Pancasila (Dunia) Maya

two face

Sore, dalam balutan langit abu-abu yang mendekap erat kota Solo. Aku duduk tenang di dalam kamar, sambil sesekali melihat keluar jendela. Bekas hujan tadi siang masih terasa. Angin yang dingin, tanah yang basah, dan suara anak-anak kecil yang riang bermain ditemani tetesan air hujan yang menyangkut di dedaunan.

Aku merindukan sore merahku…

Semenjak hujan sering turun, memang sore merah yang merupakan distorsi sinar matahari tenggelam jarang kelihatan. Aku mencoba mafhum, namanya juga musim hujan. Langit akan lebih sering terlihat abu-abu dibanding biru dan merah. Kita tak perlu risau akan hal itu. Bersyukur, dan segalanya akan lebih baik.🙂

Dalam ketenangan ini, aku teringat akan sebuah postingan dari temanku yang ada di Yogya. Di dalam postingan itu, dia menyebutkan bahwa PSP UGM mengadakan lomba blog tentang pancasila. Aku kurang tahu detailnya. Mungkin akan lebih jelas jika di klik di sini.

Dan aku tertarik untuk ikut.

Maka, ijinkanlah aku untuk menulis barang sepatah dua patah kata tentang Pancasila. Sesuai tema, pembudayaan Pancasila pada generasi muda di era informatika. Semoga tulisanku bisa sedikit menggugah masyarakat untuk kembali menyadari pentingnya Pancasila di dalam kehidupan ini. Terutama untuk diriku sendiri.

Ditemani suara tawa anak-anak kecil di dalam suasana dingin ini, kucoba mengetikkan huruf pertama…

***

Pancasila Dunia Maya

Mungkin sebelum kita membahas tentang aplikasi nyata yang bisa dilakukann seorang netizen Indonesia untuk mengamalkan Pancasila, kita perlu membahas nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila terlebih dahulu. Tujuannya jelas, supaya kita lebih paham, nilai-nilai mana yang bisa disesuaikan jaman, dan nilai-nilai mana yang tidak bisa.

Menurut Moerdiono (1995/1996) dalam Mulyono (Undip), Pancasila memiliki 3 tataran nilai. 3 tataran nilai itu adalah nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis. Saya tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang ketiga nilai itu. Sedikit pembahasan cukup untuk menerangkan sekilas tentang 3 tataran nilai itu.

Nilai dasar adalah nilai yang sangat abstrak dan tetap, tidak terpengaruh oleh perubahan waktu. Nilai instrumental merupakan nilai konstektual dan juga turunan dari nilai dasar. Nilai Instrumental harus menyesuaikan jaman dalam kurun waktu tertentu. Sedang nilai praksis? Nilai praksis adalah sebuah pengaktualisasian Pancasila secara langsung dari, oleh, dan untuk masyarakat. Nilai ini bisa dibilang paling simpel dan bersifat langsung praktek.

Berdasarkan penjelasan di atas, mungkin kita semua bisa menarik kesimpulan, bahwa nilai yang dibahas di tulisan ini adalah nilai praksis. Selain karena langsung menyentuh keseluruhan masyarakat, nilai ini juga paling mudah berubah-ubah sesuai kondisi. Dalam waktu cepat ataupun lambat, pelaksanaan nilai ini dapat berubah dengan mudah.
Lalu bagaimana kita menerapkan Pancasila dalam kehidupan era teknologi informasi seperti sekarang? Sejujurnya, jika kita membahas ini dalam tatanan makro, akan memerlukan satu buku tebal, atau seminar satuh hari full bersama tiga pembicara ahli untuk membahasnya. Karena itulah, saya di sini akan berusaha membahas dalam bentuk kecil yang saya yakin kita semua pernah mengalaminya.Dalam kehidupan facebook, twitter, blog, dan berbagai forum on-line lainnya. Ya, di sanalah ranahan pembahasan kita, pancasila dalam kehidupan facebook, twitter, blog, dan berbagai forum on-line lainnya.

Di dalam dunia on-line, kita bisa menjadi sosok yang pancasilais. Mungkin kita semua masih ingat dengan kasus Prita. Di mana ribuan orang berjuang bersama untuk membela hak asasi seorang warga yang terdholimi oleh kekuasaan korporasi di Indonesia. Hukum Indonesia yang licin pun takut akan besarnya gelombang dukungan yang diberikan warga untuk mendukung Prita. Bahkan, uang puluhan juta pun kalah terhadap receh-receh yang dikumpulkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukankah kisah itu pancasilais?

