Graveyard Blues Vodkabilly

graveyard blues vodkabilly

One, Two

Langit masih mendung di jalanan sekitar Makamhaji. Desa terkenal yang entah kenapa diidentikan dengan kuburan. Mungkin karena namanya, seakan mengandung frase makam dan haji, makamnya para haji. Ah sudahlah, aku terlalu lelah untuk membahas salah kaprahnya pandangan orang terhadap desaku tercinta ini.

Langit masih mendung di sekitar Solo, dengan guntur sesekali menyambar. Seperinya, hujan tinggal menunggu waktu saja. Seakan-akan, para air di awan kini sedang dalam posisi ‘bersedia’ untuk melesat ke bumi. Aku sudah merasakan hawa dingin mereka di sini, di kamar mungilku yang bercat ungu, bekas kamar pengantin kakakku.

Namun, entah kenapa, hujan belum kunjung turun…

Kusempatkan untuk mengeringkan cucianku yang sempat tertunda. Lalu, kusambung lagi dengan mengisi gelas Tupperwareku dengan air putih, untuk menemaniku menulis di sore abu-abu ini.

Dan sekarang, ijinkanlah aku untuk segera mulai menulis. Sebuah cerita, tentang kebodohan masa lalu…

One,
Two,
Three,
Four

Aku masih ingat dengan jelas. Dahulu, dunia SMAku tidaklah selurus yang orang-orang bayangkan. Aku tidak menjalani kehidupan SMA dengan gelimang penghargaan ranking kelas dan juara lomba. Aku juga tidak melalui perjalanan SMAku dengan banyak beribadah dan beramal. Sebaliknya, kuhabiskan masa SMAku dengan penuh ketololan. Mengapa ketololan? Bukan karena aku mengejar-ngejar seorang cewek yang sudah jelas tidak mau menjadi kekasihku. Bukan pula karena aku jarang belajar dan lebih sering maen PS. Yah, walaupun harus kuakui, kedua hal itu sendiri juga merupakan ketololan. Namun lebih dari itu, aku telah melakukan hal yang jauh lebih tolol lagi.

Merokok…

Malam, gelap dingin mencekam
Kesepian seakan ingin berontak

Tidak, pengalaman rokok pertamaku tidak kulalui dalam settingan malam yang dingin dan mencekam. Sebaliknya, aku merokok pertama kali, justru saat matahari bersinar dengan cerahnya. Tidak ada suasana mencekam, yang ada adalah semangat untuk pergi ke pantai bersama teman-teman. Saat itu adalah pertama kalinya aku pergi ke pantai Parangtritis dengan menggunakan sepeda motor. Tentu saja aku nervous. Lalu, temanku langsung menyodori sebuah rokok putih yang tidak kuketahui merknya. Yang aku ingat hanya satu, aku akan malu jika tidak merokok saat itu!

“Koreknya habis, pake api rokok ini saja!” kata temanku. Aku pun dengan sok jagoan langsung menyambar rokoknya, menyambung rokok itu seakan-akan sudah terbiasa. Padahal belum…

Aku sama sekali belum pernah merokok waktu itu…

Akhirnya? Rokokku mati di tengah jalan. Aku sama sekali tidak menghisapnya, hanya sedikit menyedot, lalu langsung kukeluarkan. Akibatnya, api di dalam rokok juga semakin mengecil, hingga akhirnya rokok mati. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Namanya juga belajar.” Itulah yang pikiran bodohku katakan saat itu. Dan aku mengiyakan.

Bayangan merah dia t’lah datang
Belati menancap keras di dada
T’lah habis Vodka di tangan kanan
Dan ku suka dengar suara botol pecah
Hilanglah semua teman tercinta
Tinggalkanku dengan hati yang patah

Hari-hari kulalui dengan kebodohan yang sama. Aku masih terus saja melanjutkan asap rokok yang mengepul. Aku pun semakin mahir dalam merokok. Mau gaya asap seperti apa? Asap biasa? Asap mengepul dari samping, asap yang dikeluarkan sedikit-sedikit dengan gaya sok artis? Atau bahkan asap yang dikeluarkan dalam level tertinggi : asap berbentuk bulat. Aku bisa melakukan semuanya.

Tidak hanya sekedar asap. Aku juga semakin mahir memainkan rokok itu di dalam tangan. Putar kiri, putar kanan, putaran 360 derajat, hingga permainan dengan dua jari yang menawan. Aku bisa. Karena aku memang merokok untuk bergaya.

Ya, aku merokok untuk bergaya. Aku sama sekali tidak suka dengan rasa yang diberikan oleh rokok. Sensasi yang diberikannya? Tidak lebih dari sekedar sampah. Hanya asap-asap panas yang bodoh dan membuatku kadang ingin batuk (namun selalu kutahan, aku tidak mau malu karena itu). Di dalam pikiranku, sama sekali tidak ada kenikmatan merokok, selain untuk bergaya.

