Kebutuhan Dan Nafsu

Perbandingan kebutuhan dan nafsu memang sudah menjadi pembicaraan yang kuno. Ilmu ekonomi dalam teori dan berbagai pelajaran di dalam mata kuliah, sudah membedakan secara jelas antara kebutuhan (need) dan nafsu (keinginan) itu. Karena memang, pada dasarnya kebutuhan dan nafsu itu ada di dalam setiap hati dan hasrat manusia.

Manusia dalam segala keindahannya adalah makhluk yang penuh dengan nafsu. Tak peduli seberapa hebat kita dalam berperilaku beradab, tetap saja ada bagian kecil dalam diri kita yang menonjolkan nafsu. Sebuah konsekuensi logis dari adanya otak yang memiliki kekuatan super. Seperti kata Ben Parker, “Comes great power, comes great responsibility.” Sebuah kata-kata ideal yang sayangnya belum diamini dan diamalkan oleh banyak orang di dunia ini. Yang ada di dalam dunia ini justru sebaliknya, semakin besar kekuatan, maka semakin besar pula nafsunya.

Nafsu di dalam BBM

Kita mungkin sama-sama tahu, tentang cerita akan kenaikan BBM. Sedikit basi, namun mengingat masih belum adanya kepastian dari pemerintah (yang entah kenapa justru sibuk dengan koalisinya), maka pembahasan mengenai BBM masih cukup relevan sekarang ini.

Kenaikan BBM katanya bertujuan untuk melindungi APBN negara yang ‘akan jebol’ kalau tidak dikurangi subsidinya. Lalu dalam perjalanannya, pemerintah menghimbau kepada rakyat agar berhemat dalam penggunaan BBM. Pemerintah juga beralasan tidak mau ‘memanjakan’ rakyat Indonesia dan belajar untuk mandiri.

Demi Allah, itu bagus. Bagus sekali malah! Tapi, sayangnya, hal yang bagus itu, kenapa hanya rakyat yang harus melakukannya?

Pemerintah ingin agar rakyat berhemat? Lalu kenapa mobil dinas pemerintah semakin mentereng dengan kebutuhan bensin yang tidak sedikit tentunya. Memangnya mobil dinas para pejabat negara itu, tidak cukup dengan Supra Fit yang irit dalam penggunaan BBMnya?

Logika sederhananya, kalau kalian tidak mau berhemat, kenapa kita harus berhemat?

Lalu untuk masalah kemandirian. Sekali lagi, itu bagus, dan tentu menjadi impian dari kita semua untuk menuju kemandirian itu. Namun masalahnya, di saat rakyat dituntut untuk mandiri, sudah mandirikah pemerintah? Tidak usah kita berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan yang mandiri, seperti beras, minyak, dan lain-lain yang tentu masih sangat jauh dari kata swasembada. Kita bicarakan mengenai pemasukan saja.

Pemasukan negara kita, bukankah yang terbesar itu dari pajak? Jika seperti itu, bukankah pemerintah sendiri juga belum mandiri untuk mencarikan pemasukan negara yang lain agar bisa melebihi pajak. Bukankah jika pemerintah masih mengandalkan pemasukan dari pajak, berarti mereka masih bergantung pada rakyat. Pajak itu enak bukan? tanpa membuat sebuah terobosan apa-apa, uang pasti sudah akan masuk ke kantong.

Yah, karena itulah saya berani bilang bahwa kenaikan BBM sekarang, adalah dilandasi oleh nafsu saja. Ada banyak cara selain kenaikan BBM yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan APBN. Apa itu? Yang paling mudah adalah, pangkas pengeluaran pejabat. Mudah kan?🙂

Kebutuhan dalam Gubernur Jakarta

Apa yang dicari Jokowi di jakarta?

Dia bukanlah kaum urban yang pindah dari desa solo ke kota Jakarta dengan keadaan mencari uang. Dia sudah memiliki segalanya di Solo. Jabatan, kecintaan dari publik, uang (dari usahanya sendiri), bahkan, orang Solo lebih menurut sama dia dibanding dengan gubernur Jawa Tengah. Lalu untuk apa Jokowi menerima permintaan PDI-P untuk ikut menjadi BALON (bakal calon) Gubernur Jakarta?

Menurut saya hanya satu hal, karena dia merasa kemampuannya dibutuhkan oleh Jakarta yang sudah semakin semrawut dan perlahan semakin kehilangan simbol-simbolnya.

Ya, Jakarta membutuhkan perubahan, dan Jokowi, memikirkan hal itu! Setidaknya, itulah harapan saya.🙂

Kebutuhan dan Nafsu Mahasiswa

Haha, pada akhirnya, sebelum bermimpi mengubah suatu provinsi apalagi negara, kita harus mengubah diri kita sendiri dulu, right? Dan sekarang, saya ingin membahas kebutuhan dan nafsu yang mungkin dimiliki oleh mahasiswa.

Mahasiswa adalah sebuah kelompok masyarakat yang unik. Dimana identitas sama sekali belum melekat sepenuhnya kepada mereka. Mungkin kita sudah menapaki pada jurusan-jurusan yang berbeda, namun pada perjalanannya nanti, perubahan tetaplah ada. Dan di dalam keunikan ‘si persimpangan jalan’ itulah, saya melihat kebutuhan dan nafsu yang menggelora.

Ya, di saat menjadi mahasiswa, kita memiliki dikotomi yang kuat antara kebutuhan dan nafsu. Di satu sisi, kita memiliki kebutuhan yang kuat untuk belajar dan mulai menapaki karir / membangun aset, dan di sisi yang lain, kita juga haus akan nafsu duniawi baik itu yang positif ataupun yang negatif. Kita bisa memiliki nafsu dalam hal positif, seperti berorganisasi dan berjuang sepenuh hati di dalamnya (berorganisasi adalah nafsu, karena tanpa melakukannya pun, kita sudah dapat lulus) . Atau juga memiliki nafsu yang negatif, seperti dugem dan mabuk, pacaran sampai hamil, atau membolos sampai DO.

Dan para mahasiswa dikaruniai kelebihan yang luar biasa : membenarkan setiap tindakan berdasar nafsu yang diambil, dan kemudian dicari alasan yang logis untuk menjadikannya sebagai kebutuhan.

Karena itu, hanya hati kita yang dapat membedakan mana nafsu dan mana kebutuhan. Tanya pada hati kita kawan.🙂

1 Komentar

Filed under Freedom to speak

One response to “Kebutuhan Dan Nafsu

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s