Mahalnya Sebuah Kepercayaan

“Kepercayaan itu seperti kacamata, saat engkau memakainya, dia sama sekali tidak terlihat, bahkan kadang memberatkan mata. Namun, saat ternyata kacamata itu pecah menjadi serpihan kaca yang tak berguna, engkau akan merindukannya, dan engkau tahu, kaca yang pecah itu tidak akan bersatu kembali seperti sedia kala. Begitulah kepercayaan yang engkau miliki…”

Kepercayaan, sebegitu pentingkah kata-kata ini di dalam kehidupan? Bukankah sejak lahir, kita secara otomatis akan mendapatkan kepercayaan itu? Bahkan, kadangkala tanpa bersusah apapun, kepercayaan dari orang-orang akan datang sendiri. Lalu mengapa, kepercayaan terkesan begitu penting? Lebih penting dari baju zirah yang dikenakan prajurit perang, atau dari bulu yang melindungi beruang kutub dari dinginnya udara di pucuk dunia? Mengapa begitu?

Tanyakanlah pentingnya kepercayaan pada para Tahanan Politik di Era Orde Baru. Setelah mereka keluar dari penjara, KTP mereka diberi tanda khusus sebagai mantan tapol, dan apa yang bisa mereka lakukan di negara? Tidak ada. Ya, mereka hanya bisa pasrah, melihat kepercayaan yang melekat pada diri mereka, sudah hilang dari penglihatan orang-orang.

Memang, mendapat kepercayaan itu mudah, menjaganya yang susah.

Kita bisa saja memaafkan kesalahan seseorang, namun melupakannya mustahil. Apalagi, memberikannya kepercayaan kedua.

Simak saja kisah Wahsyi, sang ahli tombak ulung kota Mekkah yang begitu tenar namanya. Di saat Rasulullah dengan pasukan berimannya menaklukan Mekkah, dia berlari, pergi menyelinap meninggalkan Mekkah, berlindung di benteng megah dataran tinggi Thaif yang kokoh. Untuk beberapa saat dia aman di benteng itu. Sampai para petinggi Thaif tahu, menembus benteng Thaif hanyalah soal waktu. Pasukan Jazirah Arab sudah bersatu di dalam komando sang nabi, dan mengepung benteng kokoh itu. Perlahan tapi pasti, petinggi Thaif sadar, sudah saatnya untuk mengakui kekalahan mereka kepada sang kekasih Allah. Dalam kegamangan itulah Wahsyi sadar, bahwa meminta pengampunan Muhammad Al-Amin adalah satu-satunya cara agar dia bisa selamat. Dia takut, pada dosa masa lalunya. Dia takut pada kenyataan, bahwa dia adalah sang pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi yang selalu menjadi pelindungnya.

Dalam ketakutan itu Wahsyi merendahkan diri. Menghadap Muhammad SAW dengan penuh pengharapan akan diampuni. Dalam permohonannya dia memanggil lagi memori gelapnya ketika melemparkan tombak kepada Hamzah, lalu merobek dadanya dan memberikan jantung orang besar itu kepada Hindun, yang kemudian dengan menjijikkan memakan jantung sang paman. Keberaniannya dulu telah sirna, kini Wahsyi menghadap nabi dengan penuh kerendahan diri, membiarkan nasibnya ditentukan oleh keputusan Rasul, yang diyakini juga keputusan Tuhan.

“Celaka,” kata Muhammad memcahkan keheningan yang tercipta setelah Wahsyi menyelesaikan ceritanya. “Pergilah engkau dariku, jangan sampai aku melihatmu lagi.” (Abu Bakr Siraj Al-Din, Muhammad, bab sesudah Tabuk)

Sesak. Wahsyi menahan tangis dan perasaan yang bergemuruh di dadanya yang hitam legam. Dia dimaafkan, tapi kesalahannya tidak dilupakan oleh Muhammad SAW, tuan yang mudah memaafkan.

Wahsyi telah kehilangan sebuah kepercayaan dari orang nomor satu di dunia. Orang yang namanya dipuji di bumi dan di langit. Namun dia tidak berputus asa, Allah telah menggariskan garis epik kepahlawanan untuknya. Dia berhasil membunuh Musailamah Al-Kadzab, si nabi palsu yang entah kenapa, virus kesesatannya masih hidup hingga kini.

Kepercayaan yang hilang, juga kerap membekas dalam sebuah hubungan percintaan. Lihat saja pada kisah cinta Kebo dan Kambing. Kisah cinta dua tahun yang diabadikan rapi dalam buku kambing jantan milik Raditya Dika, kambing jenaka yang penuh inspirasi.

Dalam kisah cintanya, kambing melakukan kesalahan yang besar. Cukup besar untuk menjadi alasan berakhirnya sebuah hubungan. Kebo marah tak terkira, ragu akan cinta kambing yang melenakan. Dalam ketidakpastian itu, Kambing mengorbankan semuanya, melakukan perjalanan antar benua yang melelahkan, hanya untuk meminta maaf kepada Kebo. Dan Kebo pun luluh. Kata maaf keluar dari mulut manisnya. Akan tetapi, Kebo hanya memaafkan, tidak melupakan!

Artinya? Tingkat kepercayaan Kebo terhadap Kambing, sudah tidak seperti dulu lagi. Semuanya sudah berubah…

Tidak dipercaya itu sakit. Sungguh sakit. Akan tetapi, kepercayaan yang dihianati jauh lebih menyakitkan. Seperti ditusuk jauh ke dalam hati, dengan jarum tajam yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Menyakitkan…

Dan membekas.

Hai, orang yang menyia-nyiakan kepercayaan, tidakkah kau lihat, betapa hancur dirimu setelah membakar kepercayaan itu? Dalam detik pertama, mungkin engkau akan merasa lebih baik, namun dalam putaran setelahnya, engkau akan sadar. Penghianatanmu hanya akan menghancurkanmu. Menggerogoti keyakinan dirimu sendiri, dan menyempitkan duniamu.

Saat kau mematahkan rasa percaya orang lain terhadap dirimu, engkau akan sadar. Engkau sendirian di dunia ini…

Ya,

Mahalnya sebuah kepercayaan

3 Komentar

Filed under Freedom to speak

3 responses to “Mahalnya Sebuah Kepercayaan

  1. kepercayaan memang mahal..
    mahal untuk dibeli, dan mahal untuk dirawat..🙂

  2. kepercayaan mahal
    jika kita menyia nyiakanny kepercayaan itu so kita harus bisa menjaga kepercayaan yang telah di beri kan kepada diri kita🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s