3 Alasan Mengapa Sinetron Bisa Bertahan di Indonesia (1)

Well, teman-teman, seperti kita semua tahu, ternyata di Indonesia, Sinetron masih menjadi andalan bagi program televisi swasta. Beberapa stasiun televisi menampilkan sinetron di waktu-waktu yang tergolong ‘prime time’ dan bahkan, beberapa menyambungnya dengan sinetron lain yang ceritanya gag bisa dibedakan (intinya cuma cinta ABG yang dimanifestasikan dalam bentuk orang dewasa). Sungguh luar biasa kan dominasi Sinetron dalam dunia penyiaran kita ini?

Padahal, kalu kita lihat lebih dekat dan lebih dekat lagi, kualitas sinetron kita tidaklah istimewa. Artisnya cakep-cakep? Iya sih. Peralatannya lumayan mumpuni? Hmm, bisa juga dibilang kayag gitu. Tapi kalo kita udah mulai ngomongin alur cerita dan kekuatan dialog, i said big no for this show! Ya, alur cerita dan dialognya jauh dari mengesankan. Bahkan, saking sudah buruknya image sinetron di mata saya, beberapa sinetron yang diadaptasi dari novel ataupun film terkenal tidak terlihat bagus sama sekali.Well,anggap saja saya sudah skeptis (bahkan sinis) dengan yang namanya sinetron. Dari yang judul sinetronnya diambil dari nama tokoh utama, sampai yang judulnya diambil dari lirik lagu yang sedang hits, saya tidak suka.

ada yang tahu ini lirik lagu apa? bener sekali! lirik lagu SMOSH yang kemudian menjadi seven ikan,😀

Tapi sekali lagi, industri ini justru semakin marak di Indonesia. Walaupun kritik dari berbagai pihak terus mengalir, tetap saja yang namanya sinetron itu mendapat jatah waktu yang menguntungkan. Dan saya sungguh heran!

Karena itulah, saya membuat analisis kecil-kecilan tentang sinetron. Dan setelah bertapa selama beberapa menit di kamar mandi, kini saya mendapat pencerahan. Dan akhirnya, TAARAAA…. ijinkan saya mempersembahkan tulisan ini, 3 alasan mengapa sinetron bisa bertahan di Indonesia.

Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan sinetron Indonesia, karena kadang-kadang saya juga nonton kok, (Actually, i was forced to watch this to accompany my mother). Namun di sini, saya hanya ingin bersenang-senang saja.😀

Oke, tanpa basa-basi lagi, inilah 3 alasan mengapa sinetron bisa bertahan di Indonesia.

1. Sistem MLM yang luar biasa.

Loh, kok sistem MLM? Emangnya sejak kapan artis-artis sinetron jualan obat dan pulsa sambil presentasi pake jas? Weits, bukan itu maksud saya kawan. Sepertinya teman-teman sudah terlalu teracuni pikirannya setiap kali mendengar kata ‘MLM’.

entah kenapa, kata MLM selalu terafiliasi dengan orang berjas yang nawarin obat ke kita sambil teriak-teriak di dalam ruangan -___-

MLM itu kependekan dari Multi Level Marketing.Artinya, gag melulu pada jualan obat dan pulsa lalu presentasi sambil pake jas. Itu cuma salah satu contoh aja. MLM yang sebenarnya itu adalah sebuah gagasan unik yang berusaha memperkenalkan produk / jasa / muka / atau apapun yang ingin dikenalkan, lewat marketing yang multi level. Singkatnya, bisa lewat mulut ke mulut. Jadi, itu semacam pengenalan produk / jasa / muka/ atau apapun yang tidak melalui iklan. Hebat juga bukan?

Dan sinetron, ternyata memakai metode itu.

Loh kok bisa begitu? jangan sembarangan ngomong ya mas! Masak artis di samain kayag orang presentasi pake jas sambil teriak-teriak??

