Senyum (Bukan Menangis)

Enjoy it my friends :)

Enjoy it my friends🙂

Pernahkah kamu tersenyum, sedang hatimu menangis?

Manusia diciptakan dalam kesempurnaannya masing-masing. Ada yang sempurna dengan hidung pesek, kulit putih, dan rambut lurus, ada pula yang sempurna dengan variasi yang lain. Ya, manusia itu sempurna, dan kesempurnaan itu tidak akan hilang bersama tangan yang diamputasi, atau jantung yang dicangkok, atau kecacatan lainnya. Manusia, selalu memiliki caranya untuk menjadi sempurna.

Pastinya akan datang masa, dimana manusia merasa sulit. Merasa dadanya sempit dan sulit untuk bernafas, karena menghadapi berbagai permasalahan pelik yang menghadang. Pasti akan datang masa di mana manusia merasa seisi dunia melawan dirinya. Di mana keberuntungan menjauhinya, dan dia bagaikan seorang diri. Tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa keluarga, tanpa… Tuhan.

Saat kesulitan-kesulitan itu menghadang, kesempurnaan manusia dicoba. Kesempurnaan manusia dipaksa untuk menyadari sesuatu, bahwa dia tidak sempurna. Ya, manusia tidak sempurna. Kalau dia sempurna, maka apalah arti Tuhan sebagai pengatur alam semesta? Apalah arti langit sebagai peneduh jiwa? Apalah arti manusia lain sebagai pegangan. Manusia, memang tidak sempurna.

“Saat kamu,” Kata seorang lelaki kepada anaknya di suatu hari yang sulit, “Saat kamu menyadari ketidaksempurnaanmu itu, apakah yang akan kamu lakukan anakku?”.

Si anak terdiam sesaat. Mungkin mencoba berpikir, atau lebih jauh, mencoba membayangkan dalam imajinasi yang rapuh. Hingga akhirnya mulutnya terbuka penuh makna, “Entahlah ayah, mungkin aku akan menangis? Karena menghadapi kesulitan dalam kesendirian, adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Selama ini selalu ada Ayah yang menemaniku dalam setiap kesulitan.” Ungkap anak itu, polos. Tanpa pencitraan.

Si ayah tersenyum tipis. Sangat tipis, sehingga mungkin si anak tidak melihatnya. “Dalam setiap kesulitan, kesendirian, dan kemalangan, menangis adalah hal paling nyaman yang dapat kita lakukan. Sesekali menangislah, jika itu memang membuatmu lebih baik.” Si Ayah memberikan nasehat.

“Tapi ingat!” Sambung si ayah, “Jangan biasakan dirimu untuk menangisi setiap ketidakberdayaanmu. Sebaliknya, sunggingkanlah senyum manismu. Buat dirimu bahagia tanpa alasan. Sesungguhnya setiap kali kamu tersenyum, akan datang kekuatan baru untukmu. Kekuatan yang dapat membawamu keluar dari kesulitan. Kekuatan, yang kelak tidak hanya untuk dirimu, tapi juga untuk orang disekitarmu. Karena kamu, bagaimanapun juga, adalah calon pemimpin!”

Menangis itu nikmat. Menangis itu melegakan. Tapi jangan lupa, tetaplah tersenyum dalam setiap kesulitanmu. Karena senyum, akan menjadi kekuatan untukmu.🙂

2 Komentar

Filed under Gag jelas

2 responses to “Senyum (Bukan Menangis)

  1. rasanya ketika semua rasa sulit itu pergi >> lega dan menyenangkan🙂

    kalau saya suka diem, terus curhat ke Allah. lebih plong rasanya hehee.

  2. Ian Bood

    wah iya mbak, bener banget, enak banget tuh!😀

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s