Sepakbola dan Agama

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai judul di atas, saya ingin teman-teman semua tahu seperti apa nilai-nilai kehidupan yang saya junjung. Untuk mengetahuinya, silahkan buka tulisan-tulisan saya sebelumnya tentang Islam, ada yang berjudul Facebook dan Hukumnya dalam Islam. Juga ada kritik saya terhadap mahasiswa Islam di UGM, judulnya adalah Pembiasan Nilai-nilai dalam Islam. Selain itu, waktu salah satu stasiun televisi menyerang Rohis dengan menjulukinya sebagai sarang teroris dulu, saya juga menceritakan Masa-masa Rohis saya. Dan dari semua itu, saya juga pernah membuat tulisan kontroversial tentang sejarah NII. Dan ada juga beberapa tulisan lainnya yang bertemakan Islam. Saya juga sempat membuat tulisan tentang sepakbola dan kejujuran.

Mengapa saya menuliskan tulisan-tulisan saya terdahulu tentang islam dan sepakbola? Karena saya berharap, teman-teman tidak langsung asal menjduge saya setelah membaca satu tulisan ini. Emm, sekalian promosi juga sih, kalau mau dilihat ya syukur, kalau enggak ya sukur. Hehe.

Oke, sekarang saya ingin berpendapat tentang sepakbola dan agama. Dua buah hal yang menurut saya berhubungan, namun kadangkala terlalu dilebih-lebihkan. Dua hal yang penting, meskipun beda kadar kepentingannya. Dua hal yang akan selalu mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

Lalu, apa masalah dari dua hal ini?

Well, seiring dengan majunya teknologi komunikasi saat ini, membuat para fans sepakbola di seluruh dunia dapat terhubung satu sama lain dengan cepatnya. Saat ini, kita dengan mudah akan melihat komentar-komentar antar suporter sepakbola di seluruh dunia. Entah itu sesama pendukung sesama tim, ataupun rival. Hal itu menarik. Ejek-ejekan antar tim, membandingkan prestasi, membandingkan kualitas pemain, membandingkan kondisi keuangan klub, dan ujung-ujungnya saling hina. Bagi saya itu menarik, karena menjadi sebuah gaya hidup tersendiri. Menarik… Sampai agama terlibat di dalamnya.

Seperti kita tahu, di dunia sepakbola, tersebar pula banyak pemain muslim yang mencari nafkah dan berkarya di liga-liga besar Eropa. Sebut saja Franck Ribery, Karim Benzema, Demba Ba, Mesut Ozil, Erick Abidal, Samir Nasri, dan masih banyak lagi. Dan percayalah, saat foto mereka di posting di salah satu Facebook ejek-ejekan antar suporter sepakbola nomer 1 di dunia, maka saat itu juga, komentar ‘I love Islam’ akan banyak bermunculan. Dan bagi saya, itu justru membuat nilai-nilai islam sendiri menjadi terdegradasi.

Maksud saya, mengapa harus membawa-bawa nilai dan perbedaan agama di dalam sebuah event yang sudah jelas-jelas dipergunakan untuk mempersatukan dunia?

Saya beragama Islam, Ribery juga beragama islam, lantas apakah saya harus membela Bayern Muenchen saat berhadap melawan SS Lazio, yang notabene beragama katolik?? Think again.

Saya cinta Islam, namun saat seorang pemain sudah berada di lapangan, maka yang saya perhatikan adalah permainannya. The way he plays football, is the only thing that i care about.

Menyinggung-nyinggungkan agama dengan sepakbola bukanlah pilihan saya, bagaimana dengan anda?🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Freedom to speak

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s