Indonesia VS Malaysia

Huft, setelah berlama-lama bermusuhan dengan waktu, akhirnya hari ini jadi juga saya menulis sebuah artikel. Karena lagi anget-angetnya soal Final Sepak Bola SeaGames 26 nanti malam antara Indonesia vs Malaysia, maka lebih baik saya juga mengikuti trend. Siapa tahu nanti traffic bisa naik? Hehe…

Well, sebenarnya saya tidak selatah itu juga. Ada alasan mengapa saya ingin menuliskan sedikit pendapat saya tentang Indonesia dan Malaysia. Saya ingin sedikit menyinggung hal-hal sensitif yang membuat negara satu rumpun ini bisa bermusuhan dengan sengitnya dalam hampir segala lini. Tidak hanya pada sepakbola, namun juga aspek-aspek lain dalam hidup. Mungkin, tulisan ini akan cukup nyambung dengan tulisan saya yang terdahulu, bersatu dalam perbedaan.

Oke, sekarang mari kita membicarakan tentang Indonesia vs Malaysia. Mengapa kedua negara ini bisa berseteru begitu hebatnya? Apa yang menyebabkannya begitu? Apakah ada sebuah sejarah khusus antara keduanya? Sebelum membahas lebih jauh lagi, marilah kita tengok, isu-isu apa saja yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia.

Dalam perspektif saya, Malaysia beberapa kali membuat kesal warga Indonesia dengan berbagai macam kegiatannya. Sebut saja pada beberapa usaha mereka untuk mengaku-ngaku kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, juga ada beberapa usaha Malaysia yang ditulis oleh media Indonesia seabagai usaha untuk menggerogoti daerah kekuasaan Indonesia. Mungkin, berita di Malaysia juga tidak beda, di mana Indonesia dianggap seperti penjahat. Saya yakin, media dari keduabelah pihak pastilah terhegemoni dalam kondisi masyarakat yang rata-rata sudah saling curiga.

Secara logis, saya benci dengan Malaysia yang seperti itu. Tapi mungkin perlu kita ingat, bahwa bukan Malaysia sebagai keseluruhan yang melakukannya. Yang melakukannya adalah oknum-oknum pemerintah Malaysia. Hal ini tidak ada bedanya dengan fakta bahwa saya benci anggota DPR Indonesia yang suka seenaknya. Atau fakta bahwa saya benci pada banyaknya pejabat negara yang korup. Mereka dari Indonesia dan saya benci. Benar-benar benci!

Jadi, dari pernyataan saya diatas, saya coba mengungkapkan pada dunia bahwa, kita tidak suka pada orang berdasarkan apa yang telah dia lakukan, bukan karena dia berwarga negara apa.

Bukankah kita tahu, ada banyak warga Malaysia yang juga berbudi luhur. Contoh konkritnya adalah para mahasiswa yang sedang berjihad di Indonesia. Mereka dengan penuh perjuangan menuntut ilmu di negeri orang, dengan ketakutan suatu saat akan dihajar oleh massa Indonesia. Perlu kita tahu juga bahwa banyak pengusaha Malaysia yang berinvestasi di Indonesia dan memberikan lapangan pekerjaan bagi kita. Well, dari pandangan negatif kita akan melihatnya sebagai penjajahan. Tapi dari segi yang lain, kita akan tahu bahwa Malaysia dan Indonesia memliki banyak kerjasama yang bersifat positif.

Sekarang mari kita buat sebuah logika yang terbalik, pilih mana, warga Indonesia yang berkelakuan bejat dan tak tahu malu (saya rasa tidak perlu disebutkan contohnya) dengan warga Malaysia yang jauh-jauh datang dari negerinya untuk belajar, sekaligus menghidupi ratusan warung makan di Indonesia? (tak bisa kita pungkiri, mahasiswa bagi sebagian warung makan sekitar kampus adalah wakil Allah dalam memberi rezeki)

Karena itulah, saya berharap kita tidak terjebak pada nasionalisme sempit yang mengecilkan peran negara lain. Janganlah kita terjebak pada doktrin Ganyang Malaysia yang jelas-jelas dulu sudah gagal di era Soekarno. Ya, Soekarno tidak berhasil menjalankan ganyang Malaysia, bukan karena kita lemah, tapi karena kita tidak seluruhnya sepaham dengan sang proklamator. Buktinya, saat kita sepaham, gerakan membebaskan Irian Barat justru berhasil. Padahal lawannya bukan main-main, sekutu! Jadi, Ganyang Malaysia yang dulu sudah gagal untuk apa kita sekarang coba bangkitkan kembali??

Bukan karena kita dibilang serumpun, maka kita harus berdamai. Tapi karena kita semua sama, sama-sama meminjam bumi Allah. Indonesia bermain bola melawan Malaysia, siapapun yang menang, itulah sepakbola, ya hanya sepakbola. Bukan ‘perang yang diwakilkan dalam lapangan hijau.’

Indonesia berjalan beriringan dengan Malaysia? Why not??

Ayo bangun dunia di dalam perbedaan jika satu tetap kuat kita bersinar!😀

Dan sebagai penggemar sepak bola, saya berharap nanti malam Indonesia bisa menang, sportifitas!🙂

7 Komentar

Filed under Freedom to speak

7 responses to “Indonesia VS Malaysia

  1. Gak apalah, walaupun kita kalah, timnas garuda U-23 sudah bermain bagus sekali.🙂 Memang lagi apes aja.😀
    Saya harap timnas U-23 ini dan jajaran ofisialnya gak dibubarkan. Semoga PSSI mengerti itu.😐

  2. Ian Bood

    iya mas, tetap semangat untuk timnas garuda muda,🙂

  3. kita semua serumpun, kita semua ASEAN, bila kita berpecah belah maka banyak korban…
    LEBIH BAIK BERSATU

  4. Ian Bood

    sepakat mas, bersatu!😀

  5. Seharusnya , kita menghormati sesama , kita dan malaysia tidak boleh bermusuhan , tidak ada guna nya kita dan malaysia saling membenci dan tidak Menghormati , kita harus bekerja sama dengan malaysia , kita harus baik baik dengan malaysia !!!!.

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s