainstream.

Herannya, meskipun terlalu mainstream, joke ini tetep aja bisa bikin cewek menggelinjang. Coba aja kalau gak percaya.

5. Plesetan

“Bro, kita makan rendang yuk! Udah lama gue gak makan yang pedes-pedes!” Ajak Richard pada Slamet sambil mencoba menggandeng tangannya.

Mengetahui Richard ingin menggandenga tangannya, Slamet mencoba mengalihkan pembicaraan, “Rendang itu kan kalau pemain sepak bola Rich.”

“Itu tendang dodol!” Balas Richard, sama sekali tidak tertarik dengan lelucon plesetan dari Slamet. Dia masih berusaha menggandeng tangan Slamet.

Slamet tetep berusaha mengalihkan pembicaraan, “Tendang itu kan kalau yang di dalam telinga kita Rich,”

“Itu Gendang kampret!” Richard masih tidak tertarik dan mulai bosan dengan permainan plesetan dari Slamet.

“Gendang itu senjata jaman dahulu Rich.” Slamet tak lelah terus mencoba.

“Ngaco lu nyet, gendang itu sinonim dari kata ‘lagi’, itu yang bener.”

Slamet berhasil, Richard sekarang ikut-ikutan bermain plesetan dan lupa kalau dia pengen nggandeng tangan Slamet. Akhirnya mereka pun bermain plesetan sampai maut memisahkan mereka. Fin.

Yup, plesetan adalah lelucon mainstream yang entah kenapa selalu memancing otak kita untuk menikmatinya. Plesetan ini sudah ada sejak zaman sebelum gue lahir, namun tetep aja sampai sekarang masih dipakai. Walaupun sebenernya kita sendiri sering nganggep lelucon ini tidak lucu sama sekali, tetep aja, pada akhirnya kita akan tergiring dan tertantang untuk menyambung plesetan dari teman kita! Iya gak? FYI aja sih, kalau di Yogya, permainan plesetan tidak akan berakhir, kecuali salah satu teman kita ada yang ayan atau seseorang mengakhirinya dengan memplesetkan apapun kata yang sedang dimainkan dengan CIDUK (bahasa jawa dari gayung). Entah kenapa bisa begitu.

Yah, itu tadi beberapa lelucon yang gue anggep mainstream namun selalu menggoda buat dilakuin. Gimana dengan elo? Menurut lo ada gak lelucon mainstream lainnya? Silahkan share di comment box ye. Salam garing Indonesia!😀

2 Komentar

Filed under Gag jelas

2 responses to “Lelucon Mainstream Masa Kini

  1. noe

    Hahaha.. lelucon yang merajalela di semua kalangan. aku hampir setiap hari dapet dan memakai lelucon itu :p

  2. Iya mas itu emang udah biasa makanya sudah dianggep keberadaannya.hehe

    -.Vita

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s