Susah, Bahagia, dan Hidup

Untuk apa kita hidup? Bukankah untuk mencari kebahagiaan?

Hidup selalu menjadi guru yang berharga. Dia mengajarkan pentingnya diri ini, membuat kita perlahan merasakan arti dari kehadiran kita di dunia ini. Hidup tidak pernah berdusta kepada kita, membuat kita belajar dalam berbagai tahap yang dilewati.

Lalu seperti apa kita harus hidup? Ada terlalu banyak pilihan bagi kita untuk menjalani hidup ini. Kita bisa memilih hidup enak, nyaman, dan tenteram. Atau kita bisa memilih hidup yang penuh dengan tekanan, mencekam, dan terancam setiap saat.

Bahkan, kita bisa memilih keduanya.

Namun satu hal yang pasti, apapun bentuk kehidupan yang kita pilih, pada dasarnya kita harus selalu bahagia. Karena hidup hanya akan memeluk orang yang bahagia, bukan memeluk agar orang itu bahagia.

Jadi kita harus hidup secara enak, nyaman, dan tenteram?

Kehidupan aman, enak, dan tenteram hanya ada di dalam dongeng. Hidup tidak pernah mengajarkan kita untuk berleha-leha dalam kemenangan. Hidup selalu menuntut kita untuk mencari kemenangan yang lain setelah satu kemenangan. Hidup tak membiarkan kita tenggelam dalam kemenangan duniawi, sementara kemenangan abadi masih menanti di seluruh riwayat kehidupan kita.

Janganlah mencari kehidupan yang enak, nyaman, dan tenteram, karena itu akan mematikan hidup kita. Kita hidup, tapi tak hidup. Kita hanyalah mayat hidup dan seonggok daging yang berjalan menuju kuburan kita sendiri, saat kita memutuskan untuk hidup tenang dan nyaman.

Hidup adalah tentang berjuang.

Entah memperjuangkan diri sendiri, ataukah untuk orang lain. Tapi kualitas hidup kita, ditentukan oleh kualitas perjuangan kita. Karena hidup, tak pernah lelah untuk memperjuangkan kita.

Hiduplah dengan susah, karena susah adalah lambang perjuangan. Hiduplah dengan susah, karena susah akan menjaga kita tetap hidup. Hiduplah dengan susah, karena susah…

Adalah hidup itu sendiri.

Bukankah sudah dijelaskan, dunia adalah neraka untuk orang beriman? Bukankah kita tahu dengan pasti, bahwa jika kita ingin meraih kemenangan abadi, kita harus bersusah payah di dunia ini? Mencari yang sulit dicari, mengalahkan yang sulit dikalahkan, dan mencintai yang sulit dicintai.

Susah akan menjaga kita dari kecintaan yang berlebihan pada dunia. Dunia yang sangat ditakuti oleh Nabi dan para sahabatnya. Dunia yang melenakan, padahal fana, dan semua orang tahu itu.

Namun tetap saja, godaan dunia tak pernah berhenti. Menggerogoti hidup yang semakin lama semakin lemah.

Untuk itu, hiduplah dengan susah. Kendalikan dunia dengan kesusahanmu, yang akan membuat hatimu selalu terjaga, nafsumu selalu terkendali, dan hidupmu selalu bermanfaat.

Apakah susah itu?

Susah tidak harus selalu menyangkut kemiskinan, penyakit, dan pembunuhan. Susah tidak selalu harus membuat kita miskin dan sulit makan. Hidup susah bukan berarti mengharuskan kita menjadi pecundang dalam kehidupan.

Hidup susah adalah perjuangan tiada akhir dalam menggapai cintaNya.

Kita boleh saja kaya, namun bukan berarti kita harus melupakan yang miskin. Jangan jadikan kekayaan kita sebagai alasan kita terlena pada dunia yang fana. Jadikan kekayaan kita sebagai sumber kesusahan berikutnya. Takutlah pada harta yang menumpuk tapi tidak disedekahkan. Takutlah pada pertanggungjawaban setiap sen yang kita miliki di hadapan Rabb nantinya. Takutlah, dan biarkanlah kekayaanmu menjadi sebuah kesusahan yang baru. Kesusahan yang akan membantumu berjuang lebih hebat. Kesusahan yang akan menjaga hatimu untuk tidak terlalu mencinta dunia. Kesusaha yang akan membuatmu ikhlas saat harus kehilangan semuanya.

Hiduplah susah dalam kemenanganmu. Tiap kali engkau meraih kemenangan, hijrahlah! Raihlah kemenangan yang lain! Dunia tidak pernah terlalu sempit untuk kau taklukkan. Selalu ada tempat untuk berjuang di dunia.

Hidup susah, berarti kita tidak boleh bahagia di dunia?

Kebahagiaan tidak datang dari cara hidup kita. Kebahagiaan datang dari hati. Saat kita percaya segala kesusahan yang kita hadapi ini adalah untuk Yang Tercinta di semesta alam, kebahagiaan akan datang, bahkan tanpa kita sadari.

Hidup adalah susah, hati adalah bahagia. Itulah keikhlasan yang konon mustahil di cari. Sebuah tingkatan yang apabila seseorang meraihnya, dia bahkan tidak tahu telah meraihnya. Sebuah perjuangan yang lebih hebat. Dan untuk itu, kita haruslah bersusah payah dulu di dunia.

Hiduplah susah dengan penuh kebahagiaan. Utopis semu nan fana. Namun semua itu hanya bersumber pada satu hal: keimanan kita pada Tuhan.

Bagaimana jika iman kita belum cukup? Susah membuat kita semakin jauh darinya, karena kita kelelahan?

Maka melambat dan tersenyumlah. Karena  sesekali, manusia memerlukan spasi dalam hidupnya. Menemukan arti hidup dalam jantung yang berdegup normal, tidak terburu-buru. Sesekali minumlah teh, duduk dengan santai, dan biarkan hatimu tenang. Dan saat dirimu sudah siap, kembalilah berjuang dalam kesusahan.

Itu saja? Semudah itukah mengendalikan rasa penat di dalam hidup?

Tidak semudah itu, karena pada akhirnya, kita tidak akan mampu menghadapi kerasnya dunia sendirian. Kita akan selalu memerlukan sahabat dan cinta untuk mengarungi kerasnya kehidupan. Dalam persahabatan dan cinta itu, kita akan berbagi manfaat dalam perjuangan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain?

Hipokrit, kau bahkan tak pernah merasakan kesusahan dalam hidupmu. Selama ini, engkau selalu bersembunyi dalam nyamannya perlindungan hutan yang menjagamu! Kau berbicara mengenai hidup, susah, bahagia, tapi kau hanya berdiam di sini, di tempat ini! Kau hanyalah pembual dalam keheningan!

Tidak semua yang engkau lihat adalah aku, tidak semua yang engkau dengar adalah kamu…

Sleman, 13 Februari 2013

Dalam sebuah perenungan akan masa depan

2 Komentar

Filed under Full fiksi

2 responses to “Susah, Bahagia, dan Hidup

  1. BIMO

    Mantap….!Ternyata kenikmatan itu disaat kita berjuang. bukan hasil dari perjuangan.

  2. Ping-balik: Assalamu’alaykum MasBro dan MbakVro | Agfian Muntaha

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s