Ramadhan dan Cerita Kaki Kecil Part 1

masjid-istiqlal

Marhabban Yaa Ramadhan.

Alhamdulillah, untuk ke sekian kalinya, saya bertemu lagi dengan Ramadhan. Saya tidak tahu ini sudah ramadhan yang keberapa bagi hidup saya. Yang saya tahu, saya tidak ingin mengecewakan diri saya di Ramadhan kali ini.

Ramadhan tahun lalu penuh dengan kekecewaan. Kesibukan akan pekerjaan, tugas, dan kesenangan pacaran melenakan saya dari usaha mendekatkan diri kepada Allah, sang Maha Mencintai. Saya sadar apa yang saya raih tahun lalu tidaklah maksimal. Dan sekarang, sudah seharusnya saya menghentikan kekecewaan itu. Semoga, Ramadhan kali ini dapat saya maksimalkan. Tentu saja semuanya tidak akan dapat saya raih tanpa ridho dan ijin dari Allah SWT.

Oke deh, itu sedikit harapan saya tentang Ramadhan kali ini. Dan sekarang, saya ingin berbagi kisah tentang Ramadhan masa kecil saya. Ramadhan yang penuh dengan gerakan kaki-kaki kecil yang tak mudah lelah.

Cerita Kaki Kecil

Ramadhan di masa kecil adalah hal yang sekilas terlihat menakutkan. Keharusan untuk berlapar-lapar selama seharian, kemudian disambung dengan tarawih yang melelahkan malamnya, adalah sebuah mimpi buruk bagiku. Aku tidak suka perasaan lapar ini, aku tidak mau berlelah-lelah di malam hari untuk menunaikan Sholat yang saking lamanya bisa membuat kakiku pegal. Padahal, kaki kecilku ini tak pernah merasakan pegal. Dia sanggup berlari berjam-jam tanpa mengeluh kesakitan. Dia sanggup menendang bola hingga bola itu hilang di atap rumah. Dia sanggup menendang perut anak-anak nakal yang coba menjahiliku. Kaki kecilku adalah kaki yang hebat. Kaki kebanggaanku.

Namun kombinasi puasa dan tarawih, sukses membuatnya takut dan gemetaran.

“Aku gak mau berangkat tarawih Mah! Capek!” teriakku pada Ibuku saat malam pertama Ramadhan datang.

Sambil membawa buku catatan Ramadhanku, ibu melihat penuh harap kepadaku, “Terus gimana kamu mau ngisi buku Ramadhan ini le?”. Sebuah kata-kata yang jitu. Aku hanya bisa terdiam.

Saat tensi masih memanas, tiba-tiba terdengar gerombolan anak berteriak dengan suara kecilnya yang amburadul tanpa intonasi yang pas. “Fiaaaaaaan! Ayo Taraweeeeeeeeh!” Cempreng.

Namun suara yang cempreng itu, mampu memaksa kaki kecil ini berjalan keluar dengan semangat. Ya, berangkat taraweh bersama teman sambil membawa petasan adalah sebuah kenangan tersendiri di bulan Ramadhan.

Akhirnya kami sampai di masjid. Setelah sebelumnya menggoda cewek-cewek dengan melemparkan petasan kecil di sekitar kaki-kaki mereka, lalu lari sambil tertawa terbahak-bahak. Menyenangkan.

Di dalam masjid, aku dan teman-teman selalu memilih bergerombol. Kami sudah SD sekarang, dan hal paling memalukan yang mungkin terjadi pada anak SD adalah jika dia sholat disamping ayahnya. Men, kita gag semanja itu!

Dan seperti sudah kuduga, kegiatan shalat Tarawih menjadi kegiatan yang melelahkan. Setelah selesai pun, masih ada satu perang besar yang harus kami (anak sekolahan) lakukan. Kami harus berlomba menuju di depan Imam untuk mendapatkan tanda tangannya di buku catatan Ramadhan kami. Kami selalu berebut dengan tenaga maksimal, membuat para anak cewek harus rela sabar dan menunggu kami (para cowok jagoan ini) selesai meminta tanda tangan. Sebenarnya kami tahu, kami tidak perlu berebut tanda tangan untuk mendapatkannya. Kami pasti akan mendapatkan tanda tangan itu. Tapi bagi kami, mendapatkan tanda tangan terakhir adalah sebuah hal yang memalukan.

Tanda tangan selesai, lalu kegiatan bermain dimulai. Biasanya kami akan bermain petak umpet, polisi-polisian, dan sebagainya. Intinya adalah yang bertema kejar-kejaran. Di sinilah kekuatan kaki-kaki kecil kami menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Teman sepermainanku terdiri dari orang yang rata-rata dua tahun lebih tua dari aku. Karena itu, aku dianggap sebagai anak kecil di dalam golongan teman sepermainanku. Dan dalam semua permainan, aku selalu termasuk dalam ‘most wanted person’. Orang yang pertama diincar, karena paling mudah untuk ditangkap.

Biasanya kita bermain sampai malam. Hingga orang-orang tua kita datang sambil membawa pemukul kayu untuk menakut-nakuti kita. Yang pertama didatangi orangtuanya acapkali menolak untuk disuruh pulang. “Anak mami.” Begitu pikir kami. Namun saat jeweran dan cubitan sudah datang bertubi dan air panas mulai menyerang mata. Maka permainan dinyatakan selesai. Dan berakhirlah malam kita di bulan Ramadhan.

Besok akan kuceritakan kisah di waktu sahur yang sangat memorial. Tentunya, dengan kaki kecilku sebagai kebanggaan.

Tinggalkan komentar

Filed under Sehari-hari

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s