Bangkit dan Percaya

Bangkit dan Percaya

Hari ini hari minggu, hari di mana banyak orang pergi berlibur. Hari di mana orang-orang dengan riang gembira pergi bersenang-senang. Piknik bersama keluarga, ataupun mengerjakan pekerjaan rumah yang sering ditinggalkan dikala pekerjaan profesional menunggu, semuanya asik. Hari ini adalah hari yang indah, hari yang dinantikan oleh banyak orang.

Tapi, itu hanya berlaku bagi orang yang sehat. Tidak bagi orang sakit sepertiku…

Aku cukup beruntung. Di kala sakit menderaku seperti ini, aku tidak sendirian berada di dalam kamar. Menangisi kesendirianku, dan bertapa karena memang tidak ada hal lain yang dapat dilakukan. Aku memiliki keluarga yang super, perhatian, dan baik. Ada ibuku, ibu paling cantik dan baik sejagat raya. Juga ada kakakku yang tulus mencintaiku. Dan khusus untuk hari minggu ini, ada teman-temanku! Yeah!

Hari ini ada dua orang yang berkunjung, namanya Zhy dan Jaki. Keduanya merupakan teman SMA. Ya, karena aku kuliah di Yogya, maka tak aneh jika di Solo aku tidak dijenguk oleh teman Kuliahku. Lupakan teman-teman yang memang jauh di luar kota sana, sekarang biarlah aku fokus pada dua sahabat yang ada bersamaku ini. Sebenarnya, aku cukup terharu mereka datang menjenguk.🙂

“Emang gimana kecelakaanmu?” Tanya Jaki.

***

Hari ini hari Sabtu, aku baru saja selesai menghadiri Hearing Anggota Koperasi Kopma UGM yang tercinta. Dan entah mengapa, aku merasa harus segera kembali ke Solo. Mumpung masih siang, kalo sore keburu hujan. Ujarku dalam hati.

Langsung saja, kupacu motorku menuju Solo.

Akan tetapi, tanpa kuduga langit semakin mendung. Awan hitam menyelimuti keindahan kota Klaten yang terkenal dengan jargon Bersinarnya. Di dalam balutan awan mendung yang gelap ini, Klaten seperti kehilangan sinarnya.

Dalam beberapa menit, awan hitam pekat itu berubah menjadi hujan. Karena membawa laptop, tanpa pikirpanjang lagi, aku langsung mengeluarkan Mantolku. Aku tak mau Laptopku rusak karena kemasukan air hujan. Lagipula, sedia payung sebelum hujan lebih baik kan? Hanya saja, pada kasus ini, payung diganti mantol, dan sebelum hujan diganti dengan gerimis. Ah, sudahlah, mengapa aku harus membahas hal tak penting ini?

Hujan semakin deras dan deras. Aku mulai tidak sabar. Aku yang sudah hafal dengan rute yang kulalui, tahu bahwa aku sudah dekat. Karena itulah, aku memacu motorku dengan lebih, lebih kencang lagi! Sampai-sampai, aku lupa bahwa ban depanku sudah halus!

Lalu muncullah momen itu. Dalam sebuah kesempatan, aku memacu motor cukup kencang. Lalu kulihat mobil yang didepanku mengerem dengan cukup mendadak. Aku kaget, kucoba tekan rem sekuat-kuatnya. Berhasil, motorku berhenti pada waktunya, namun…

Banku selip!

Aku terpelanting!

Memutar dan terseret! Hingga aku serasa bermimpi.

Sesaat aku membuka mata, aku dapati tubuhku babak belur. Motorku masih menghimpit kakiku. Awalnya, aku sempat mencemaskan laptopku. Namun pada detik berikutnya, saat aku merasakan kaki kiriku benar-benar sakit sekali. Aku tepis semua kekahawatiran terkait barang-barangku. Kini yang kucemaskan adalah kakiku! Dan bagaimana aku melewati ini semua!!

Aku mencoba untuk bangkit, tapi tak bisa. Aku rebahkan diriku. Aku tersungkur di tengah jalan provinsi yang menghubungkan Yogyakarta dengan Jawa Tengah…

***

“Jadi Lu cuma tiduran doang gitu? Nungguin ditolongin?” Celetuk Zhy memotong ceritaku.

“Iya, mau gimana lagi?” jawabku dengan pertanyaan balasan.

“Enak amat hidupmu. Cuma tiduran doang gitu, haha!”

“Sialan!”

***

Hari hujan deras dan berada di pinggir kota. Sebuah kondisi yang tepat untuk membuatmu kesulitan mendapatkan pertolongan di saat kecelakaan. Aku menunggu beberapa detik dan belum ada yang datang menolong. Aku mulai pasrah pada nasib. Bukan tidak mungkin, aku akan terlindas motor dan mobil lain di sini. Pikirku dalam hati. Aku pasrah…

Hingga akhirnya kudengar suara dari seberang jalan. Aku tahu, itu adalah suara orang yang akan menolongku. Huft, aku masih dibiarkan hidup di dunia.

