Hari Tanpa Tanda Jasa

Hari ini adalah hari guru…

Itulah yang orang-orang bilang. Aku sendiri tidak tahu, apakah ini berlaku di seluruh dunia, atau hanya di Indonesia. Yang kutahu adalah, hari ini hari guru.

Hari ini adalah hari guru…

Sekali lagi, aku tidak tahu, guru seperti apa yang dimaksud di sini. Apakah guru yang harus mendampingi kita secara formal di dalam sekolah. Atau mungkin juga, guru yang ada untuk kita, bahkan tanpa kita sadari dan minta. Dari yang kulihat seharian ini, sepertinya guru yang menemani dunia studi kita lah yang lebih banyak dimaksud. Padahal, mungkin saja mereka mengajari kita karena satu hal : mencari penghidupan, nafkah yang layak untuk keluarga.

Hari ini adalah hari guru. Hari di mana banyak orang tiba-tiba merasa menjadi murid kembali. Menengok masa lalu mereka bersama guru masa lampau. Dan lupa akan guru yang ada di depan mata. Guru yang masih mendampingi hingga saat ini.

Hari guru, sebuah hari milik kita bersama…

***

Sebenarnya, hari guru bukanlah hari yang asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hari guru sudah pernah dilewati oleh sebagian besar warga negara Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan. Karena memang, hari guru selalu diperingati dengan indah di Indonesia.

Mengapa indah? Karena di hari guru, tidak ada pesta besar-besaran yang menghabiskan banyak uang. Karena di hari guru, tidak ada demo besar-besaran yang menuntut banyak uang. Karena di hari guru, yang ada hanyalah setitik penghormatan, untuk guru tercinta.
Hari guru terlihat seperti hari ibu, tidak pernah ada sebuah penyambutan bombastis, namun selalu mengena di hati. Bandingkan hari guru dengan hari valentine atau hari thanks giving? Ahh, tentu saja jauh sekali. Lalu, bagaimana kalau hari guru dibandingkan dengan hari buruh? Hemm, secara konteks cukup mirip, namun dalam prakteknya, hari guru kerap kali lebih lembut dibanding hari buruh. Walaupun mungkin, secara kontekstual, guru juga bisa berarti buruh.

***

Sebenarnya, jika menyebut guru itu harus berasal dari sekolah, aku tidak terlalu sepakat. Guru tidak hanya ada di sana. Guru juga tidak hanya terdapat pada dunia pendidikan yang lain. Seperti les, privat, bimbingan belajar, dan lainnya. Guru, memiliki arti yang lebih luas dari itu.

Aku yakin, kita semua tahu itu.

Saat kita baru terlahir di dunia dalam keadaan fakir dan papa, maka kita akan diajari hidup oleh orang tua kita. Bukankah mereka juga guru?

Saat kita mulai mengenal masyarakat, kita akan belajar cara menendang bola, cara memakaikan pakaian pada boneka, atau mungkin cara memanjat pohon, oleh teman kita. Bukankah mereka juga guru?

Saat kita mulai meninggalkan bangku sekolah, kita mulai mengenal orang-orang hebat yang menjadi inspirasi. Kita berkarya karena melihat mereka. Bukankah mereka juga guru?

Bahkan, kita juga bisa belajar cara membunuh, cara mencuri, dan cara memperkosa orang lain dari sahabat kita. Bukankah dia juga bisa kita sebut sebagai guru?

Guru, bisa saja memberikan pengaruh negatif dan pengaruh positif. Karena guru juga manusia. Karena guru juga adalah makhluk Tuhan.

Namun saat kita berada di hari guru, tentu hanya keindahan guru yang kita bicarakan. Karena hari guru, memang untuk mengenang keindahan guru.

