Seuntai Do’a, Setetes Air Mata

Malam ini aku paksakan diri untuk bangun. Pertandingan seru antara Real Madrid melawan Barcelona menjadi alasannya. El Classico yang sudah ditunggu-tunggu oleh  jutaan orang diseluruh dunia akan segera berlangsung, dan aku tidak mau melewatkannya. Apakah Christiano Ronaldo yang akan menjebol gawang Valdez kali ini? Atau justru Lionel Messi yang menjadi raja di Bernabeu? Aku sudah tak sabar untuk melihatnya.

Namun dalam langkahku menuju ruang televisi, aku melihatmu, Ibu. Aku melihatmu mendirikan sholat malam di atas sajadah favoritmu, yang engkau dapatkan dari kota suci, Madinah. Kau bersimpuh, dengan penuh penghambaan, merendahkan dirimu di hadapan Yang Maha Kuasa. Lalu samar-samar kudenger suaramu. Suara isak tangis yang lemah, dan semakin lama semakin kuat. Aku mendengarnya, suara lemahmu yang bercampur dengan nafas tersengal karena perasaan yang menusuk di dada. Kutengok kau di dalam kamarmu yang bersih dan wangi. Dan aku melihatnya dengan jelas sekarang…

Lagi-lagi, kau menangis dalam sholat malammu.

Aku tak tahu, apa yang membuatmu selalu menangis dalam sholat malammu. Apakah karena kepergian Ayah? Ya, itu bisa jadi satu alasan yang tepat. Kau begitu terpukul saat Ayah meninggal dunia 6 tahun lalu. Dalam ketenangannya menuju alam yang lain, engkau sesekali menitikkan air mata. Seringkali kau mencoba tegar saat itu, mencoba melayani tamu yang melayat dengan senyum dan ucapan syukur, serta menghibur kami, anak-anakmu yang lemah. Namun aku tahu, -semua orang tahu- kau menyembunyikan kesedihanmu yang sungguh luar biasa. Terlalu luar biasa untuk diungkapkan. Itukah yang membuatmu menangis sekarang, duhai wanita yang mencintai setulus hati?

Atau mungkin ada alasan lain, mengapa engkau menangis. Mungkin karena tingkah-polah anak pertamamu yang engkau sayangkan? Di mana saat engkau sendirian menghadapi derasnya arus dunia, dia justru mempersulitmu dengan tindakan bodohnya? Di mana saat engkau setengah mati membanting tulang menghidupi kami, dia justru menjadi beban terberatmu? Diakah alasanmu menangis dalam setiap shalat malammu, duhai wanita yang sabar menghadapi cobaan?

Atau karena anak keduamu? Wanita tangguh kebanggaanmu, yang sekarang merantau ke kota jauh bersama sang suami tercinta. Aku tahu, engkau merindukannya. Merindukan setiap langkahnya yang gemilang, menjadi kebanggan keluarga di mata orang lain, dan sesekali menjadi tempatmu mencurahkan segala kegundahan di dada. Ya, aku tahu engkau merindukannya hadir di dekatmu, namun kenyataannya berkata lain. Jarak itukah yang menjadi air matamu, duhai wanita yang selalu rindu untuk memberikan kasih sayang?

Jangan-jangan, justru karena anak ketigamu? Yang baru saja menjalani operasi pengangkatan janin mati di dalam rahimnya. Ya, dia harus mengalami keguguran saat hamil pertamanya. Semua orang bersedih waktu itu, begitu juga engkau. Aku yakin, engkau pasti bisa membayangkan betapa sakitnya itu. Betapa sakitnya membayangkan anak yang kita cintai dan harapkan, harus mengakhiri hidupnya di dalam kandungan ibunya sendiri. Ya, mungkin itu yang membuatmu menangis dalam sholat malammu, duhai wanita yang menghargai setiap kehidupan.

“Mau kemana Dik?”Tanyamu tiba-tiba kepadaku.

Aku kaget dan tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, aku berkata apa adanya. “Aku mau nonton bola, Mah.”

Sedikit, aku melihat tatapan kaget dari matamu. Lalu, engkau kembali kembangkan senyummu, senyum yang selalu menemaniku dalam tidur malamku. Dulu…

“Kalau bangun malam, kenapa nggak sekalian shalat Tahajud?” Tanyamu. Masih dengan senyum yang sama.

Aku berpaling meninggalkanmu.

Kini aku sadari, aku salah! Bukan karena kepergian Ayah yang  membuatmu menangis dalam shalat malammu. Bukan pula karena nasib anak-anakmu. Bukan!

Semua itu murni karena cintamu padaNya. Benar kan? Duhai wanita yang memegang teguh agama.

Aku langsung teringat pada saat aku akan memasuki salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia, kau merasa tidak yakin. Namun kemudian, saat keyakinan itu sudah kau dapatkan, maka tanpa kompromi, kau korbankan semuanya. Engkau berjuang mati-matian untuk membiayaiku, agar aku dapat lulus dengan baik. Tak pernah kau mengeluh kepadaku. Yang kau lakukan hanya satu, mencarikan jalan terbaik untukku.

Aku tahu, kenapa kau menangis dalam shalat malammu. Bukan karena kau sedih atas apa yang terjadi pada keluargamu. Bukan karena kau tak puas pada hidupmu. Tapi semuanya hanya karena satu hal, kau menyayangi kami semua, dan tak ingin hal buruk menimpa kami semua. Dan itu semua kau wujudkan dalam do’amu.

Ya Ibu, dulu kau menimang-nimang aku, menemani tidurku, memelukku erat dan semuanya membuatku senang. Namun kini, tubuhmu sudah terlalu lemah untuk menimang-nimang dan memlukku dengan kencang lagi. Tubuhmu sudah tua dan lemah. Namun, ada satu hal yang selalu kau berikan kepadaku.

Do’a…

Do’a dan keridhaanmu, jauh lebih penting dari apapun.

“Aku tak tahu…” katamu suatu saat padaku. “Aku tak tahu apa yang sedang kamu lakukan. Tapi aku yakin, kamu melakukan hal yang benar, anakku. Aku tahu itu, karena kamu adalah anakku.”

Tetaplah percaya padaku ibu, dan akan kubuat kau bangga, duhai wanita yang selalu mencintaiku.

2 Komentar

Filed under Freedom to speak, Sehari-hari

2 responses to “Seuntai Do’a, Setetes Air Mata

  1. trenyuuh dan menyentuh hati. . .

    itulah ibu, sosok yang selama ini membuat kita bisa tegar dan bisa sabar. .
    hanya dengan melihat wajah beliau saja, hati ini merasa tenang. . .
    sungguh. . .🙂

  2. bmaster23

    sedih gan😦 terharu😥

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s