Cerita Toga (1)

Cerita Toga – Mungkin hanya membutuhkan waktu tak lebih dari sepuluh menit untuk mengenakan toga. Namun kita tak pernah tahu, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mendapatkannya…

Tak terasa, hari ini, 28 agustus 2012, UGM sudah menelurkan kembali para wisudawan-wisudawati yang akan ‘berperang’ di rimba dunia nyata. Saya tak tahu berapa jumlah mahasiswa yang melepas masa ‘lajangnya’ pada hari ini, mungkin ribuan. Namun yang terpenting, ada beberapa orang yang saya kenal telah lulus hari ini. Menyenangkan sekali mendengar kabar bahagia tentang kelulusan teman. Rasanya tuh kayag, dapat undangan pernikahan dari teman! (Ups, bukan bermaksud untuk menyuruh teman-teman yang baru saja lulus untuk langsung nikah loh, hehe).

Kalau boleh, saya ingin menceritakan beberapa teman saya yang lulus hari ini. Boleh kan?🙂

Seperti dalam film-film bercitarasa hollywood, saya akan menceritakan teman saya berdasarkan urutan ketemunya (order by appearance) hoho.

Yang pertama, Yogi Sutopo. Seorang teman dari desa Bojonegoro Jawa Timur. Teman yang saya kenal dari kepanitiaan Gebyar Herbal Raja-Raja Nusantara. Pertemuan kami hanya sebentar, mungkin hanya sekitar 6 bulan saja. Namun dari pertemuan yang sebentar itu, dia sudah ‘menonjok’ muka saya dengan kelulusannya yang cepat sekali.

Melihat bentuknya sekarang, kita tidak akan langsung tahu, tentang perjuangannya selama ini. Lulus dan wisuda yang didapatkannya, bukan berasal dari sekedar rajin kuliah. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Dia bukan dari keluarga orang kaya (mungkin), tapi dia bekerja keras untuk dapat terus kuliah. Berbagai cara dia lakukan untuk mencapai cita-cita lulusnya, beasiswa, jualan pulsa, hape, dan juga sampai jual diri! Oke, dia memang menjual dirinya untuk dijadikan guru les anak-anak sekolah. Saya lupa, anak SMP atau SMA atau SD, yang jelas sekolah! Well, jika sekarang dia berdiri gagah dengan toga yang menempel tepat di badannya (atau kebesaran?) sejujurnya, he deserve it. Ya, segala kerja kerasnya sudah terbayar, setidaknya untuk saat ini, di level kampus. Tentu, saya harap dia tidak akan berhenti bekerja keras, karena dia memang terlahir untuk bekerja keras!

Well, saya tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelah ini bro, tapi semoga itu bermanfaat untuk orang lain dan dirimu. Kalau boleh usul, kamu pantesnya jadi guru, guru yang suka ngehukum dan ngajak berantem muridnya! wkwk. Ngejak gelut kowe ki! Salah satu kata yang sering kamu ucapkan, selain UUUadoh! Hehe…

Yang kedua, teman KKN saya Sofiet Isa, Koordinator Sub Unit Selatan Desa Mantren, Magetan. Beliau angkatan 2007, setahun lebih tua dari saya. Tapi saya ingat, di awal pertemuan di KKN, dia menekankan, “Umur kita sama, cuma saya angkatan 2007, itu aja.” Tapi tetap saja, kita lebih nyaman memanggil dia dengan sebutan mas, haha! Selain karena dia memang terlihat bijaksana dan dewasa, juga karena fisiknya yang cocok untuk dipanggil ‘mas’, (silahkan diartikan sendiri maksudnya apa, hehe).

Bagi saya, dia tergolong muslim yang taat, hehe. Semua itu terlihat waktu menghabiskan dua bulan di Mantren bersama dia. Lumayan disiplin, dan mendisiplinkan. Sangat cocok untuk figur seorang pemimpin. Cuman, ekspresinya sangat lucu kalau main volley, apalagi kalau kalah, haha! Seperti anak elektro lainnya, dia dianggap dapat memperbaiki radio rusak dan mainboard yang soak. Tapi pada akhirnya, dia malah merusakkan speaker milik Fajar Marendra. -____-

Pokoknya sukses untuk kerja kerasnya mas Sofi! Ditunggu undangannya! Ups!

Yang ketiga adalah Muhammad Yasir Al-Haris. Seorang juara bagi saya. Juara tidur salah satunya, hehe.

Gag gag gag, ini serius. Di waktu kecil, dia adalah orang yang tergolong ‘gagap’, dan sepertinya itu cukup mengganggu bagi dirinya. Namun dia tidak menyerah. Semuanya bisa saya lihat sendiri di masa kuliah ini. Dalam kekurangannya, dia malah menantang kelemahan itu. Dia ikut kegiatan yang tentu tidak terbayangkan untuk orang yang sulit bicara, TEATER. Sekilas, tidak masuk akal. Namun kenyataannya, jika anda menyaksikan bagaimana dia tampil, anda bahkan tidak akan tahu kalau dia pernah terbata-bata dalam berkata. Cara dia berteriak, cara dia melahap setiap kata dan naskah yang ada di depannya, adalah cara seorang lakon sejati. Belum lagi dia ikut kegiatan menjadi TRAINER di Koperasi “Kopma UGM”. Sebuah pekerjaan yang juga membutuhkan kekuatan untuk berbicara. And guess what, he did it very well. Walaupun tentu masih banyak kekurangan, namun saya rasa budaya di TC (trainer community) dan Kopma secara umum, memang mengajari kita untuk selalu mengetahui dan memperbaiki kekurangan tersebut.

Sayangnya, dia memang tidak sempurna. Untuk ukuran orang Jakarta, dia terlalu tiiit (disensor oleh lembaga anti rasis se-kartosuro). Silahkan dikira-kira sendiri maksudnya apa, hehe. Yah, sukses ya buat elo sir, ditunggu kabar-kabarnya buat Pak Herin.😀

(Part 1 dulu, mau rapat medikopma soalnya, hehe)

1 Komentar

Filed under Friends

One response to “Cerita Toga (1)

  1. Selamat Buat Wisudawan yang udah Lulus,, terutama buat M yAsir Al-Haris,, Temenku saat berjuang di KOPERASI MAHASISWA kita masing-masing,,,😀

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s