A Little Tribute To Ahmad Mushofi Hasan

Bismillah,

Sebenarnya sudah lama saya berniat menuliskan hal-hal seperti ini. Alhamdulillah, baru sekarang bisa kesampaian, hehe.

Tak terasa sudah hampir tiga tahun saya ngeblog. Petualangan saya sebagai netizen pun sudah lumayan. Email, akun FB, akun Twitter, dan bukti-bukti otentik bahwa saya memiliki on-line presence telah bermunculan. Sedikit banyak, itu menegaskan bahwa saya cukup melek internet (walaupun masih sekedar permukaan saja). Dan tentunya, semua ini memiliki awal. Dan jika bercerita tentang awal saya berkenalan dengan internet, saya tidak akan melupakan jasa anak ini, Ahmad Mushofi Hasan.

Mengapa Ahmad Mushofi Hasan? Karena sejak awal, dialah yang pertama kali mengenalkan saya dengan tempat bersejarah yang pasti mengubah hidup banyak orang. Tempat itu sering disebut dengan sebutan : warnet.

Dulu, satu-satunya rental pemakaian barang elektronik yang saya kenal hanyalah rental PS (playstation). Namun dalam sebuah kesempatan, Ofik (begitu panggilan akrabnya), mengajak saya untuk mampir ke sebuah warnet. Anak 12 tahun main ke warnet? Mungkin di masa sekarang lazim, tapi tidak di masa itu.

Di dalam warnet itu, dia mengenalkan saya dengan sistem billing warnet yang berbeda dari PS. Kalau PS, kita menyewa berdasar satuan jam. Jadi kita menyewa 1 jam, satu setengah jam, atau beberapa jam yang lain. Sedang warnet, kita bebas memilih billing, jadi begitu selesai, langsung saja pulang. Tidak harus menunggu satu atau dua jam lagi, (tapi jangan lupa bayar dulu) hoho.

Di warnet, kita hanya melakukan dua hal : membuka situs ngakak.com (atau .net? saya lupa) yang isinya humor-humor dan juga chatting via mlrc. Itulah pertama kalinya saya menemukan keasikan ngobrol di komputer. Di mana kita bisa ngobrol dengan orang-orang di berbagai kota tanpa terkendala apapun.

Serunya, di dalam MLRC itu, kita menyamar menjadi wanita. Itulah hebatnya MLRC, privasi kita sangat dilindungi, wkwkwk! Dan kita mengerjai cowok-cowok kesepian yang mencoba mencari jodoh lewat chatting buta. (kalau kawan-kawan ada yang pernah merasa tertipu di MLRC, barangkali itu kita, haha)

Ofik, mengajari saya banyak hal. Dan dari pengalaman pertama itu, saya mendapat banyak hal baru. Setelah itu, kami pun sering menghabiskan waktu di warnet. Meskipun tidak terlalu sering. Asal kawan-kawan tahu saja, Ofik itu waktu kecil sudah sangat disiplin. Dia memiliki jadwal khusus untuk belajar, tidur siang, bermain, belajar lagi, tidur malam, dan sebagainya, pokoknya top deh!

Dia merupakan teman saya sejak kecil, sejak saya masih TK. Saya sering menghabiskan waktu berdua dengannya. Main di rumahnya, lalu main ke rumah saya, lalu main ke rumahnya lagi, begitu terus sampai maghrib tiba. (bukan berarti kita homo loh, namanya juga anak kecil)

Dia sangat pintar, di usia 4 tahun dia sudah bisa membaca. (atau mungkin 3 tahun, entahlah, saya belum begitu pintar menghitung waktu itu) Bahkan saking pintarnya, saya selalu mengajukan persyaratan aneh dengannya. Jadi, dulu saya berlangganan majalah BOBO, dan saya belum bisa membaca. Jika kita bermain bersama, kita akan berpura-pura membaca majalah itu. Dan mungkin, karena saya sering kesal atau pun iri melihat dia bisa membaca dengan lancar, maka saya menyuruhnya untuk tidak membaca dengan benar. “Mocone di salahke wae Fik!” Membacanya dibikin salah aja Fik! Kata saya padanya ketika itu. Haha, benar-benar kekanak-kanakan, tapi wajarlah, lha wong saya memang masih anak-anak kok, hehe.

Kami juga memiliki hobi yang unik, yaitu bermain satria-satrianan. Apa itu? Jadi pada permainan itu, kita akan berakting layaknya kesatria baja hitam yang perkasa yang siap membela kebenaran. Musuhnya? Angin dan bayangan kita sendiri. Menarik bukan? Ahh, masa kecilku sungguh penuh dengan kekerasan, haha!

Kemudian waktu berlalu, dia masuk SMP 1 dan SMA 1, sekolah nomor wahid di Solo, sedang saya masuk AL-Islam, bagus, tapi biasa-biasa saja, hehe. Dia semakin sukses di Osis, Paskib, dan berbagai organisasi yang lainnya. Sedang saya menghabiskan waktu SMA saya untuk nongkrong dan main PS. Hingga akhirnya dia diterima di ITB, sebuah kampus yang memang pantas untuk dimasukinya.🙂

Kami masih beberapa kali berhubungan. Namun dalam beberapa waktu ini, intensitas hubungan sudah makin jarang kami temui. Saat terakhir bertemu dulu, dia masih belum lulus. Entah untuk sekarang. Ofik, where ever you are, i hope success and Allah will always be with you.🙂

Thanks for introducing me to a little thing called “Internet”.

Semoga sukses selalu kawan!😀

3 Komentar

Filed under Friends

3 responses to “A Little Tribute To Ahmad Mushofi Hasan

  1. setuju, selama 3 tahun mengenal musho (panggilan saya untuk mushofi, hehhe) memang dia pribadi yang mampu membuat kita semakin semangat untuk bermimpi, belajar, dan berusaha.🙂

  2. Ping-balik: A Little Tribute To Muhammad Agfian Muntaha Adiantho « Just kick it!

  3. “tribute” ?.. hahaha…
    wah, itu jaman di warnet dkt SMA Batik ya? nice..
    sukses terus, kawan..🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s