Emosi, Munarman, dan Islam

blog post 4

Emosi tidak pernah lepas dari hakekat kemanusiaan. Setiap manusia yang hidup dan berakal, pasti pernah merasakannya. Emosi yang meluap-luap, seperti ada sebuah batu besar yang menindih kepala. Ingin rasanya berteriak, memaki, memukul kepada apapun yang ada di dekatnya, hingga batu itu hilang dari rasa. Perasaan tidak nyaman, yang membuat hati terasa berat, mata terasa hangat, dan bibir terasa dingin. Itulah emosi.

Namun, pada kenyataannya emosi bukanlah sekedar hal-hal yang berbau negatif. Emosi, ada pula yang membawa perasaan positif. Perasaan haru, senang, bahagia, bangga, dan… Cinta. Itu semua juga emosi. Emosi yang memberikan alasan setiap manusia untuk bergerak. Emosi yang menjadi alasan untuk hidup.

Emosi selalu ada pada manusia. Dan manusia yang bisa menggunakannya secara bijak, memiliki kemungkinan untuk menjadi juara di dunia. Bukan juara yang berdiri di puncak sendirian. Melainkan juara yang berdiri bersama-sama dengan sahabatnya di atas. Tersenyum bersama, bernyanyi bersama, bergandengan tangan, berbagi indahnya kemenangan. Itulah orang yang bisa menggunakan emosi dengan bijak.

***

Kisah penyiraman Munarman terhadap Thamrin, seorang profesor kenamaan, di televisi tentu adalah sebuah fragmen tersendiri dalam objek emosi. Emosi yang meluap diantara keduabelah pihak, ketidak pandaian seorang profesor membaca suasana hati lawan bicaranya, dan ketidakpandaian Munarman dalam menggunakan emosinya, jelas adalah awal mula dari kejadian ini. Presenter yang tertekan oleh rutinitas kerja dan kebijakan produser acara pun, justru menjadi salah satu api pemicu kejadian memalukan negeri ini.

Emosikah? Sudah pasti. Namun yang menarik adalah, bagaimana sebuah emosi dapat dengan mudahnya memburu dan masuk ke dalam sanubari 4 orang yang sadar dirinya sedang direkam kamera. Sadar bahwa setiap gerakan kecil dari mereka saat itu, sedag diperhatikan oleh banyak orang di negeri ini. Betapa mudahnya sebuah emosi masuk.

***

Lalu, apakah lantas sikap dari Munarman itu melambangkan islam secara keseluruhan? Wow, tentu banyak kalangan yang tidak setuju dengan hal itu. Begitupun aku. Islam adalah islam. Islam adalah damai. Islam adalan tentang penggunaan emosi untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Islam sudah mengatur emosi dengan baik. Kamu marah? Berwudhulah. Kamu ingin menangis? Sembahyang dan berikanlah tangisanmu untuk Tuhanmu. Kamu ingin tertawa? Ajaklah saudara dan sahabat-sahabatmu untuk tertawa bersama. Betapa indahnya emosi dalam luapan berdasarkan agama Islam.

Satu lagi poin penting emosi dalam islam adalah ibadah ini: Shaum. Shaum (atau yang lebih dikenal dengan puasa, namun saya enggan menyebutnya seperti itu) adalah sebuah bentuk kepedulian besar Tuhan terhadap emosi umatNya. Di dalam shaum, emosi harus diminimalisir. Di dalam shaum, kita belajar mengendalikan emosi dalam sehari. Belajar membiasakan diri untuk mengendalikan emosi, hingga akhirnya kita secara tak sadar menjadi pengendali emosi kita sendiri.

Mengendalikan emosi berarti kita siap untuk menang bersama-sama dengan sahabat di dunia ini. Islam mengajarkan untuk mengendalikan emosi. Berarti, islam mengajarkan kita siap untuk menang bersama-sama dengan sahabat di dunia ini. Mudah bukan? I love Islam.

2 Komentar

Filed under Freedom to speak

2 responses to “Emosi, Munarman, dan Islam

  1. yah, Islam tidak mengenal kekerasan…

  2. Ian Bood

    Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dengan indah. Insya Allah mbak🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s