Antusiasme dan Kerendahan Hati

Tak terasa, sudah hampir empat tahun saya tercatat sebagai mahasiswa kampus biru. Banyak suka dan duka yang sudah saya rasakan semenjak mengenakan jas kuning buluk, lambang kesederhanaan UGM yang semakin hari semakin terkikis. Banyak pengalaman tak terlupakan yang kadang membuat saya tersenyum sendiri saat mengingatnya. Dan sekarang, tiba-tiba saya sudah menjadi ‘mahasiswa tua’ di UGM.

Cukup ironis memang, dengan pertambahan usia saya di universitas rakyat ini, perasaan tinggi hati saya justru semakin meningkat. Antusiasme dan kerendahan hati yang selama ini menjadi senjata utama saya untuk dapat berkembang, semakin hilang dan hilang.

Dulu, saya sangat antusias dalam menjalankan kewajiban saya di berbagai posisi. Dengan semangat empat lima dan wajah yang selalu tersenyum, saya laksanakan apa yang seharusnya saya laksanakan. Permasalahan yang datang justru menjadi batu pijakan untuk terus berkarya. Saya ambil setiap peluang yang muncul, berbekal kemauan yang kuat. Itu saja.

Dulu, saya juga sangat rendah hati. Mau mendengarkan dan meneriman nasehat orang lain. Memiliki semangat yang tinggi untuk memperbaiki diri. Dan semua itu membuahkan hasil yang nyata : pribadi yang semakn dewasa!

Namun, ada satu titik di mana saya justru kehilangan dua sifat itu. Perasaan jumawa yang kadang-kadang muncul tanpa bisa dihentikan. Perlahan-lahan telah mengikis sikap antusiasme dan kerendahan hati yang selama ini menjadi senjata saya.

Sekarang saya sudah hampir lulus, Insya Allah februari tahun depan saya akan mengenakan toga dan bergelar sarjana. (aamiin) Tapi saya tahu, dengan sikap saya yang masih sering jumawa (bahkan tanpa saya sadari) ini, maka saya akan berakhir menjadi sarjanan yang menyedihkan. Sarjana yang tidak mau merakyat. Menjadi sebuah contoh sempurna untuk menara gading.

Tapi, saya menolak untuk menyerah!

Masih ada waktu bagi saya, untuk menjadi sarjana yang sesungguhnya. Sarjana yang mengabdi untuk kepentingan rakyat. Sarjana yang bisa dibanggakan oleh orangtua, bukan karena kepandaian intelektual, melainkan juga karena sikap yang santun dan menjadi teladan bagi orang banyak. Saya masih memiliki kesempatan untuk berubah. Dan untuk dapat berubah, saya harus mengakui kesalahan saya. Sebuah kata-kata bijak di dalam film Thor, “Siapapun yang ingin berhasil di dunia ini, harus memulai dengan mengakui bahwa dia tak tahu berada dimana” Pengakuan. Itu kata kuncinya.

Mengakui bahwa saya salah, berarti saya mulai mencari jalan untuk berbalik. Ya, saya harus segera berbailk arah. Selalu ada waktu untuk berubah. Selalu.

Punk rock is about being 18th. Ya, saat ini saya sedang berusaha untuk kembali menimba semangat saya, layaknya remaja berusia 18 tahun. Semangat yang akan mengembalikan antusiasme dan kerendahan hati yang saya miliki.🙂

Saya akan berusaha, dan hanya dengan izin Allah, tujuan ini akan tercapai.

3 Komentar

Filed under Sehari-hari

3 responses to “Antusiasme dan Kerendahan Hati

  1. Istiqomah, mas.🙂
    jangan mudah menyerah untuk menuju hal yang baik. . . ^_*

  2. Ian Bood

    Insya Allah mbak, terimakasih😀

  3. amienn,, semoga kita selalu baik gan,, hehe

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s