Ups, sabar kawan. Ini ada analisis tersendirinya.🙂

Jadi gini, kita tahu kan, kalo di dalam pembuatan sinetron itu, melibatkan banyak sekali orang. Iya kan? Ada artis yang jumlahnya mungkin puluhan (dalam beberapa sinetron yang epic mungkin ada ratusan), terus ada crew-crew yang jumlahnya pasti lebih banyak. Ada sutradara, penata lampu, penata suara, penata busana (sayang gag ada penata moral), dan lain-lain juga. Terus, masing-masing artis, pasti punya asisten kan? Jadi emang banyak banget orang yang terlibat dalam pembuatan sinetron yang kita hina-hina itu. Anggep saja totalnya ada 100 orang. Oh, oke, 200 orang setelah ditambahin figurannya. Banyak kan?

Sekarang, setiap orang itu pasti punya keluarga dan teman kan? Berapa jumlah keluarga besar dan teman kita? Jika melihat rata-rata friendlist di facebook, ada sekitar 500an orang. Nah, kita sebagai orang yang ikut andil dalam pembuatan sinetron, pasti berharap sinetronnya sukses donk, iya kan? Makanya, kita pasti ngajak seluruh keluarga besar kita, teman kita, dan mungkin juga fan kita (kalau ada, ingat, sekarang kita lagi bayangin diri jadi artis). Jadi mari kita kalikan kasarnya, 100 x 500 orang? 50.000 orang sudah menonton sinetron tanpa perlu iklan dan kampanye yang make konser dangdut dan kaos saringan tahu.

Nah, sekarang kita tambah lagi dengan jumlah yang diajak oleh para figuran. Biasanya, para figuran justru lebih bersemangat kalau dia dikasih tau bakal keliatan di sinetron (walaupun cuma satu tatapan mata dan itupun cuma kelihatan topi dan jaketnya). Tapi biasanya mereka sanagat senang, sehingga mungkin akan melakukan marketing dengan lebih gila lagi. Anggep aja, satu orang bisa ngajak 1000 orang, jadi 100 x 1000 orang? 100.000 orang menonton sinetron tadi.

150.000 orang dari 220 juta orang indonesia? Sounds ordinary eh? Memang sih, jumlahnya masih sangat kecil sekali, tapi  jangan lupa, efek MLM masih ada. Artinya, 1 orang teman artis bisa membawa orang lain lagi dan terus begitu sampai kita tidak tahu seberapa banyak orang yang akhirnya menonton sinetron karena efek MLM ini. Woa, That’ great!

Anda merasa ini tidak rasional? Coba sekarang bayangkan jika Julie Estelle (atau mungkin Primus Yustisio bagi yang cewek. Apa? terlalu tua? Baiklah, saya ganti dengan Anjasmara. Masih terlalu tua? Oke, penawaran terakhir, Adli Fairuz. Titik!) mengajak anda untuk menonton sinetron mereka. Tiba-tiba saja mereka SMS kita dan berkata, “Ihh, cakep, tonton sinetronku yak! Makaciiiiiih, :* (smiley cium)” (ehm, bagi yang cewek, silahkan bayangkan Adli merayu anda dengan cara lain,not that way). Lalu apa respon kita? Hemm, kalau saya, mungkin dengan hidung sedikit mimisan dan lidah melet-melet akan berkata, “Owleh Ulie!” (itu efek lidah yang menjulur ke depan, bukan karena saya Alay, catet itu).

So, wajar bukan teori MLM saya ini?😀

Berlanjut ke 3 alasan mengapa sinetron bisa bertahan di Indonesia (2)

3 Komentar

Filed under Freedom to speak, Gag jelas

3 responses to “3 Alasan Mengapa Sinetron Bisa Bertahan di Indonesia (1)

  1. Ditunggu penjelasan selanjutnya, kalo diitung referral masih jauh tuh dibanding jumlah penonton sinetron sebenarnya. Dan kebanyakan ada di desa-desa lho… banyak ibu-ibu dan nenek-nenek antusias banget kalo nonton sinetron. Bahkan ada yang ga tau itu artisnya siapa… :))

  2. Ping-balik: 3 Alasan Mengapa Sinetron Bisa Bertahan di Indonesia (2) | ian bood

  3. Ian Bood

    terimakasih atas apresiasinya mas🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s