Karena itulah, aku selalu bersemangat untuk merokok di depan teman-temanku. Aku sering menghabiskan waktu istirahat untuk merokok di dalam WC bersama teman-teman yang lain. Satu rokok untuk disedot bersama-sama. Uhh, benar-benar menjijikkan jika kupikir-pikir sekarang. Sayangnya itu semua sudah terjadi. Mulutku, sudah pernah menghisap barang bodoh yang dibagi-bagi dengan mulut-mulut lainnya. Benar-benar menjijikkan. Sementara kadang aku tidak mau bebagi sedotan dengan orang lain.

Aku juga sering merokok di belakang sekolah. Dengan harapan akan dilihat oleh idaman masa laluku. Aku bergaya seolah-olah seperti preman kesepian yang terlihat keren jika merokok di depan orang lain. Namun aku salah besar! Jika sekarang aku membayangkan menjadi ‘dia’, mungkin inilah yang terlintas di kepalaku, “Orang itu makin lama makin hancur saja. Ternyata keputusanku untuk menolaknya adalah benar! 100 persen benar!” itu kemungkinan kedua terbesar. Kemungkinan pertama terbesar : Dia tidak memperhatikanku sama sekali!

Hahaha, aku tertawa
Sudahlah, setan pun tersenyum
Melihat, apa yang telah kulakukan
Terlambat, tanganku t’lah berlumur darah

Kehidupan bodoh ini terus berlanjut. Sampai aku kecelakaan. Sampai rankingku di kelas dua hancur lebur. Sampai keuanganku semakin bobrok. Sampai hidupku seperti tak berguna. AKU MERASA SEPERTI SAMPAH DENGAN KENYATAAN INI!

Ku bersumpah tuk menjadi lebih baik
Tapi ruang dan waktu tak membantu
Kuhembus asap rokok terakhir
Api ini tak akan pernah padam

Untungnya keajaiban itu datang, sindrome UAN telah menjangkitiku, dan membuat aku sadar. Aku semakin mendekat pada Tuhan, juga semakin menghindari hal-hal bodoh seperti merokok dan nongkrong tidak jelas, serta tidak lagi mengejar-mengejar idaman masa lalu. Aku lupakan semuanya. Dan mencoba untuk merajut mimpi baru, menuju UGM!

Akhirnya usahaku mencapai puncaknya pada saat UAN berakhir. Pengumuman kelulusan membaritahuku bahwa nilaiku merupakan terbaik paralel nomor dua se jurusan IPS. Bagaimana tidak bangga? Aku maju dan mendapat penghargaan sembari menggandeng tangan tua namun syahdu dari ibuku. Aku melihat air mata ibuku jatuh waktu itu, dan aku yakin, itu adalah mata air bahagia.

Sayangnya, ada sedikit cacat di puncak acara yang sempurna itu. Aku tidak mengenakan celana bahan yang bagus, melainkan memakai celana hitam kolor yang menjijikkan. Bodohnya aku.

Ada berita lain yang lebih menggembirakan dari itu semua, aku diterima masuk UGM! Ya, anak malas dan tidak berpengalaman ini berhasil disejajarkan dengan ribuan bibit unggul lainnya. Mulai hari ini, aku menjadi remaja dengan masa depan cerah, yeah!

Rokok? Aku sudah berhenti menghisap benda konyol itu sejak awal tahun. Artinya, sudah enam bulan lebih aku meninggalkannya. Haha!

Nekatku kebut motor setanku
Berharap inilah saat tuk berucap
Selamat tinggal kekecewaan
Tapi hati ini masih tak yakin

Kalian mungkin mengira hidupku mendadak menjadi sempurna saat aku melanjutkan kuliah di UGM. Sayangnya tidak.

Baru daftar ulang, aku kehilangan sebuah sepatu baru saat tidur di masjid Kampus. Dalam hitungan hari, aku sudah harus kehilangan Handphone Siemen A55 yang selama ini menemaniku. Eh, begitu selesai Ospek (setelah aku mengakhiri Ospek luar biasaku dengan menjad banci kampungan) aku lagi-lagi harus menerima kenyataan akan hilangnya dompetku. Padahal di sana ada banyak surat penting. Seperti STNK, SIM, KTP, ATM, dan uang 60ribu (aku masih ingat dengan persis). WADEFAK! Teriakku dalam hati.

Datang di Jogja dengan modal kosong. Aku seperti kehilangan arah (lagi). Apalagi ditambah dengan sulitnya aku menjaga ritme dengan pintarnya teman-temanku. Aku merasa menjadi orang paling bodoh di kelas. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan di kelas. Alhasil, di setiap mata kuliah, aku seperti orang dungu yang tidak sadar ada di mana.