Masih kurang contoh? Mungkin kita bisa lihat pada akun facebook dan juga twitter dari orang-orang hebat di Indonesia. Sebut saja Mario Teguh, Sandi Uno, Goenawan Muhammad, atau bahkan Pandji Pragiwaksono! Mereka adalah orang-orang yang menggelorakan semangat pancasilais dalam akun pribadi sosial media mereka!

Mario Teguh dengan Golden Waysnya, mencoba memberi motivasi bagi setiap pembaca untuk dapat terus berjuang bersama di negeri ini. Sandi Uno dengan gagasan Indonesia Setara yang luar biasa. Di mana menurutnya, Indonesia sudah saatnya setara antara potensi dengan kemakmuran yang selama ini belum setara. Dia ungkapkan semua idenya lewat Twitter, menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Goenawan Muhammad? Siapa yang berani meragukan sifat pancasilais yang dimilikinya? Kredibilitasnya sudah terbukti jauh sebelum media sebebas sekarang. Dan sikapnya dia paparkan semua di akun pribadinya. Pandji Pragiwaksono juga, menurut saya merupakan perwakilan pemuda yang peduli akan nasib bangsa. Pintar, lucu, dan jeli dalam mengkritik. Lewat Stand Up Comedy yang di upload di Youtube, dia telah menunjukan jiwa pancasilaisnya.

Wow, mudah sekali bukan untuk memasukkan jiwa Pancasila kita ke dalam dunia maya? Ya, memang mudah. Kita tak perlu menuliskan tiap-tiap butir Pancasila di dalam status ataupun tweet kita. Melainkan dalam tataran nilai praksis, kita bangun bersama negeri ini. Karena Pancasila adalah ideologi utama negeri ini. Maka, kecintaan terhadap negeri adalah perwujudan utama dari Pancasila itu sendiri.

Bahkan, Pancasila justru akan menyelamatkan kita dari nasionalisme buta. Seperti kita lihat pada kasus new7wonder.

Pancasila itu sejatinya ada bersama kita dan kata-kata kita. Tegakkan nilai Pancasila tanpa penyesalan, bumi Indonesia, bumi Pancasila! Indonesia pasti bisa!

***

Selesai. Kutengok keluar jendela kamar, hujan tidak turun, abu-abu masih sama. Lagi-lagi,sore merahku hilang. Pikirku dalam hati.

Bosan melihat langit abu-abu yang suram, kualihkan pandanganku pada layar laptopku. Di sana kulihat, jejeran sila dalam Pancasila yang indah. Indah sekali apabila kita memahaminya. Sayangnya, aku pun masih harus banyak belajar untuk lebih memahami dasar negaraku yang hebat ini.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Aku percaya Tuhan. Aku mencintainya. Tidak ada satu pun di dunia ini terjadi di luar kendalinya. Untuk apa kita mempertanyakan lagi perihal Tuhan? Toh, Tuhan tidak membutuhkan pengakuan kita, kita lah yang membutuhkannya.

Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Bom Bali menewaskan ratusan orang, jutaan dibuatnya menangis. Anak-anak kecil disuruh mengamen, hidup di jalanan, dipalaki preman. Orang-orang tua digusur rumahnya. Orang miskin dipenjara karena mencuri buah kakao milik tetangga. Orang kaya masih bisa pergi ke luar negeri setelah mencuri uang negara ratusan juta. Adil dan beradab…

Persatuan Indonesia

Tragedi Poso, GAM, NII KW9, Papua membara, tragedi 1998, pembantaian kaum etnis tionghoa, madura versus dayak, dan masih banyak lagi perang saudara lain yang mewarnai Indonesia.

Kerakyatan Yang Dipimpin…

DPR yang korup dan seenaknya sendiri dalam mengambil keputusan, tidak mempedulikan suara rakyat. Itulah yang sering kudengar di media massa.

Oleh Hikmat Kebijaksanaan…

Kabinet harapan bangsa yang terikat dalam kontrak politik.

Dalam Permusyawaratan Perwakilan!

Negara yang terus saja diolok-olok oleh bangsa sebelah!!

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Hening. Aku kehabisan kata-kata. Sesak.

“Pulang yuk! Udah maghrib nih.” Kata seorang anak kecil kepada teman-temannya.

Mereka pulang, beristirahat sejenak, untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan di negeri tercinta ini esok hari.

Apa kabarmu esok, Indonesia? Masihkah ada Pancasila di jiwamu kelak?

Solo, 11-11-11

4 Komentar

Filed under Freedom to speak, pendidikan

4 responses to “Pancasila (Dunia) Maya

  1. wah Ian selamat ya, blognya menang juara dua🙂
    hahaha artikelku kurang ciamik🙂

  2. Ian Bood

    hehe makasih nu, thanks buat infonya, aku taunya dari kamu loh,🙂

  3. Ian Bood

    thx gan, web sampeyan juga keren banget! like it!😀

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s