***

Sungguh sedih rasanya, tepat saat mengenang hari guru ini, seorang guru yang telah menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk mengajar, berpulang ke Rahmatullah. Nama beliau adalah Bapak Asril Bugis, guru Biologi di SMA AL-Islam 1 SKA. Semoga amal beliau diterima di sisiNya, Aamiin. (ikut ngomong aamiin juga gag papa loh)

Sebenarnya, kenanganku dengan beliau bisa dibilang tidak ada. Pertama, karena aku tidak pernah diajar oleh beliau. Yang kedua, karena aku memang tidak peka terhadap guru-guruku. Namun ternyata, masih ada sedikit memori yang melekat tentang beliau. Beliau adalah orang yang sering menjaga ruangan ujian waktu kenaikan kelas. Aku ingat wajah beliau, selalu tenang dan penuh senyum saat menjaga kita. Tidak sedikitpun memberikan tekanan kepada mata kita yang sudah tertekan sejak awal. Ahh, aku juga ingat, dia pernah memarahiku waktu MOS (masa orientasi siswa), karena aku memakai celana yang terlalu panjang. Waktu itu walaupun dibilang memarahi, tetap saja aromanya hangat. Aku semakin ingat, beliau memiliki aura kebapakan yang kental. Pasti, keluarganya akan merindukan beliau.🙂

***

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Itulah peribahasa yang paling umum jika membicarakan guru. Dan aku setuju dengan peribahasa itu. Guru adalah panutan kita.

Namun seperti yang kuungkapkan di awal tadi, tidak selamanya guru menjadi teladan super bagi murid. Ada juga guru yang mengajarkan hal-hal tak senonoh, yang melukai mimpi seorang bocah. Lirih dalam kepolosan.

Lihat saja pada berbagai macam cerita di dunia. Guru memperkosa murid dibawah umur. Guru memukuli murid. Dan berbagai macam hal gila lainnya. Kita selalu hanya bisa geleng-geleng kepala meliahtnya. Itu dilakukan oleh seorang guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa!

***

Alangkah indahnya Tuhan, menciptakan hidup ini dalam berbagai warna. Langit yang kadang berwarna biru bersih, kadang berwarna biru terlampau terang, atau kadang juga menampilkan biru murung. Daun yang tidak hanya berwarna hijau, melainkan gradasi yang bertahap, dari hijau muda, menuju coklat. Warna matahari yang berbeda tiap jamnya. Hidup tidak pernah memiliki warna yang solid!
Pun juga pada guru, tidak ada yang serba hitam dan putih. Semuanya tersembunyi apik dalam balutan warna gradasi abu-abu. Ketidakpastian.

Pada hakikatnya, manusia memang tidak ada yang sempurna. Bahkan, pada gelar besar seperti guru pun. Ada titik gradasi yang tersamarkan dalam setiap fase kehidupannya. Yang entah dengan piciknya, kadang manusia men-generalisasikan dalam satu sebutan. Guru.

***

“Kalian harus ingat…” Kata salah seorang guruku di waktu SD. “Kalian harus ingat, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya mantan guru. Sampai kapanpun, guru kalian akan tetap menjadi guru!”

Alhamdulillah, aku ingat dengan jelas kata-kata ini.

Guru bukanlah tentang hitam dan putih. Bukan tentang satu warna solid yang berupa kepastian.

Selamat hari guru.🙂

5 Komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

5 responses to “Hari Tanpa Tanda Jasa

  1. Salam Ian..

    Wah, tulisannya elaboratif sekali😉
    Banyak ide didalamnya, saluuut..

    dan ya, tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru😉

  2. Angga cantik

    aku suka…😀

  3. Ian Bood

    aku juga suka🙂

  4. Ian Bood

    haha, banyak ide dan jadi tidak fokus ya? hihi,😀

    makasih sudah berkunjung mbak,😀

  5. Tidak mudah menjadi guru, menghadapi anak2 yang dinamis tentu berbeda sekali dengan pegawai yang menghadapi benda mati. Butuh keikhlasan, kesabaran dan keteladanan. Kebahagian seorang guru adalah manakala anak2 didiknya dapat mencapai tujuan dan cita2nya. Salam ..

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s