Ahirnya, kuakhiri semester 1 dengan mengecewakan. IPK 2,67 bukanlah hasil yang memuaskan. Bengong dan tidur di kos adalah hal yang paling sering kulakukan di Jogja. Menunggu saat-saat weekend untuk dapat pulang ke solo adalah kebiasaan bodohku lainnya. Dan yang paling parah, aku melakukannya : aku merokok! LAGI!

Dan kali ini, aku merokok bukan untuk bergaya ataupun sok-sokan gaul dan sangar. Melainkan karena aku merindukan sensasinya. Aku merindukan rasa manis saat nikotin menempel di bibirku. Aku merindukan hawa panas yang menyerang kerongkonganku dan membuat malamku menjadi lebih hangat. Aku merindukan rasa aman yang ditawarkan sebatang rokok saat aku merasa gelisah. Aku merasakan rokok sebagai obat dari segala kesendirianku. Rokok, adalah sebuah inspirasi yang mungkin menggusur ketidaknyamanan yang selama ini muncul di hatiku.

Hahaha, aku tertawa
Sudahlah, setan pun tersenyum
Melihat, apa yang telah kulakukan
Hampir saja, berakhir nafas hidupku

Namun kawan, tidak selamanya periode buruk datang di hati dan hidupku. Akhirnya timbul juga masa di mana aku bangkit dari segala keterpurukanku. Dan kebangkitan itu, tidak lain adalah karena sodoran cinta yang begitu menentramkan hatiku. Dari si cantik.

Berawal dari bergabungnya aku di dalam sebuah organisasi bernama Koperasi “KOPMA UGM”, aku menemukan sebuah spirit baru di sini. Di tempat ini, aku menemukan cara untuk berbagi, cara untuk berkarya, dan cara untuk menikmati hidup. Diksar, Dikorg, Dikmen, Jalala, Part timer, LP, KDC, dan berbagai pengalaman lain yang kudapatkan di Kopma telah mengantarkan aku pada pribadi yang lebih menatap masa depan.

Dan puncaknya adalah pertemuanku dengannya…

Berawal dari FB, lalu dia menanyakanku perihal Kopma, hingga akhirnya kami jatuh dalam jeratan yang sama : cinta. Tidak mulus, penuh rintangan dan cobaan, namun itulah bagian asiknya. “Iye, aku mau…” adalah kata-kata seumur hidupnya yang mengawali hubungan indah ini. Kata-kata itu diungkapkan saat aku menyatakan perasaanku padanya.

Persetan dengan kepalsuan yeah….

“Mas pernah merokok?” tanyanya padaku suatu ketika.

Persetan dengan kemurnian

“Ya!” kujawab dengan apa adanya.

Kusadari semua, dalam hidup ini,

“Masih ingin merokok?” dia masih bertanya lagi…

kau hanya dapatkan apa yang kan engkau berikan!

“Sepertinya tidak…” kataku tidak yakin.

Hahaha, aku tertawa

“Kenapa? Kalau masih mau merokok gag papa kok. Aku juga ingin lihat mas merokok. Tapi, aku lebih senang kalau mas gag merokok sih.”

Sudahlah, setan pun tersenyum

Aku terdiam beberapa saat. Mencoba untuk memikirkan setiap kata yang akan kuucapkan setelah ini.

Melihat, apa yang telah kulakukan

“Selama ada kamu, aku berjanji tidak akan merokok lagi. Selama aku masih kuat, akan kutahan setiap hasratku untuk merokok!” Jawabku.

Dan hujan akhirnya turun membasahi Makamhaji, Solo, dan sekitarnya…

Hampir saja, berakhir nafas hidupku

Solo, 8 november 2011
Inspired By : Graveyard Blues Vodkabilly

7 Komentar

Filed under outsider

7 responses to “Graveyard Blues Vodkabilly

  1. Saya juga pernah merokok… dan itu kebodohan.😦

  2. ratna

    kebodohan tidak akan terulang 2x kan?? semoga tidak terjadi kebodohan ketiga, keempat atau seterusnya…^_^

  3. Ian Bood

    mohon doanya Ratna🙂

  4. intifada islam

    gan, itu lirik lagu sid pa ya yang “ha ha aku tertawa melihat apa yang telah kulakukan hampir saja mengakhiri nafas hidupku…….nanana tanganku berlumur darah…” SID yg judulnya pa ya ka? makacie…
    Facebook: nandapermana77@yahoo.co.id (intifada islam)

  5. Ian Bood

    Semuanya dari SID (Superman Is Dead) gan, hehe,🙂

  6. Ian Bood

    judulnya ya graveyard blues vodcabilly itu gan🙂

Silahkan berkomentar dengan sopan dan asik. Insya Allah gue bakal kunjungan balik :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s