Kemudian seperti layaknya adegan pasca kecelakaan lainnya. Aku melihat orang-orang memapahku dan membawakan motorku. Tidak mencurinya, hanya meminggirkannya di tempat yang aman. Saat mata dan otakku mulai sinkron, aku baru sadar. Ternyata mereka adalah anak-anak SMK! Anak-anak yang selama ini kupandang miring karena suka nongkrong di warung dan di bengkel sambil memodif motor orang tua mereka, ternyat kini menjadi penyelamat bagiku.

Namun, adegan indah itu segera berakhir. Dalam hitungan menit yang lain, aku tiba-tiba ditinggalkan sendirian dalam keadaan masih terluka dan motor yang sedikit cacat.Huft, ini aku beneran masih dibiarkan hidup di dunia enggak sih?

Untungnya Allah memberiku kekuatan. Hingga akhirnya aku mampu membawa toti ke bengkel, lalu melanjutkan perjalanan ke RS terdekat, hingga akhirnya aku sampai di rumah dengan selamat. Aku memang masih dibiarkan hidup di dunia, bahkan dengan sedikit olahraga supaya badanku lebih bugar.

***

Saat hari Minggu beranjak sore, awan semakin menghitam. Aku mafhum jika kedua temanku ingin segera pulang. Karena itu, kulepaskan kepergian mereka dengan senyum. At least, they make me happy today!

***

Malamnya aku terjebak dalam perenungan. Ternyata, setelah aku berpikir dengan lebih jernih, masih banyak hal yang harusnya kusyukuri.

Untunglah motork masih dalam kondisi cukup bagus setelah tabrakan. Bayangkan jika dia mogok ataupun tidak bisa bergerak sama sekali setelah tabrakan?

Untunglah laptopku (jayan) tidak apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan akan bagaimana aku tanpa laptop yang menjadi pusat karyaku selama ini.

Untunglah aku masih bisa berjalan. Seandaianya aku mengalami patah tulang serius. Seandainya aku mengalami luka sobekan yang lebih parah.

Untunglah gigiku tidak ada yang hancur. Untunglah aku membawa uang. Untunglah ada banyak orang baik yang menolongku. Untunglah aku dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat. Untunglah tidak ada polisi. Untunglah…

Ahh, banyak sekali kata untunglah dalam perenunganku malam ini. Ternyata, memang masih banyak hal yang dapat kita syukuri dalam sebuah bencana. Yang terpenting adalah, bagaimana kita mengambil hikmah dari bencana yang datang menimpa kita.

Sebagai penguat rasa dalam hati, kuputar lagu SID yang sesuai dengan kondisi ini. This song called : Bangkit dan Percaya.

Kubertanya pada bintang ketika ia padam, arti hidup yang kita jalani
Kebencian yang takkan pernah mengering
Hilang semua, Tuhan kau ada dimana…

Amarah yang tak tertahan, kematian langitpun hitam
Atas nama cinta dan harapan yang tenggelam
Ku kan bangkit, dan percaya….

Oooh, segenggam harapan
Takkan pernah menyerah, terus kubertahan
Sampai ini berakhir, dengarkan hatiku
Kita semua berbeda, tak pernah ku menginjakmu.

Kulihat jelas kepedihan di matamu, jalan gelap lalui bersama
Dan sahabat ia pergi meninggalkan ku
Kan kukenang sampai nafasku berakhir

Gelapnya dosa dunia, matahari akan bersinar
Atas nama cinta dan harapan yang tenggelam
Ku kan bangkit, dan percaya….

Oooh, segenggam harapan
Takkan pernah menyerah, terus kubertahan
Sampai ini berakhir, dengarkan hatiku
Kita semua berbeda, tak pernah ku menginjakmu.
Hilangkan kebencian.
Tak pernah ke menginjakmu.

Indah bukan lagunya? Lagu yang mengajari kita untuk bangkit dan selalu percaya dengan masa depan setelah ini. Ya, kita harus selalu bangkit dari keterpurukan yang datang, dan tak berhenti percaya untuk menyongsong hari esok.

Meskipun ada satu kalimat yang tidak kusuka. Yaitu kalimat di bait awal yang berbunyi “Tuhan kau ada di mana” menurutku itu adalah kesalahan. Tuhan selalu ada bersama kita, hanya saja, kadang kita yang justru tidak membersamaiNya. Tuhan selalu ada.

Pada akhirnya, kita mungkin harus ingat pada dua buah kata bijak yang cukup terkenal.

Yang pertama, luka yang tidak membunuhmu hanya akan membuatmu makin kuat.

Yang kedua, Ini bukan tentang seberapa kuat kau jatuh, tapi tentang seberapa kuat kau mampu bangkit setelah terjatuh…

***

Hari ini hari senin, hari dimana orang-orang sibuk akan pekerjaannya. Dan aku di sini hanya berdiam diri. Namun aku bahagia, karena aku tahu, masih ada kesempatan lain bagiku untuk memberikan kebermanfaatan. Karena kita harus bangkit dan percaya.

2 Komentar

Filed under Freedom to speak

2 responses to “Bangkit dan Percaya

  1. Yang paling menyenangkan adalah bagian paling akhir dari untunglah yang disebutkan. Untunglah tidak ada polisi. Wkwkwkwkwk…🙂

  2. Ian Bood

    haha, bener sekali mas! Kalo ada Polisi, udah urusan jadi panjang, berbelit-belit, juga keluar biaya ‘gag jelas’😀

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s